Dari asal Berasal dari German (bahasa jerman) dan Indonesia (bahasa indonesia), adalah sebuah bahasa indonesia tidak resmi yang memasukkan unsur-unsur kosakata bahasa jerman. Biasanya bahasa ini digunakan oleh komunitas masyarakat indonesia baik student maupun pemukim perantauan di negerinya Ongkel Hitler ini. Karena banyak sekali kata2 dalam bahasa jerman yang mudah sekali diselipkan ke percakapan bahasa indonesia sehingga bahasa baru ini cukup ngetrend dikalangan tadi.
Germindo juga memasukkan unsur bahasa2 gaul, jika bahasa ini digunakan diluar wilayah ini maka sang lawan bicara pasti akan kesulitan memahaminya, kecuali mereka yang pernah merantau ke negeri ini. Tentu saja secara kaidah bahasa resmi yang baik dan benar, bahasa ini sangat rusak secara gramatik bahkan dapat berimbas pada keaslian bahasa indonesia itu sendiri. Bisa kita lihat fenomena sekarang dimana artis2/anak2 lulusan amrik, UK, OZ membawa bahasa gaul (baca: indolish) ke tanah air, sehingga bahasa tersebut cukup terkenal dikalangan anak muda. Gak perlu panjang lebar deh, sekarang gue kasih contoh kalimatnya.
“Eh, kemaren elu dah terima duit Ueberweisung-an gw belom? “(ueberweisung=kiriman)
“Gue mah so wie so bakal Urlaub ke indo abis Pruefung ntar. “(so wie so=bagaimanapun juga, urlaub=liburan, prufung=ujian)
“kalo gue mah egal aja”. (egal=terserah)
“Scheisse gue lupa bawa buku elu” (Scheisse=kotoran) maaf!
dan masih banyak sekali contoh lain yang tentunya gak perlu panjang lebar saya tuliskan disini.
Sebenarnya kalo kita ingin telusuri agak jauh, fenomena penggunaan kosa2 kata asing ke dalam bahasa indonesia ini bukan merupakan hal yang “luar biasa dan baru”, karena kakek-nenek kita dulu yang mengenyam pendidikan belanda pasti sudah pernah menggunakan bahasa model tersebut atau bisa kita lihat dalam filem2 tahun 80-an, seperti pitung, atau WARKOP DKI. Sekarang pilihan anda lah apakah akan menggunakan bahasa model tersebut atau tetap pada bahasa indonesia penutur asli, yang jelas ketika kita berusaha menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, pada saat itulah kita telah melestarikan budaya dan jatidiri kita sebagai anak bangsa indonesia, tapi kesemuanya itu semua terserah pada anda.


