Archive for February, 2008

dapet wejangan

February 28, 2008

Semalam aku ditelfon Kang Misno, seorang bapak guru yang sedang tugas belajar di salah satu universitas di kota ini. Beliau bertanya mengenai bagaimana cara menyusun blog yang baik, sebab bulan lau ketika berkunjung ke kostnya aku mengutak-atik blog beliau supaya tampilannya kelihatan apik. Tapi belakangan beliau kurang puas setelah melihat tampilan blog saya yang “ehem…. :D “. Tanpa banyak basa-basi aku pandu tahapan men-setting tampilan blognya via telfon. Nah yang menarik dari obrolan tersebut sebelumnya beliau telah membaca salah satu artikelku yang ini. Beliau tertarik karena salah satu orang yang kutulis di artikel tersebut adalah salah satu kolleganya. Tak kira aku akan di-jewer ternyata malah diberi wejangan.

Sebagai seorang pendidik tentu beliau paham benar bagaimana mendidik siswa menjadi seorang yang paripurna. Ada beberapa wejangan yang aku peroleh darinya, saya mencoba menerjemahkan apa yang beliau maksud daripadanya. Dalam sebuah kehidupan manusia dihadapkan oleh berbagai macam tantangan, cobaan, serta hambatan baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Untuk mengolah berbagai macam tantangan tersebut maka manusia harus belajar. Kira2 point yang saya dapat ambil dari pembicaraan singkat kami adalah sebagai berikut.

  1. Belajar bagaimana belajar (learning how to learn)
  2. Belajar bagaimana melakukan sesuatu (learning how to do)
  3. Belajar bagaimana menjadi diri sendiri (learning how to be)
  4. Belajar bagaimana hidup bersama (learning how to live together)
  5. Belajar bagaimana hidup harmonis (learning how to live harmony)

Sambil mendengarkan apa yang beliau bicarakan saya pun manggut2, ternyata malam itu aku menjadi orang yang sangat beruntung, sebab masih ada orang seperti kang misno yang mau untuk berbagi dan saling mengingatkan. Begitulah hidup ini, bila tidak mau menjadi orang yang merugi, sudah seharusnya kita selalu memperbaruhi keyakinan hidup kita, melakukan amal kebaikan dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Terima kasih, Kang!

fenomena “Brain Drain” dan “Brain Gain” bagian 2 [habis]

February 21, 2008

Ternyata dari tulisan saya minggu lalu, banyak sekali masukan2 yang tertuang di kolom komentar atas tulisan tsb. Semuanya tergolong masukan yang sangat positif, dari ide membangun networking sampai cuma hanya mengelus dada tanda pasrah. Tentunya masukan2 tersebut harus diambil langkah konkrit agar apa yang telah didapatkan selama menuntut ilmu di LN dapat dibagi dengan khalayak banyak.

Belum lama ini ketua program pasca sarjana salah satu universitas negeri yang terpandang di Yogyakarta berkunjung kesini, kebetulan beliau merupakan alumnus universitas di kota ini, maksud kunjungan beliau adalah membangun jejaring antara uni di jogja tempat ia mengajar dan almamaternya dimana ia mendapatkan gelar doktor. Dalam kesepakatan tersebut beliau meng-gol-kan kesepakatan kerjasama yaitu penambahan jumlah mahasiswa program sanwich dari kuota untuk orang indonesia yang tadinya hanya 5 orang menjadi 20 orang. Tentunya keberhasilan ini patut kita acungi jempol karena beliau telah membuka peluang yang lebih besar untuk anak bangsa dalam menuntut ilmu di LN.

Salah satu dosen politeknik negeri dibandung yang sedang studi doktoral disini juga mengajak saya untuk mebangun kerjasama antara instansinya dengan politeknik dikota ini dimana saya sekolah, “wah mas bagus juga Idenya”, ujarku, tapi khan saya bukan dosen disana mas?. “Gak apa2 mas ario, mas ario nanti masuk kedalam proyek kerjasama ini sebagai representatif!” “Ooo gitu ya mas! iya…, mas menjadi mediator yang menjembatani kedua belah pihak, disitu mas ario dapat berperan banyak”. Dalam benakku boleh juga nih, membangun jaringan sekaligus belajar banyak dari proyek tsb. Insyaallah itu akan menjadi agendaku kedepan, apapun akan kita lakukan walaupun itu sedikit bahkan baru sebatas ide-ide. Mudah2an ini semua dapat menjadi kenyataan, karena sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil butuh proses dan kesabaran untuk menuai hasilnya kelak.

 

fenomena “Brain Drain” dan “Brain Gain”

February 16, 2008

brain drain brain gain
Foto diambil disini

Dia memacu mobil anyarnya dengan sigap maklumlah sang istri cantik nan jelita menunggu dirumah, “say sebentar lagi aku sampai rumah” ujarnya, malam itu menunjukkan pukul 9 malam, sudah hampir larut, begitulah kesibukan kesehariannya. Posisinya sebagai seorang project manager disalah satu perusahaan teknologi informasi kelas dunia dituntut melayani client yang membutuhkan konsultasi sehingga mobilitasnya pun sangat tinggi, belum lagi jika ada client dari lain benua ia pun harus siaga walau harus meninggalkan keluarganya berminggu2. Sebut saja bang X usia mendekati 40 tahun semua yang diimpi2kan oleh seorang pekerja telah ia dapat, tak ayal dengan salary lebih dari 60K Euro pertahun bersih belum termasuk tunjangan lain, status sosial tinggi dengan menyandang titel PhD dan sederet kemapanan hidup yang lain, menjadikan ia makin ‘betah’ untuk hidup berlama2 di negerinya Adolf Hitler ini. Ada lagi mas Y, ia bekerja sebagai research engineer di salah satu vendor automotive dunia, dengan titel Doktor in engineering ia pun menjadi salah satu anak bangsa yang menjadi pakar dalam bidangnya, segalanya pun telah ia dapatkan tak banyak berbeda dengan bang X, ‘betah’ juga tinggal di negeri Hitler ini. Keduanya adalah putra2 terbaik bangsa yang dikirm pemerintah di akhir 80-an untuk menuntut ilmu dinegeri ini.

Sebenarnya apa benar kedua orang tersebut ‘betah’ untuk berlama2 diluar negeri (LN)? Ternyata tidak! Sama seperti mereka yang lama tinggal di LN mereka anak2 bangsa itu ingin pulang dan berbakti menyumbangkan keahliannya pada bangsa dan negara, tapi apa lacur alih2 mereka pulang dan berbakti malah kemandegkan yang mereka alami, sebetulnya mereka telah pulang selepas menyelesaikan studinya di LN tapi mereka terbentur oleh kurangnya penghargaan pemerintah terhadap mereka terutama mengenai salary yang sangat kecil untuk seorang pakar seperti mereka. Belum lagi dengan sarana penunjang riset yang mereka butuhkah jauh dari layak. Hal tersebut hanya sebagian penyebab sehingga mereka memutuskan kembali ke LN dimana mereka dapat menemukan kebebasan berkarya dan berkontribusi sesuai dengan kepakaran mereka apalagi gaji yang didapatkan sangatlah layak untuk menunjang kehidupan mereka sekeluarga.

Itulah yang terjadi pada anak bangsa indonesia, anak2 bangsa yang memiliki talenta, kreativitas, inovasi (human capital) yang seharusnya dimanfaatkan sebaik2nya oleh pemerintah republik, disia-siakan oleh bangsanya sendiri. Sebuah kerugian yang teramat besar yang ditanggung bangsa ini mana kala putra2 terbaik bangsa mengabdi untuk kemajuan bangsa lain, meninggalkan bangsa indonesia yang semakin tidak jelas nasib dan masa depannya. Gagalnya transfer teknologi dan ilmu pengetahuan menyebabkan mundurnya kualitas bangsa secara keseluruhan dan ini telah terjadi. Negara harus pula merogoh kocek yang besar untuk mendatangkan ahli2 dan consultan asing dalam proyek2 pembangunan. Sebuah contoh yang dapat kita analisa bersama, ethiopia sebuah negeri miskin di afrika, memilik jumlah doktor di chichago USA lebih banyak ketimbang dinegaranya sendiri, tentunya ini sangat merugikan negara tsb. Dan masih banyak sekali negara lain yang dapat kita ambil contoh.

Sudah saatnya pemerintah RI memanggil pulang para anak2 bangsa yang ‘tercecer’ diberbagai belahan dunia untuk bersama membangun bangsa yang porak poranda ini. Pemerintah harus menyediakan ruang yg cukup kepada mereka, wadah tempat mereka bekerja, keleluasaan serta tunjangan dana dalam pengembangan riset dan pembangunan yg mereka lakukan, membuat strategic planning dalam pemanfaatan human capital yang inovativ, cerdas dan kreatif tsersebut. Pemerintah juga dituntut andil mensinergikan riset2 yang mereka lakukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa diberbagai bidang, mereformasi birokrasi, menegakkan hukum sehingga apa yang telah dicita2kan bangsa ini yakni brain gain dapat tercapai. Tidak usah jauh2 mengambil contoh tentang brain gain ini, malaysia ditahun akhir 60-an sampai medio 80-an mengirim putra2 bangsanya untuk menimba ilmu di tanah air, dan sekarang mereka lebih maju dari kita, karena mereka pandai dan cermat mengelola human capital yang telah mereka investasikan sebelumnya, salut dan selamat untuk malaysia. Dan bagaimana Indonesia? saya masih optimis dan harus selalu optimis didalam kecarutmarutan bangsa ini pasti masih ada secerca harapan agar bangsa ini lebih baik dimasa yang akan datang. Insyaallah.

ich vermiesse unsere Zeit

February 12, 2008

friendship.jpg

Satu persatu kawan2ku pulang ketanah air karena tugas mulia telah selesai, sepi terasa menggelayuti angan dan pikiran ini. Kawan2 semasa perjuangan menuntut ilmu, berjibaku dengan segala kesulitan yang kita dihadapi, jauh dari orang tua, gagap budaya, kangen jajanan indonesia terlebih lagi lingkungan dan teman2. Semua kesulitan itu menjadikan kita dekat. Kawan dikala kita kesepian, kesulitan ditengah kuliah2, kadang perbedaan pendapat membuat kita jauh dan akhirnya kita dekat kembali dengan menyingsikan segala perbedaan pendapat, melupakan segala kesalahan2 yang sama2 telah kita perbuat, semua itu membuat kita dekat, bahkan ikatan perkawanan tersebut menjenjang jadi ikatan persaudaraan.

Gerombolah sensor, itulah yang dijuluki masyarakat indo di karlsruhe, iya karena waktu itu sekitar 10 orang student indonesia dalam satu tahun terdaftar di departement sensor system technology hs-karlsruhe, sebuah jumlah yang sangat besar kala itu, mengapa? sebab itulah angkatan terakhir mahasiswa indonesia yang terdaftar di uni tersebut, setelah angkatan saya dalam kurun waktu 3 tahun tidak ada lagi mahasiswa baru yang nongol. Berharap akan ada lagi mahasiswa baru yang datang agar kota ini tidak sepi sunyi.

boarding.jpg

Mahasiswa terakhir yang pulang adalah hafid, setelah sebelumnya ada fahmi, emil, reza, pepeng, boss rhenda, rizky, iqbal, ery, dan yoyo oh iya ada lagi krisna dan boss yusfi, ternyata banyak yach! Ada 13 orang berikut saya, ternyata bukan 10 orang! Takkala kemarin hari sabtu, 9 Februari mengantar hafid ke Frankfurt airport, sambing menunggu dia check in kesepian segera merasuki batin ini, hufff sambil menghela napas panjang. :( sedih…. ya karena hanya sampai sejauh itu saya bisa, cuma mengantar sampai bandara sebab telah 4,5 tahun tak pernah pulang ke indonesia. Mengapa saya lakukan itu, ya.. janji bahwa tak akan kembali sebelum menuntaskan tugas mulia ini.

Selamat jalan ketanah air hai para sahabat semoga ilmu dan kebaikan dapat kalian bagi bersama di tanah air, karena sebaik2nya manusia adalah yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Selamat berkarya! semoga kita dapat bersua kembali.

Kupersembahkan untuk saudara2ku yang telah pulang ke tanah air selepas menimba ilmu di perantauan, perjuangan belum berakhir hai sahabat!

logis tidak? pas tidak? nyambung tidak?

February 7, 2008

Tumben hari ini cuaca cerah sekali, sang bagaskara muncul seharian penuh, langit cerah biru mempesona, jarang-jarang loh cuaca sebagus ini, meskipun cerah tapi suhu diluar lumayan dingin sekitar 5 derajat celcius. Akhirnya kukeluar sebentar setelah beberapa hari mengurung diri dikamar, niatnya sih ngerjain laporan proyek tapi dasar…! rada malas, ya bgitu deh belum selese juga akhir bulan ini pokoknya harus ‘Abgabe’ titik, selese gak selese kumpulkan huhuehuehue :D . Sebenarnya pada tulisan ini saya ingin berbagi banyak mengenai karnaval tanggal 5 kemarin, tapi berhubung gak keluar rumah beberapa hari jadi gagal deh reportase langsung, insyaallah ditulisan selanjutnya saya janji deh mo ulas tentang apa itu Fasching.

Pas keluar rumah langsung belanja trus iseng2 tlp temen ternyata hari ini ada yang ulang tahun, akhirnya kita bertiga ketemuan membicarakan kira2 hadiah apa yang cocok diberikan buat teman kita tersebut, si D inisialnya. Secara pribadi saya tidak merayakan hari ulang tahun secara khusus pada setiap hari kelahiran, karena bagiku setiap hari adalah hari ulang tahun karena ketika kita bangun pagi itulah hari ulang tahun kita, setiap hari, selama kita hidup didunia ini disitulah kita harus bersyukur karena masih diberikan waktu. Omong2 perayaan ultah, kalo gak salah pernah dirayakan ketika umur 1 dan 2 tahun. Alhamdulillah Tuhan memberikan anugrah sehingga bisa mengingat kejadian yg sudah lama sekali terjadi yakni ketika usia dua tahun, ketika itu saya memotong kue ulang tahun, sampe sekarang masih ada tuh fotonya. Juga ketika waktu bayi kira2 umur 1 tahun lebih, pada waktu ditimbang diposyandu dan seterusnya… memori2 masa kecil masih terpatri diingatan, tapi herannya pas ujian/ulangan kok bahan yang sudah dipelajari hilang semua yach huhuhuehueheuueheuheu iya lah belajar aja kagak :P .

Kembali ke hadiah ulang tahun, akhirnya kita memilih jam tangan karena jam punya nilai emosional lebih ketimbang sepatu. Harganya lumayan mahal sih 40 € untungnya sih saweran jadi gak berat2 amat nanggungnya, tanpa pikir panjang kami pilih Swatch warna hijau, “segera bungkus Mbak”, pinta ku. Kenapa minta lsg bungkus iya lah orang Mbaknya aja dari tadi diem, beda banget sama pegawai toko diindo, paling tidak ngobrol kek, basa basi jadi ato ngejelasin kelebihan jam yang dimaksud, jangan diem aja! :( ini lah stereotype dari seorang bule… diindo pembeli adalah raja, tapi disini, jangan harap deh, kalo mo beli ya beli enggak ya udah, trus gak bisa diskon lagi, semua harga pas.. garing bin jutex dah si penjaga toko bule, jadi males gue, kangan juga sama penjaga toko diindo yang cantik dan ramah2.. senyumannya itu loh yang menggoda orang untuk belanja lebih banyak hhauhauhaua :D .
Uang 40€=500k rupiah begitu saja mudah dikeluarkan tanpa kita pikir panjang apakah hal ini sebenarnya perlu? Di negara maju, orang mudah sekali mengeluarkan uang tanpa pikir panjang, maksudnya orang tidak memperdulikan lingkungannya, ya menurutku ini sebuah hal yang wajar, dinegara maju dalam hal ini jerman, sulit sekali membedakan antara orang miskin dan kaya semua orang terlihat makmur tak ada jurang pemisah diantarannya, orang menganggur dicarikan pekerjaan dan diberikan uang jaminan sosial selama menganggur yang diambil dari pembayaran pajak setiap warga negara. Mungkin ini yang menjadi pertimbangan orang sudah gak memikirkan lagi lingkungannya, wong gaji tiap bulan dipotong 38-50% untuk pajak, untuk apa lagi orang peduli dengan lingkungan.

Nah bagaimana dengan di tanah air, saya pribadi kalo beli jam 40€ untuk hadiah ulang tahun, sayang sekali karena dengan uang tsb kita bisa berbuat banyak untuk membantu sesama, walaupun bukan jumlah yang banyak, tapi dengan jumlah segitu bisa membayar SPP seorang siswa SD selama setahun dengan asumsi biaya SPP 40ribu sebulan. Kira2 logis tidak pemaparan saya?

ikatan dinegeri rantau, sebuah mekanisme kontrol

February 3, 2008

homesick

Tidak terasa sudah hampir empat tahun disini, dikota ini tempat menimba ilmu. Tentunya bukan hal yang mudah jauh dari keluarga, bukan hanya itu jauh dari suasana tanah air. Untungnya disini ada komunitas indonesia, tidak seberapa jumlahnya sekitar 40 orang berikut juga dengan anak2 kecil. Jumlah tersebut naik turun sebanding dengan tingkat kelulusan mahasiswa indonesia disini juga dipengaruhi kedatangan mahasiswa baru ke kota ini. Dahulu kota ini sempat terkenal dikalangan mahasiswa indonesia yang sedang studi di jerman, hal ini disebabkan jumlah mahasiswa indonesia yang bersekolah dikota ini kira2 lebih dari 100 orang, jumlah yang cukup besar untuk saat itu.

Disini kita berkumpul membentuk ikatan keluarga muslim indonesia di karlsruhe yang bisa disebut IKMIK, wadah ini sangat penting sebagai sarana perkumpulan pelepas rindu kampung halaman, wadah saling introspeksi, berbagi informasi sekaligus mengikat tali persaudaraan, iya donk.. mengapa tidak, karena keseharian kita beraktivitas dengan orang-orang asli (bule’) tentunya punya kekurangan tersendiri, kok bisa disebut kekurangan? iya karena tidak mudah bergaul dengan orang jerman, bukan kita yang kurang pergaulah, tetapi memang mereka punya cara berfikir klasik terhadap orang asing, dimana mereka menjaga jarak. Menjadikan orang jerman teman akrab kita adalah hal yang sangat sulit, bisa dikatakan hampir mustahil, kecuali memang kita besar bersama disini itu lain soal. Hubungan kita dengan orang asli hanya sebatas rekan sejawat (kollega) atau teman biasa tidak lebih. Sedih ya! memang itulah kenyataan yang kita hadapi jika hidup di negeri ini betapa kerasnya budaya masyarakat jerman.

Dua bulan lalu ada seorang mahasiswa asal indonesia yang ikut dalam pertukaran pelajar program tersebut berdurasi 6 bulan, belum 3 bulan dia sudah pulang, mutung, gak kerasan kangen sama istri! waw…. baru kali ini saya melihat contoh nyata sebuah kekagetan budaya/gagap budaya yang melanda putra bangsa indonesia, cukup memilukan karena beliau harus membayar beasiswa yang telah didapatkan. Lain lagi contoh yang dialami mahasiswa yang berinisial X, anggapan sebagian besar orang indonesia jika bergaul dengan bule akan disebut hebat, keren, gaul enggak kuper, telah membuat dia jatuh kepelukan gadis jerman, teman tapi mesra akhirnya seranjang berdua dan muncullah si jabang bayi indo-jerman. Waw.. gak heran sih cuma sayang sekali, tujuan mulia menuntut ilmu di negeri rantau disibukkan dengan beban psikologis, karena tidak siap menjadi ayah diusia muda.

Tentunya hal2 seperti contoh diatas tidak perlu terjadi jika ada kesadaran untuk berbagi, saling tukar informasi sehingga kasus2 seperti gagap budaya, home sick tidak perlu terjadi. Semoga IKMIK dimasa depan dapat menjembatani kebutuhan ‘psikologis’ dan ‘emosional’ masyarakat indonesia di karlsruhe.

 

Tulisan ini dipersembahkan untuk pengurus IKMIK periode 2008-2009, selamat berkarya.