Archive for November, 2007

memasak, sebuah pembelajaran…

November 25, 2007

soto-betawi.jpg

[berhubung aku lupa tuk mengabadikan hasil masakanku, sehingga mengutip foto dari beliau]

Tinggal di perantauan susah-susah gampang, apa lagi kalau berbicara tentang kebutuhan hidup khususnya perut. Tidak pernah terbayang sebelumnya akan jauh dari orang tua, biasanya dirumah tinggal duduk makan dan cuci piring[kadang] :D , gak pernah tuh namanya masak2, pokoknya tahu beres deh. Anak-anak kos diindonesia pada umumnya mudah sekali mendapatkan makanan, tinggal kedepan gang ada warteg, ato warung padang, selesai dah urusan, karena memang jatuhnya lebih murah. Berbeza Berbeda sekali dengan kebanyakan mahasiswa diperantauan, khususnya di jerman, karena mereka harus memutar otak untuk mengirit2 uang saku, sebab sebagian dari mereka tidak mendapat kiriman dari orangtua, sehingga mereka harus mandiri dengan bekerja. (nicht schlafen Kollega, arbeiten Jungs, und Geld sparen)

Kemarin aku cek di internet, apa saja bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk membuat soto, ternyata banyak sekali kutemukan resep, sangat melimpah ruah. Yah…. tema akhir pekan ini adalah memasak SoTo Betawi. Mengapa, karena saya asli betawi? enggak juga sih. Intinya sih membunuh rasa bosan di akhir pekan, sekaligus ingin bergoyang lidah, sebab seminggu penuh (tulis:hari kerja) dilalui dengan makanan khas jerman, roti… roti… dan roti….

Tidak sulit mememukan daging halal di karlsruhe, maklum lah, disini banyak sekali imigran turki yang membuka Laden (warung) klontong. Lalu tidak lupa memberli rempah2 sebelumnya kudapat list nya dari internet. Khusus untuk rempah2, bisa dibeli di toko asia, biasanya yang menjual orang thailand atau cina, lumayan lengkap walau tidak bisa dibandingkan dengan ditanah air, cuma itu loh yang gak kuat… muahalnya…. dan kebanyakan tidak dalam bentuk segar, melainkan dalam bentuk yang sudah di awetkan/dikeringkan ada juga yang sudah berbentuk serbuk, but never mind, gak banyak pengaruh kok. Sekaligus saja ku beli indomie, bumbu instant, trus apa lagi udah kayaknya, hampir semua barang yang tertera di list sudah aku beli, bahan2 pelengkap lain sudah aku beli di lidl. Jreng-jreng jadi deh masak soto!!!

Mahalnya biaya penguburan disini…

November 19, 2007

Hari ini seperti biasanya aku datang ke institut, agak terlambat maklum lah hari senin. Tapi enggak juga sih karena hari ini aku harus menemani mas bambang untuk lapor diri ke Kantor kecamatan dan membuka konto tabungan, soalnya dia khan pendatang baru, jadi harus segera lapor.

Minggu lalu Diplomvater-ku Dr. Goschnick passed away, gak nyangka begitu cepat, kabar dukapun segera tersebar ke seluruh working group di institut kami. Dari info kolega disini mereka sangat kehilangan ilmuan idealis dan cerdas ini, karena beberapa dari mereka adalah murid bimbingan beliau baik S3 dan S2 seperti aku ini. Waktu makan siang di dapur aku bertemu dengan beberapa kolega dan berbincang2 tentang beliau dan seluk beluk ttg perayaan kematian (Traurigfeiern) serta hal2 yang berkaitan ttg birokrasi jika orang telah meninggal.

Perlu diketahui ketika seorang meninggal, maka pihak keluarga menghubungi pihak kepolisian setempat apa penyebab kematian seseorang, kemudian dapat mengontak pengelola kuburan untuk dibuatkan termin/waktu kapan sang jenazah akan dikuburkan, jadi tidak semudah di tanah air. Pada tahun 2003 ketika gelombang panas melanda eropa, di negara perancis banyak sekali manula yang meninggal dunia diakibatkan gelombang panas tesebut. Pihak pegelola pemakaman pun mengalami kesulitan untuk menguburkan jenazah karena semua jenazah sebelumnya harus diverifikasi dan diatur apakah ada lahan kosong untuk penguburan. Kembali ke soal pemakaman tadi, bahwa sebelum pemakaman diadakan Traurigfeier/pesta kesedihan, pihak keluarga mengundang para sahabat dan handai taulan untuk hadir pada pemakaman jenazah pesta tersebut untuk sekedar hadir. Anehnya jika dibandingkan dengan kultur ditanah air, setiap orang baik itu keluarga dekat ataupun handai taulan, kolega/rekan sejawat dapat menghadiri upacara pemakaman. Tetapi di negeri ini hanya pihak keluarga dan kerabat dekat yang dapat menghadiri penguburan jenazah. Posesi pemakaman berikut segala administrasinya dapat menelan biaya kurang lebih 3000-4000 euro. Mahal sekali yah… pantes kolega diinstitut, jika ia meninggal, berharap dirinya dikramasin di kremasi saja, agar dapat menghemat biaya. Jadi, kalo kita boleh memilih agar jangan sampe meninggal di jerman, karena urusannya bakal repot. Cape deeehhh….

Endlich…

November 18, 2007

Sunday, October 01, 2006

Endlich…

Semester Ferien ist schon vorbei…

Akhirnya liburan semester panas tahun ini selesai, masa-masa kelam menjadi buruh rodi pun berakhir. 2 bulan yang tak terasa lewat sudah. Lumayan buat bertahan hidup di musim paceklik, alias winter. Hahahah alhamdulillah tahun ini ternyata lebih baik ketimbang tahun-tahun lalu. Tak terasa pula 3 tahun di negeri asing telah ku lalui. Berkurang pun umur bulan ini, 27 tahun yang lalu.. .

Semester ini, ada target besar yang harus kuraih, segera mulai thesis. Yang jelas di karlsruhe, karena gue udah keine Lust pindah2 kota, apa lagi jawaban-jawaban yang kurang positif dari perusahaan, membuat gue lebih memilih mengerjakan thesis di kota ini saja.

Yup semoga tahun depan bisa selesai, lengkap dengan semua embel-embel dan asesoris duniawi. Semoga lancar, insyaallah.

Karlsruhe 1. Oktober 2006

Kerja rodi

November 18, 2007

Tuesday, August 15, 2006

Kerja rodi

Biasa, pergi pagi pulang malam, itulah ya ku lakukan selama liburan, bak seorang eksekutif. Gaya sama gaji beda, ya ginilah hidup jadi seorang perantau di negeri orang, apapun yang bisa jadi duit diantem aja, asal jelas sumbernya.

Hahaha ternyata bukan gue aja yang ketipu para Schwein(sebutan untuk orang2 bule) juga. Asal tahu kita bisa2nya kerja dapet 10 dibayar 5, gampangnya gitu. Tapi udah tahu kyk gitu masih aja banyak orang yang lewat Zeitarbeit (penyalur tenaga kerja). Maklum ternyata kebanyakan Zugang (jalur) udah dikuasain mereka semua. Apa boleh dikata.

Semester liburan ini alhamdulillah gak banyak berbeda dengan semester ferien tahun lalu, ada aja firma yang mau tampung student. Awalnya juga gue lewat zeitarbeit, tapi emang belum jodo, baru empat hari kerja udah di PHK, biasa udah kagak ada kerjaan kata bossnya. Wir haben ueberhaupt keine Arbeit. Das ist aber Scheisse. Gak mau pusing pokoknya Scheisse egal dah, hilang satu, cari yang lain. Enaknya kerjaan yang sekarang meskipun lumayan cape tapi gak seberat yagn lalu, ada student juga yang kerja bareng gue, jadi gak sepi2 amat lah.

ilmu hadits

November 18, 2007

Tuesday, March 21, 2006

ilmu hadits

Sebelum tulisan ini dimuat, sebenarnya saya telah menulis sekelumit tentang perjalanan saya di heildelberg mengikuti clubbing yang diadakan sekali dalam sebulan oleh teman-teman disana, tapi apa ingin dikata, windows mengalami error, jadi mungkin tema selanjutnya adalah The War on Error. Pada clubbing tersebut tema sentral yang dibahas adalah ilmu hadits. Pada tulisan perdana saya pada tahun ini, sekelumit akan saya bahasa tentang ilmu hadits.

Hadits, merupakan sumber hukum kedua ummat muslim setelah Al-Qur’an. Penulisan dan periwayatan Hadits oleh para shahabat dan para tabi’in ini dilakukan dengan sangat hati-hati, karena tidak semua orang yang memiliki capability dan credibility untuk meriwayatkan hadits.

Kayaknya gue nulis sampe disini aja dah, keine Lust.

i’m back

November 18, 2007

Monday, December 26, 2005

i’m back

Wah udah hampir setahun gak nulis di blog, sebenarnya sih gue gak bisa nulis, butuh waktu untuk bisa menorehkan tulisan ke sebuah blog. Paling tidak hari ini jadi momentum untuk terus berlatih menulis.

soto daging kuah santan

November 18, 2007

Saturday, January 29, 2005

soto daging kuah santan

Syyyhhuup…

Bisa di dapatkan di dapur seleraku, mudah sekali membuatnya. Buat para bujangan resep ini bisa dijadikan contoh sebuah kemandirian, enggak tergantung sama bumbu jadi indofood, apa lagi sama pasangan kita :P . Pertama tama siapkan bahan-bahannya sebagai berikut:
- 500 gram daging khas potong kotak sesuai selera kira1,5-2 cm sisinya
- santan 100 ml, sebaiknya beli aja yg kotakan, kalo harus beli ke pasar trus diperes sendiri gak gunstig.
- ingat ini yg biasanya para bujangan enggak tahu namanya, BATANG SEREH! Beli aja setongkat, trus di bejek biar wanginya keluar, kalo mo irit bisa di belah dua jadi gak usah beli lagi.
- daun salam selembar
- kunyit, di iris2 kemudian di tumbuk, ini digunakan sebagai pewarna alami
- bawang putih, bawang merah kalo gak ada bawang bombay diiris tipis
- jahe, diiris tipis di bejek juga
- lengkuas juga iris aja trus di bejek juga
- cabe merah di haluskan kira2 2 biji, ato sesuai selera terserah!

cara masaknya gini:
- daging yg udah dipotong2 di rebus sampe empuk, masukin juga bawang putih yg udah di iris2 tipis tadi, trus asukin juga garem secukupnya, maksudnya biar bau amis dari daging direduksi, trus kalo ada busa-busa putih pas ngerebus daging di buang pake sendok bisar dagingnya gak amis
- masukin santen, jahe, lengkuas, kunyit, cabe merah ke dalam rebusan daging aduk-aduk trus baru masukin daun salam sama batang sereh, nah biasanya pas batang sereh dimasukkin kerasa deh wanginya …. mmm… mantab luar biasa!! :) )
- aduk terus sampe rata
- ini yg gak kalah pentingnnya, oseng brambang yg udah diiris tipis tadi di wajan dengan minyak secukupnya, jangan sampe gosong banget, cukup sampe coklat aja
- trus masukin gorengan bawang tadi ke dalam rebusan daging tersebut, aduk2 sampe rata
- cicipi rasanya, kasih gula secuil aja jgn banyak2, gimana udh enak belom kalo belum di modif lagi tambahkan kaldu sapi kalo perlu
- dah selese, soto daging kuah santan..
- terakhir, buat bujangan.. jangan takut… coba aja pasti berhasil

penutup
- hidangkan panas-panas di mangkuk dengan ditaburi daun bawang, ato seledri, bisa juga ditambahin irisan tomat, emping melinjo huuuuuuuuuuu enak….

selamat mencoba

Dapur selerakU \:D/

ich liebe in Berlin zu wohnen

November 18, 2007

ich liebe in Berlin zu wohnen

Berlin, den 2. Okt 2003
Assalamualaikum wr wb

Apa kabar kawan-kawan semua ?, satu persatu kita berpisah untuk bertemu kembali, suatu saat.., insyaallah. (pd saat nulis air mata hampir jatuh membasahi pipi)

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan selama 9 jam dari Regensburg ke Berlin aku tiba dirumah, disitu ada Robert dan Heru… Akhirnya aku bertemu kembali dengan mereka.
Sie haben mir gesagt: “was ist denn loss?” ich hab´ gesagt: “Alhamdulillah, endlich wohne ich in Berlin”

Itulah petikan pembicaraan kita sampai larut malam…… dan akhirnya lampu kamar pun dimatikan, dan kamipun tertidur berselimut dinginnya malam.

Regensburg dibelah oleh sungai Donau yang mengalir dari Freiburg sampai ke negeri ceko, kotanya indah sekali dengan rumah2 tua, kalau kita berjalan ke altenstadt kita akan dapati gang-gang seperti di indonesia. Cocok untuk belajar, apalagi…. m m m m sangat romantis.

Aku berjalan menelusuri gang2 sempit dan akhirnya tibalah aku di FH Regensburg, disitu Prof Schlicht telah menunggu ku, seraya berkata : resi bismo , oder??? Ich sagte: ja , ich bin Bismo.

Ada 9 kandidat yang diundang dan aku satu2nya orang asing di ruangan itu, dekan memberikan sambutan, dan satu persatu kandidat diperkenalkan. Tibalah saat wawancara, aku melihat salah satu kandidat termenung dan aku tanya, ada apa, hast du Gespräch abgelegt??? dia menjawab: Ich bin nicht abgenommen worden, kalo aku gak salah denger, artinya dia tidak lulus wawancar. Astaghfirullah…. orang jerman nggak lulus…!!!

Tibalah giliranku, am Anfang, alles ist ok, aber.. kemudian ketika mereka bertanya ttg scientific Deutsch, aku terbelalak… aku terdiam seraya berfikir apa yang mereka telah tanyakan padaku, disitu ada 3 prof. yang menguji…

Aku berusaha menjawab, tapi apa lacur….. bahasa inggrisku pun tidak keluar…. aku semakin terdesak dengan pertanyaan2 mereka, dan akhirnya ketua sidang memberikan hasil wawancara, Herr Bismo, kami kira anda tidak bisa memulai program master pada awal semester ini, kami tidak tahu apakah anda tidak bisa menjawab karena anda tidak mengerti bahasa jerman apa memang anda tidak tau!!!

Emosi, marah, kesedihan berhimpun menjadi satu dihati ini, seraya berkata dalam hati, ya Allah ini cobaan… aku harus bersabar. Jadi teringat pada pesan mbak Fairuz padaku: yo, jangan terlalu berharap, sayapun pernah mengalaminya dahulu, ketika itu saya gagal dlm wawancara. Aku berusaha menenangkan hatiku, kulihat kandidat yang lain bermuka ceria, dan yang gagal entah pergi kemana…Kemudian penutupan sidang, dan aku bergegas ke toilet untuk mengganti jas ku dengan jaket kesayanganku.

Akhirnya aku keluar dari Gebäude Seybo 2. dan berjalan menjauhi FH seraya membalikkan tubuhku dan menatap gedung dari kejauhan, tak terasa airmata jatuh membasahi pipi, lalu aku berjalan menuju Bahnhof pulang kembali ke rumah, Berlin tempat ku berteduh.

Teringat pesan orang tua waktu dirumah, kamu harus sabar, semua harus dilalui dengan perjuangan yang panjang…jangan lupa belajar, berusaha dan berdoa. Kembali aku mengenang dan mengingat orang2 sebelumku yang telah pulang dengan keberhasilan dan kegagalannya… pengorbanan mereka jauh lebih dasyat dari apa yang pernah aku alami, dan pengalaman mereka menjadi bekal tersendiri untuk selalu sabar, berusaha dan berdoa. Seperti apa yang telah terpatri dalam untaian2 indah yang berbunyi:

“Barang siapa yang bertaqwa kepada 4JJI SWT, niscaya dia akan memberikan kamu rezeki dari tempat/sumber yang tidak kamu sangka” (alqurán)

Buat Hana dan Citra, maaf tak misa mampir ke Freiburg, suatu saat insyaallah aku silaturahim ke sana.
Izhar Ghouzari, thanks a lot Guy… atas curhatnya dan ledekannya…
Tris, semoga Allah yang membalas seluruh kebaikkanmu pada ku
Mas Toto kapan kita belajar bareng lagi…
Heru,…. bangun ru udah siang,…. sholat subuh dulu!!
Robert,…. kapan kita ke rumah iwan di bintaro…
Bung Jeffri.. kapan tiba di berlin, i miss u…
Teh Wida.. minjem buku DSH Vorbereitungnya.. jangan dijual ya…
Buat Agung… kapan aku diajak jalan2 ke ceko
Terakhir, Amalia… m m m … sampai ketemu di kelas dan kapan kita ngobrol n curhat lagi, oh iya kalo mo belajar masak kasih tau ke heru nanti kamu lihat cara aku dan heru memasak, he he he …
Yang lain yang tidak aku kenal scr pribadi makasih banyak..
Juga buat mas2 semua dan mbak2 para calon Doktor makasih atas support dan doanya serta semua yang telah mendoakan aku… aku tunggu kerjasama selanjutnya di Berlin.

semoga bermanfaat,

Resi Ario Bismo
Putlitzstr. 14
4. Stock
10551 Berlin

siapa yang individualis…???

November 18, 2007

Pagi kemarin saya berangkat kekantor, seperti biasa, datang taro tas dan buka jaket, maklum musim dingin sekarang, sommer Zeit ist offiziel vorbei!!!. Trus ku nyalakan compie dan segera nge-print out beberapa lembar laporan, karena ada hal yang ingin kudiskusikan dengan kollega dikantor.

Segera ku turun ke lantai bawah untuk ambil hasil print out. Seperti biasa disana ada Sacha, ingineur asal moldova (Ex-USSR), dia menyapa, seperti biasanya, lalu dia mulai dengan sebuah informasi yang cukup mengagetkanku. ‘Hei, Ario weisst du dass unser Chef schon gestorben ist?’ ujarnya dengan suara dan datar seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ah was, loegst du dich oder was?’ ujarku. ‘Nein, uberhaupt nicht, ich erzahle dir die Wahrheit.’, lanjutnya. Begitulah kurang lebih percakapan kita jum’at kemarin.

Gak nyangka Mr. Goschnick pergi begitu cepat, karena serangan jantung, perasaan baru minggu kemarin dia sapa aku, bahwa dia akan pergi ke NY selama seminggu, dan dia menunggu report thesisku. God bye Mr. Goschnick.

Kembali ke pembicaraan ku dengan Sacha, aku bertanya padanya apakah dia akan menghadiri pemakaman beliau. Lalu dia berkata, ‘Ich weiss nocht nicht, ario, ob ich zum Begraben vorbeikommen kann’. Aku timpali kemudian, bahwa aku mau datang, pengen lihat gimana sih orang jerman dikuburr, sebab sudah 4 tahun gak pernah aku melihat penguburan. Sacha berkata: ‘weisst du ario, brauche ich nicht traurig zu sein, warum muss ich traurig, ich habe eigene Problemm, eigene Job und eigene Leben, ujarnya. Wah, gila juga nih orang, pikirku. Ternyata begini yah orang eropa, individualis, apa iya? apa ini hanya sekedar subjektiitasku saja ato bagaimana?. Menurutku tergantung kita melihat dari sudut pandang mana? Dari ucapan kollega Sacha tadi, jelas sekali ke-individualisme-an mereka. Bagaimana dengan sisi yang lain? seperti tunjangan sosial yang diberikan kepada para pengangguran? sekolah murah bahkan gratis? sarana transportasi yang nyaman, tingkat kriminalitas yang tinggi sangat rendah.

Bagaimana dengan di tanah air? jelas sekali jika tetangga kita meninggal tentu saja kita datang dan mengucapkan bela sungkawa, mendatangi penguburan, bahkan ikut tahlilan. Dari situ bisa dilihat sifat kekeluargaan bangsa kita. Tapi apakah itu mencerminkan kehidupan bangsa ini secara keseluruhan? jawabnya may be, yes may be no! Rasanya belum lepas dari ingatan kita tentang seorang bocah yang meninggal dirumah sakit, lalu karena tidak ada biaya, sang ayah menggendong anaknya yang sudah tidak bernyawa menaikin KRL jabotabek untuk dikuburkan di kampung halaman, maklum biaya penguburan di jakarta mahal, boss! Ternyata uang telah menumpulkan sensor hati nurani kita, sehingga dalam bahasa ilmiahnya, mungkin sensor hati dan kepedualian kita perlu di kalibrasi, bahkan harus di upgrade.

lalu siapa yang individualis, baratkah?

Jangan Malu Memulai!

November 16, 2007

Jumat, 02 November 2007 08.06 WIB

BLOG

Jangan Malu Memulai!

Oleh Pepih Nugraha

Pada masa awal kelahirannya, blog atau situs pribadi dianggap sebelah mata, bahkan cenderung dilecehkan. Sampai sekarang pun sikap nyinyir terhadap blogger tidak pernah hilang. Disebutlah blogger itu narsis yang buang-buang waktu percuma. Persis lahirnya sebuah revolusi, kehadiran awalnya diragukan.

Sekarang, orang yang melek internet tetapi belum nge-blog, istilah merujuk aktivitas dalam membuat dan mengisi blog, dianggap tertinggal zaman. Blog sudah menjadi gaya hidup, mulai dari anak sekolah dasar, selebriti, sampai menteri. Bahkan, 94 dari 96 surat kabar cetak terbaik di Amerika Serikat memiliki blog. Hanya empat surat kabar saja yang “jadul” alias terseret zaman karena tidak memiliki blog.

Jelaslah, di belahan dunia sana blog sudah masuk salah satu kriteria penting sebagai penentu berkualitas tidaknya sebuah surat kabar. Beberapa surat kabar cetak di Indonesia sudah memiliki kesadaran lebih dini dengan membuat blog sebagai tempat curhat para wartawannya atau tempat mengekspos kegiatan keseharian surat kabar itu, yang tidak mungkin termuat dalam surat kabar.

Di Eropa atau Amerika, surat kabar online pun memiliki blog sendiri-sendiri, plus blog pribadi wartawannya yang bisa diklik di jajaran navigasi global pada tampilan surat kabar online tersebut. Ada “cerita di balik berita” yang lebih bebas terungkap dalam blog, yang kadang justru lebih menarik daripada peristiwa itu sendiri. Ada forum dialog intens yang hangat antara wartawan dan para pembaca. Ada keakraban di sana.

Seluruh wartawan, editor, dan pemilik surat kabar bisa disapa serta ditanya tentang berbagai hal. Wartawan yang menulis berita tidak lagi asal lempar tulisan setelah itu tutup telinga: “terserah tulisanku mau dibaca atau tidak, pokoknya masa bodoh”. Hubungan antara koran yang diwakili wartawan dan para pembacanya menjadi berjarak. Wartawan kerap dicap sebagai “orang pintar” yang duduk di menara gading, yang sulit dan tidak bisa disapa pembaca.

Akan berbeda persoalannya jika sebuah surat kabar memiliki blog sendiri. Suasana lebih akrab bisa terjalin karena dipersatukan minat yang sama. Wartawan yang biasa menulis rubrik khusus, seperti otomotif, teknologi informasi, dan politik, memiliki “basis massa” pembaca yang luar biasa besar.

Sayang, selama ini aliran informasi hanya satu arah sifatnya. Tidak ada dialog interaktif untuk menangkap umpan balik (feedback) pembacanya, yang kemungkinan ada persoalan baru lainnya yang muncul dari hasil dialog interaktif itu untuk bahan tulisan berikutnya. Bukankah dalam dunia media online ada adagium bahwa berita adalah percakapan itu sendiri?

Wartawan memang manusia supersibuk yang tidak punya waktu membalas sapaan pembacanya di blog. Membalas sapaan pembaca di blog berarti buang-buang waktu sehingga waktu untuk menulis tersita. Tentu saja wartawan tidak harus memelototi blog tiap hari. Kalau tidak punya waktu, barangkali cukup seminggu sekali, sebulan dua kali, atau boleh juga sebulan sekali. Sekadar “say hello” saja kepada pembacanya.

Maka, berkumpulnya para blogger dari berbagai penjuru Tanah Air di Blitz Megaplex Jakarta, 27 Oktober lalu, menjadi penting. Selain menunjukkan keberadaan para blogger, ada semangat memperekat komunitas blogger. Meski belum pernah bertemu secara fisik dan hanya bertutur sapa di dunia maya lewat media maya, toh pertemuan itu menjadi “kopi darat” pertama yang terbesar.

Beberapa wartawan peliput acara yang kemudian diklaim sebagai “Hari Blogger Nasional” itu adalah blogger, karena kesadaran mereka untuk berada dalam satu komunitas yang sama, yang sudah terbiasa saling menyapa dalam dunia maya.

Jumlah 130.000 blogger Indonesia belum apa-apa dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sudah menyundul angka 230 juta jiwa. Namun, melihat antusias orang yang terus membuat blog di seluruh dunia, jumlah itu rasanya terlalu kecil. Tengok WordPress, salah satu situs penyedia blog terdepan saat ini, di mana setiap harinya mencatat 50.000 pembuat blog baru. Anda? Jangan malu untuk memulai! (KOMPAS)

takkan terganti

November 14, 2007

Gak nyangka dapat lirik lagu sebagus ini setelah nge-goggle mencari artikel. Kahitna memang sepesialis lagu-lagu bernuansa romantis dan melankolis (baca:cengeng), tapi tak dapat dipungkiri pada kenyataannya lirik lagu tersebut mengingatkan ku pada kenangan masa lalu yang sulit sekali terlupakan. Kenangan manis yang hanya bisa teringat tapi tak kan bisa berulang kembali.

———————————–

Telah Lama Sendiri
Dalam Langkah Sepi

Tak Pernah Kuduga
Bahwa Akhirnya
Tiada Dirimu Disisiku

Meski Waktu Datang
Dan Berlalu Sampai Kau Tiada Bertahan
Semua Takkan Mampu Mengubahku
Hanyalah Kau Yang Ada Direlungku

Hanyalah Dirimu
Mampu Membuatku Jatuh Dan Mencinta
Kau Bukan Hanya Sekedar Indah
Kau Takkan Terganti

Tak Pernah Kukira
Bahwa Akhirnya
Tergugat Janjimu Dan Janjiku

tak ada kata terlambat

November 14, 2007

Tidak ada kata terlambat untuk belajar menulis, mulailah dari sesuatu yang kecil terlebih dahulu. Memang hobby menulis itu sebaiknya ditanamkan sedini mungkin, nah bagaimana bila hobby atau kebiasaaan itu baru dimulai ketika kita beranjak dewasa bahkan menjelang usia akhir duapuluhan seperti saya? Jawabnya mudah sekali, tuh lihat saja title diatas. Hari ini saja aku telah menampilkan 2 tulisan, satu tentang diriku dan ini yang sedang saya tulis. Awalnya memang beraat sekali, tidak ada ide, bahan, serta seribu alasan lain, padahal mudah saja, mulailah dari yang kecil, kita bisa menulis rutinitas harian kita, dari bangun tidur sampai kembali ke peraduan. Saya yakin semua itu bisa dituangkan kedalam tulisan, percaya apa enggakk??? bisa percaya juga bisa tidak, itu tergantung niat dan kemauan, buktinya, ini aku menulis kata demi kata dengan lancarnya hehehe…. Ya sudah karena sudah larut malam sebaiknya aku cukupkan tulisanku sampai disini dulu, besok kita tuliskan lagi lembar demi lembar sisa kehidupan kita di dunia fana ini.

~Guten Nacht, und Tschuess~

the next euro trip

November 14, 2007

Apa ya kira2 kota selanjutnya yang bakal gue kunjungi? roma udah, barca tamat, negeri londo dah khatam, venice nan cantik awal bulan ini. Weit… jgn salah sangka, gue bukan orang berkantong tebal, gue backpacker… ingat yah.. .

Dan ternyata kota P.A.R.I.S. yg belum gue tilik, walau dari sini cuma 3 jam naik TGV (kereta express), maklum lah.. jarang ada Angebot. Dulu nyokap pernah bilang jgn lupa yo ke paris, kunjungi museum luvre, jadi kamu banyak dapet pengetahuan dari situ, apa lagi bokap lebih heboh lagi ceritanya. Enggak heran deh kalo bokap ngomong gitu, maklum beliau pensiunan pegawai museum.

Kali ini aku tidak akan mereview kota paris secara khusus, kesana aja belum! Tapi sekedar membandingkan keunikan dari tiap kota yang pernah aku kunjungi. Dan dari pengalaman yang lalu, bisa diambil beberapa point diantaranya, tiap kota memiliki ciri-ciri tersendiri yang tidak bisa di bandingkan dengan kota lain, seperti roma, gue terkagum2 dengan kota ini, kita bisa menikmati secangkir capucinno dan selembar pizza dengan harga yang pantas, apa lagi rasanya, beda banget sama disini, ibarat kata kita beli dari pembuat asli. Lain roma, lain pula barcelona, waktu gue kesana musim panas lepas, sebenarnya agak kecewa, mengapa?, sebab untuk wisata kuliner agak sulit ditemui ciri khasnya, akhirnya makan fastfood juga, apa lagi kalo bukan McD dan Kentuky :D . Das ist aber kein grosse Problem, soalnya kita bisa menikmati keindahan arsitektur dari sang maestro, Antonio Gaudi , yang telah mengarsiteki beberapa bangunan yang cukup termasyur dan menjadi simbol kota barcelona, yaitu sagrada familia.

Jadi, wanna come with me for the next journey?

nasi bungkus bekal dari emak..

November 14, 2007

Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa hari ini 11 agustus 07, 4 tahun sudah diriku berada di perantauan. Ingin rasanya kembali ke masa itu, agar ku bisa mengatur dengan baik semua rencana selama di perantauan, apa lacur nasi sudah menjadi bubur, semua target dan pencapaian tidak berbanding lurus. Kini hal utama yang harus dilakukan adalah, menformat masa depan, atur strategi baru dan yang sudah lewat biarlah berlalu.

“Iyo, kapan kamu pulang?” tanya ibu setiap kali aku menelefonnya. “Insyaallah tahun ini aku pulang, mak,” ujarku. Teringat pesan emak bahwa hidup dirantau itu tidak semudah yang dibayangkan, perlu perjuangan, kadang kening penuh keringat bahkan tak pelak darahpun mengalir keluar dari tubuh. Emak pun berpesan agar aku jangan cepat putus asa dan lemah semangat. Ia pun sangat mengerti tentang tabiatku, wajar saja dia mewanti-wanti. Begitupun halnya bapak, “Iyo pokoknya kalo belum drop out jangan berhenti sekolah, kamu harus tetap semangat!” Petuah bapak selalu ku pengang dan ku jalankan, dan akupun menuai hasilnya. Tinggal selangkah lagi aku akan merampungkan sekolahku, walaupun masih belum jelas kapan selesainya, tapi bisalah kalo ancer-ancer. Awal maret 08, bapak dan emak, insyaallah aku pulang.

Banyak pengalaman yang ku dapat selama di perantauan, yang paling terkesan menurutku adalah, mengubah cara berfikir. Cara berfikir indonesia, negeri dimana aku berasal, yang sampai saat ini aku amati masih terpola untuk mendapatkan atau mencapai sesuatu secara instant. Nah dinegeri ini tempat aku merantau, orang diajak untuk bekerja keras, berusaha baru kemudian menuai hasil, what you did is what you get. Bukan bermaksud untuk melecehkan bangsa sendiri dan bukan pula hal buruk yang telah tersebut diatas merupakan representasi dari semua kalangan, di negeri sendiri what you did is may be what you get, or even you get nothing. Terkadang elit-lah yang memberi contoh sehingga cara pandang tersebut banyak di adopsi orang. Udah ah, capee dehhh…