Dalam minggu ini aku membaca beberapa surat kabar elektronik, ternyata isinya kebanyakan berita kurang baik yang membuat sedih, geram, bahkan mulutku sampe komat kamit ngedumel, sebenarnya apa yang terjadi dengan bangsa indonesia? Bila anda berada di tanah air bisa jadi anda dapat merasakan langsung apa yang terjadi, bahkan mungkin tetangga, keluarga bahkan bisa jadi anda sendiri yang menjadi korban. Jika pandangan itu diambil dari negeri sebrang yang tidak merasakan langsung apa yang terjadi mungkin orang bisa bilang, situ enak di Luar Negeri (LN) gak merasakan langsung, jadi bisa kasih komentar. Masih baik mau kasih komentar, daripada masa bodo! Intinya saya ingin merasakan pula kepedihan yang dialami rakyat indonesia ditanah air.
Hal yang ingin saya kemukakan disini adalah cara berfikir bangsa ini yang kurang memposisikan anak/generasi muda indonesia sebagai investasi masa depan. Masalah2 ekonomi dan sosial yang sedang menghimpit bangsa ini berimbas langsung kepada anak-anak, dimana perhatian terhadap mereka seolah2 hilang ditelan hiruk-pikuknya berita politik, korupsi, hingar-bingar dunia selebritis dan entertaiment bahkan dari kalangan pendidik pun ada (tidak semua) yang memperparah kondisi mereka.
Hari ini ada berita mengenai siswi Sekolah Dasar sebut saja tika, di salah satu propinsi di pulau sumatra yang mutung, malu berangkat ke sekolah karena diejek teman-temannya lantaran orang tua siswi tersebut menunggak pembayaran sumbangan WC sekolah! (jaman gene masih ada sumbangan WC). Sang kepala sekolah menegur si siswi tadi beberapa kali didepan kawan2nya. Bahkan siswi tersebut telah di dikeluarkan pihak sekolah. Du gusti ko ya tega2nya gitu mereka memperlakukan anak didik seperti itu. Lebih lagi ko ya masih ada sumbangan2/pungli yang masih dibebankan oknum guru kepada anak didik. Dan masih banyak tika-tika lain yang mengalami nasib serupa bahkan lebih parah lagi.
Lain lagi dengan nasib sebut saja anto, dia kehilangan ibunya yang bunuh diri dengan cara menggantung diri. Sang ibu tak kuasa menanggung beban hidup yang semakin berat dan menghimpit kehidupan mereka, belum lagi ayah anto yang telah meninggal dunia. Sehingga praktis sang ibu bekerja membanting tulang untuk menghidupi keperluan sehari2. Hidup anto pun menjadi tak menentu karena orang yang selama ini mengasuhnya telah tiada.
Begitulah indonesia yang orang dahulu bilang mutiara katulistiwa, bangsa yang bergelut dengan berbagai persoalan. Yang terpikir dalam benak saya adalah bagaimana nasib anak2 itu 5, 10 20 tahun kedepan apakah nasib mereka akan sama dengan pendahulu2nya? jangan sampai kemiskinan melahirkan kemiskinan baru, janganlah ini terjadi.



March 2, 2008 at 7:10 pm
wew… bener2 tragis nasib yang menelikung anak-anak masa depan bangsa kita, sang resi bismo, eh, ario. kepedulian terhadap nasib mereka belum juga tumbuh. orang2 kaya lebih suka menghambur2kan uangnya di toko2 luar negeri. andai saja mereka mau menjadi orang tua asuh, beban bangsa kita terhadap masa depan generasi mendatang tidak terlalu berat.
*berlalu sambil ngelus dada*
bagusnya sih kita sisihkan beberapa ribu rupiah untuk anak2 yang tidak beruntung ini dan disumbangkan, bisa lewat lembaga2 sosial, ini langkah konkrit loh ketimbang nungguin pemerintah yang sibuk dengan urusannya sendiri.
March 3, 2008 at 4:20 am
ironis…… terlalu banyak ketidak adilan. banyak salah prioritas…
*don’t know what to say*
saya juga udah speechless
March 3, 2008 at 6:21 am
hmmmmmmmm…jangan sampe anak ayam mati dilumbung padi
sudah ternyadi mas abee………. banyak kasus, sedih…..
March 3, 2008 at 6:52 am
heeh,, makin miris sajah
iya nich indonesia, kita harus bangkit.
March 3, 2008 at 12:21 pm
Salut buat Resibimo yang masih sempat memikirkan generasi Indonesia yang sedang terpuruk ini.
Sebarkan terus virus kepekaan ini!
syukron akhee achoey! terima kasih atas supportnya.
March 3, 2008 at 1:11 pm
Ingat lagu ini tidak:
Cuma mengingatkan saja…
1. Masih adakah doa Ibu agar anaknya menjadi orang bijak?
2. Masih adakah penjagaan dari ayah kepada anak?
3. Masih adakah anak yang mau menurut kepada Ibu-Bapaknya?
(Kenyataan saat ini:
1. Sang Ibu sibuk menjadi wanita karir, sampai-sampai kewajiban mengurus anaknya diserahkan kepada pembantu
2. Sang ayah sibuk mencari uang, uang, dan uang… Menganggap dengan uang bisa dibeli segalanya…
3. Sang anak — yang karena nomer 1 dan 2 jadi tidak kenal orang tuanya — menjadi liar, tidak mau menurut dengan orang tuanya… )
iya nich bapak ibu sukses dikantor, gagal dirumah anak2 jadi pada narkoba… sedih yach!
March 3, 2008 at 2:20 pm
bener mas, anak adalah investasi yg berharga bagi lingkungan…aset yg tak ternilai harga nya, sampai sampai negera lain berebut SDM yang handal dari negara kita kemudian mereka diberi beasiswa dan bekerja di LN dengan gaji berlipat lipat dari negeri ini..
Sudah saat nya kita semua BERGERAK !!!
kita mulai dari mana nich mas cempluk…. ada ide gak?
March 4, 2008 at 9:06 am
Sedih ya liat perkembangan pendidikan di indonesia, mas coba deh jalan2 ke daerah tempat aku kerja. Kadang kalau lagi perjalanan dinas banyak banget anak SD (umur sekitar 7-11 thn) jalan kaki di aspal jalan Lintas sumatra menggunakan sendal jepit, boro2 sendal waktu itu malah sempat liat yg gak menggunakan alas kaki sama sekali….sedihnya
sedih ya, anak ayam sekarat di lumbung padi, kota minyak masyarakatnya antri minyak!
March 4, 2008 at 11:38 am
Dua hal yang memprihatinkan di Indonesia adalah masalah edukasi dan kesehatan. Dua hal ini sangat urgent. Saya berharap semua orang terutama yang telah menikmati pendidikan yang layak-siapa saja, tergerak untuk berbuat nyata demi masa depan bangsa kita.
*deuh seperti pejabat aja bahasanya*
Numpang berteduh sebentar ya
silahkan mas yoga terima kasih atas kunjungan anda. Benar edukasi dan kesehatan adalah hal yang tidak bisa terpisahkan sebua adalah hak dasar rakyat, jik aini tidak terpenuhi maka kualitas dan daya saing bangsa menurun akhirnya bangsa ini jadi bangsa yang centang perenang.
March 4, 2008 at 12:48 pm
Bukankah di negeri ini bayi yang baru saja lahir sudah punya jatah hutang 5 juta rupiah….
Jangankan untuk membayar iuran WC…untuk beli sandal/sepatu saja ga kebeli…eh masih punya beban hutang pula karena warisan para petinggi negeri ini…
gimana yach pak guru, bagsa indi keluar dari segala kesulitan yang membelit. seakan2 sudah tidak ada harapan lagi untuk bangsa ini.
March 4, 2008 at 4:44 pm
anak indonesia.. betapa lugunya engkau.. sayang engkau tak mendpatkan cukup fasilitas untuk masa depanmu..
iya nih mbak… nasib jadi bangsa indonesia.
March 5, 2008 at 2:06 pm
bos… jadi sedih nih… gak ada berita yang menggembirakan kah dari tanah air? anyway.. i’m back now..! salam buat anak-anak! wassalam
iya nichboss, namanya aja indo bukan indo kalo beritanya bukan itu. gimana singapore asik gak? kapan kamu balik kemari?
March 5, 2008 at 3:22 pm
yapp.
kalo sudah tersinggung hati nurani, jadi langkah selanjutnya adalah bertindak. anak2 terlantar dan fakir miskin justru jangan dipelihara oleh negara, soalnya kalo dipelihara jelas akan beranak pinak.
iya mbak saja jadi tergugah nich…. harus ada langkah konkrit.
March 6, 2008 at 2:08 am
“That’s right brother”_meminjam gayanya JK (Jarwo Kwat) di Republik Mimpi. Tapi ada kabar gembira, brother: Tuntutan pidana JK tak terbukti, so bisa ngelihat lagi aksinya di tvone!
iya nich ditunggu! udah lama gak nonton acara tsb lewat utube.
March 6, 2008 at 10:09 am
Mas Ario,
Kalau cerita tentang anak2 mulai dari pendidikan, pola asuh dll tentu tidak akan habis ceritanya karena sangat beragam peristiwa yang terjadi. Tapi yang paling memilukan bila mengalami dan mendengar berita yang menyedihkan seperti yang Mas Ario tulis.
Untuk Mas Ario dan teman2 yang lain…
Jika kita sadar dan peduli pada nasib mereka lakukanlah sesuatu, meskipun hal itu masih kecil…jangan menunggu…
misalnya saja kita memberikan bantuan, jadi orangtua asuh dll. (Jangan tunda dangan alasan nanti…nanti …nanti…)
Sekarang banyak kok Mas yayasan2 yang bergerak dibidang seperti itu, meskipun sekarang jumlahnya belum sebanding dgn jumlah anak2 yang membutuhkannya.
Mudah2an jika banyak orang2 yang peduli pada nasib mereka, mereka mempunyai harapan yang lebih cerah ! Amien.
Best Regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com
iya mbak harus ada langkah konkrit jangan cuma dimulut saja. Saya ingin sekali jadi orang tua asuh insyaallah.
March 7, 2008 at 5:38 am
Tidak bisa bicara……apa yang sebaiknya kita lakukan? Harus dimulai dari keluarga sendiri, kemudian memikirkan lingkungan sekitar…. Sebetulnya banyak kok yang sudah mempunyai anak asuh, tapi donatur masih nggak cukup….
benar tante harus ada kepedulian terhadap orang lian yang tidak beruntung, walaupun sebenarnya haltersebut adalah tugas negara, apa lacur negara tidak mampu mengurusi rakyatnya, dan rakyat harus turun tangan membantu rakyat yang lain, tanpa menunggu pemerintah.
January 13, 2009 at 3:12 am
Hihihi, ini postingan sudah pernah saya baca, hehehe…
Baca yang lain lagi ah…..
Best regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com