30 hari berada dijakarta sebenarnya membuatku gak mau balik lagi ke jerman, dengan segala kekurangan yang ada pada kota ini, jakarta tetap menjadi pilihan bagi para kaum pendatang dari seluruh penjuru tanah air, tapi karena amanah yang belum rampung aku pun harus segera kembali, orang bilang back to reality tapi aku kok gak setuju yach, justru realitasnya ada di jakarta.
Jakarta yang semakin menua, menyempit, padat dan kumuh, bukan berarti tidak asyik untuk ditinggali, walaupun macet-cet justru orang berlomba2 untung mengais rejeki di jakarta ini. Entah sampai kapan orang akan berduyun2 ke jakarta. Secara pribadi gua lahir dan dibesarkan dijakarta sehingga takkala pulang ke jkt segera dapat beradaptasi dengan mudah, walaupun macet dan bertambah sumpek tetap saja aku enjoy, malah aku merasa berada dikomunitasku, merasa welcome banget ketika aku menginjakkan kakiku di tanah kelahiranku ini.
Adanya busway, yang disinyalir menambah macet jalan2 yang dilaluinya, bukan berarti sebuah kegagalan sutiyoso sebagai penggagas transportasi masal tersebut. Jumlah bus yang menurutku sangat sedikit untuk ukuran jakarta, dan jalan2 yang sempit menjadikan model transportasi ini agak kurang handal bila dibandingkan angkutan sejenis di negara lain. Tapi dengan adanya busway masyarakat paling tidak dapat memilih model transportasi yang mereka ingini, perkara kenyamanan itu nomor kesekian, yang jelas secara pribadi gua cukup terbantu dengan adanya transportasi ini, jalan2 ke mangga dua dan dusit menjadi semakin cepat dan murah.
Bicara kuliner, wah ini yang paling asik. Hampir di setiap sudut jalan, perempatan, pertokoan, mall menyediakan jajanan yang tentunya membuat perutku semakin buncit. Pasalnya di jerman jadwal makanku sangat teratur, saking teraturnya bisa dibilang kurang makan, makannya kurus-rus. Nah di jkt waktunya menambah gizi, walau sebenarnya bukan gizi yg didapat tapi bisa jadi penyakit setelah beberapa tahun kedepan. Sebut saja bubur ayam, tinggal dapetng ke iwan, penjual bubur ayam yang mangkal dekat rumah, mpok uyeh si penjual nasi udk, mpok juul penjual nasi ulam, ada lagi penjual lontoong sayur, semua itu jajanan untuk sarapan. Setelah agak sing sedikit, muncul tukang ketoprak, asinan, kueh rangi, bubur sumsum, pokoknya jajanan tersebut semua lewat depan rumah. Apalagi…. mas slamet penjual bakso langgananku, luarbiasa baksonya mantaf dech, plus es campurnya lumayan lah untuk ungkuran kampung, semuanya itu gak jauh dari rumah. Agak malem sedikit lewat sate ayam, yang baisa cuma 1 kali sekarang bsia 3-4 kali lewat depan rumah, belum lagi tukang nasi goreng mau, dulu aku harus nungguin sampe malem baru nongol, kadang kalo kelaperan harus kedepan gang cari2 apa masih ada yg jual, sekarang banyak tersedia, yang mangkal sekarang juga ada.
Untuk komunikasi, tukang2 fotokopi wah sudah menjamur, gerai penjual pulsa dan vocer telfon sudah banyak sekali gak perlu repot kalo pulsa habis tinggal kedepan saja, atau minggir sedikit ada toko yg jual vocer, sekalian beli makan/jajan.
Namun hal itu semua merupakan imbas dari naiknya harga BBM 2005 lalu, orang dikampung menjadi susah hidupnya sehingga banyak yang memutuskan untuk ke jakarta mengadu nasib, apa saja dilakukan asalkan bisa berpenghasilan, sehingga bisa dilihat makin banyaknya orang yang bekerja di sektor informal. Naiknya harga BBM 2005 lalu menurutku menjadikan inflasi makin tinggi, sebut saja 2003 lalu aku beli nasi goreng 3000 perak, sekarang harganya 6000 perak, padahal itu baru 5 tahun, sudah 2 kali lipat atau inflasi 100 persen, padahal kalo inflasi 10 persen aja dalam kurun waktu 5 tahun harga nasi goreng gak perlu naik jadi sampe 6000. Paling cuma 4500 atau 5000 paling mahal.
Hidup patut disyukuri, walaupun sulit, sesulit apapun, masih banyak orang dinegara lain yang memimpikan kedamaian karena negaranya berkecamuk perang. Di jakarta ternyata orang masih bisa hidup dan mencari sesuap nasi.