Siapa sih yang gak ingin tinggal dikampung halaman sendiri? ya jelas semua orang ingin tinggal dan hidup dekat dengan orang2 yang ia cintai, namun kadang orang punya pilihan lain, pilihan berpisah dengan keluarganya disebabkan menuntut ilmu atau mencari penghidupan yang layak dinegara orang, semua itu adalah konsekwensi pilihan hidup. Awal2 ketika ingin berangkat dan tiba di perantauan penuh dengan semangat yang membara, maklum tangki masih penuh, siap untuk beberapa tahun kedepan.
Setelah satu tahun, banyak sekali pengalaman yang didapat, selain ilmu tentunya, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru, kebiasaan orang2 lokal yang baik, mau tidak mau harus kita adaptasi. Interaksi dengan lingkungan sangat perlu untuk menghilangkan gegar budaya. Pokoknya tahun pertama sangat berkesan.
Tahun kedua mulailah merasakan kerasnya hidup disini, setelah tahun pertama adaptasi dan jalan2, ditahun tersebut mau tidak mau kita harus survive, cari makan sendiri apapun dilakukan agar dapur tetap ngebul. Beruntung hidup diperantauan tidaklah sesulit hidup ditanah air, hanya dengan cuci piringpun orang bisa hidup kenyang, pokoknya bisa makanlah. Makannya banyak sekali saudara2 kita ditanah air yang bela2in keluar negeri baik sebagai mahasiswa, peneliti, professional bahkan buruh, ada yang beruntung dan ada pula yang buntung (bahkan secara fisik loh). Gak heran mengapa mereka ingin keluar dari tanah air, bukannya mereka tidak cinta dengan sanak keluarganya tapi karena himpitan ekonomi yang semakin kuat dan kehidupan di tanah air yang semakin brutal, membulatkan tekad mereka untuk bisa hidup lebih baik walau harus berpisah dengan orang yang mereka sayangi.
Tahun ketiga, wah rasa bosan berkecamuk, bagi yang hidup dengan keluarganya (anak, istri) masih bisa lah meredam keinginan untuk bersua keluarga besar, orang tua, saudara dan sanak-kerabat, tapi yang berpisah dengan mereka, bukan main rasanya kangeen…… banget miss u honey
, homesick orang amrik bilang, Heimweg kara orang sini. Makannya perlu sekali menyibukkan diri agar rasa bosan tersebut teratasi walau hanya sebentar saja, bisa dengan nge-blog, olahraga, berkumpul bersama baik dalam diskusi atau pengajian tentu itu lebih baik, malah teman2 disini untuk mengusir rasa bosan akan suasana disini mereka bekerja, selain rasa bosan yang sedikit terobati, tabungan membengkak dengan sendirinya
.
Sehingga sebagai manusia yg beriman, rasa bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan perlu dkita camkan baik2, agar kita tidak menjadi orang yang melampaui batas, mudah2an-insyaallah.


August 7, 2008 at 11:40 am
paling enak memang tinggal di negara sendiri….
August 7, 2008 at 12:41 pm
Saya belum pernah merantau lama sih, tapi kadang ada gelora untuk melkukan perantauan.
August 7, 2008 at 2:47 pm
hiks…2 mingguan ini aku bener2 home sick mas…:( rasanya kok jakarta tidak terjangkau ya, padahal cuman kurang lebih cuman 2 jam dari sini….kangen pulang
August 7, 2008 at 4:43 pm
Wah berarti bos Ario udah kaya nih.. kerja terus kan..
August 7, 2008 at 5:07 pm
Biar bagaimanapun keadannya, Indonesia pasti bangkit. Ayo dukung Indonesia. Indonesia Tanah Air kita, Pusaka Abadi Nan Jaya. Dirgahayu RI (lho,kok sampek gini komennya,xixi).. Aniwei, semoga sukses di perantauan
August 7, 2008 at 6:11 pm
Salam kenal, Resi Bismo (kalau namanya Resi, biasanya arif dan bijaksana …. )
Saya belum pernah merantau, jadi nggak tahu bagaimana rasanya home sick. Paling-paling pergi jalan-jalan beberapa minggu, dan karena sibuk dengan berbagai acara, nggak ngerasa kalau jauh dari rumah.
Btw, cerita dong tentang budaya, kota-kota, dan segalanya di Jerman. Saya cuma sempat 2 hari di Berlin, jadi hanya tahu sangat sepintas.
Terimakasih, salam.
August 7, 2008 at 6:31 pm
whoaaaa kangen kampung halaman…Jakarta tercinta……
August 7, 2008 at 8:45 pm
Mas Ario,
Mengingatkan saya waktu masih single di Toronto, Soal materi dan duniawi memang terpenuhi tetapi kebutuhan rohani kadang terasa gersang, hampa dan kehausan. Saya dulu kalau lagi kangen sama keluarga malah menjerumuskan diri untuk bekerja. Saya pernah punya 3 pekerjaan sekaligus. Full time saya kerja sebagai clerk di sebuah perusahaan Pharmacy di Toronto setiap Senin – Jumat dari jam 8 am – 4:30 pm. Malamnya kerja di Coffee shop dari jam 6:30 – 11:00 pm dan Sabtu, Minggu kerja di Marciano by Guess di Eaton Center 8 jam sehari.
Waktu itu seperti tidak ada kehidupan pribadi hanya bekerja dan mengumpulkan dolar untuk masa depan dan sedikit membantu keluarga kakak-kakak saya di Indo dan sedikit membahagiakan Ibu saya dan hal-hal seperti itu yang membuat saya bertahan, berbahagia dan bersyukur bisa mendapatkan kesempatan tinggal di Canada.
Alhamdullillah Tuhan memberikan jodoh kepada saya dan sekarang kehidupan saya sudah mulai bergunga bunga. Karena ada suami bersama saya.
Terima kasih
August 7, 2008 at 9:25 pm
Percayalah, yang diam terus menerus di Indonesia malah suntuk melihat negara ini ngga maju-maju. Setiap hari malah makin banyak yang mengkhawatirkan yang terlihat dan terdengar. Saya malah kangen sama ICE-nya Jerman. Disini Bandung Jakarta naik travel yang nyopirnya ke bahu jalan sebelah kiri. Hmmmm…., Indonesia…., sedang menuju kemana kah?
Nikmatilah tinggal disana, kalau ada kesempatan kerjalah disana, tapi…. pikirkanlah sesuatu yang bisa dilakukan untuk Indonesia dari sana. Kangen orang tua, nabung saja yang banyak, tengoklah mereka jika kangen.
Salam dari Bandung Utara,
Arry Akhmad Arman
August 8, 2008 at 12:48 am
Bener banget…, seenak2nya ditempat orang lebih enak ditempat sendiri..Apalagi bisa bersama keluarga emmm….
Aku juga lagi ngerasaainnya sekarang aku pengen pulang kekampung halamanku hick…hick…,
Ehh….maaf lam kenal yah…
August 8, 2008 at 2:01 am
Pasti itu Bos…
Homesick juga suka bikin low motivation…
Tapi kayanya kalo sang anak dan istri dibawa sangat membantu…
Sering-sering aja kopdar ma temen2 dr Indonesia yg ada di sana, pasti asik…
August 8, 2008 at 3:14 am
Pulanglah mas … saya tunggu dirumah
Halah …
August 8, 2008 at 5:07 am
Aq belum pernah merantau, dulu aq kira bakalan merantau di Jakarta tuk kerja di sana hehe… Walo masih di tanah air tapi kan jauh juga dari Gresik…
tetep aja namanya merantau yaa….
hiks… sedih juga mendengarnya…
Ehm… Tapi Allah merencanakan lain, Abis kul malah balik ke kampung tuk dan dapat rejeki di sini
Ada kalanya merantau di negeri orang bisa tune in… mudah dalam segalanya, baik adaptasi, mencukupi kebutuhan hidup maupun menjaga dapur tuk tetap ngepul…
Tapi kemarin malah aq denger dari temenku yang di kuwait, ada beberapa orang indonesia disana yg bermasalah dengan urusan imigrasi, ada yang bermasalah dengan pekerjaannya, bahkan yg lebih menyedihkan, ada wanita yang dapet pelecehan seksual
Ya… semua kembali ke diri kita masing-masing…
Sabar dan bersyukur dengan keadaan kita dan tetap ikhtiar tuk menghadapi ini semua…
Waaah…. maaf mas, ini comment terpanjangku di blog ini
Dah lama gak mampir…
Pa kabar…
Keep spirit yaa… walo gih Heimweg…
Wassalam
August 8, 2008 at 7:57 am
wah…saya sudah hampir 1,5 bulan dijakarta, MALES bgt.
pengen pulangg
August 8, 2008 at 11:26 am
Yang jelas nyari rejekinya makin semangat kan mas, demi keluarga dan buah hati kelak……:D
August 8, 2008 at 12:29 pm
melow lagi ;p dasar penganten baru huehehehehee….
hiks2 jadi kangen mama…
tapi emang suka kangen klo kita jauh dari orang yg kita sayangi
August 8, 2008 at 1:09 pm
melankolis juga awak iko hehehe terbayang kampun nan jauh dimato
August 8, 2008 at 1:52 pm
SEJAK USIA 13..SAYA SUDAH JAUH DARI ORANG TUA…HINGGA MEMASUKI UMUR 27 SEPERTI SEKARANG…MASIH JAUH DARI ORANG TUA DAN KAMPUNG HALAMAN….ALHAMDULILAH NGGA ADA HAMBATAN YANG BERARTI…
YANG SABAR YA PAK….:-)
August 9, 2008 at 7:27 am
Kadang saya merasa aneh sendiri, bisa dibilang tidak pernah merasakan homesick. Sering tidak merasakan kalau saya punya kampung halaman, yang ada di benak saya, kota yang didiami orang tua saya, tempat saya lahir dan tumbuh semata-semata hanya kota dimana orang tua saya sedang berada. Kota Jakarta dan kota-kota lain yang pernah saya singgahi lebih mempertegas kekinian yang saya rasakan dibanding memory tentang suatu tempat yang orang banyak menyebutnya sebagai kampung halaman. Entah kalau kelak saya tinggal di negara yang berbeda dan berjauhan dengan kota tempat tinggal orang tua saya, apakah kelak saya bisa merasakan itu? Ataukah kelak insyaallah ketika Allah mengaruniai usia yang panjang apakah saya mulai mempertanyakan suatu tempat yang disebut kampung halaman? Ataukah ini pengaruh kemudahan manusia dalam mengatasi jarak dan waktu ketika bepergian dan berkomunikasi sehingga lupa tentang jarak yang membatasi dengan tempat asal dan anggota keluarga serta individu-individu yang lainnya?
August 9, 2008 at 7:38 am
aku juga sang perantau
tapi perantau kacangan
salam semangat sobat
August 9, 2008 at 7:58 am
hehe.. aku juga perantau…
namun perantau yang lebih dudulz dari pada sobat achoey..
salam kenal mas..
August 10, 2008 at 1:03 pm
Ario,
Justru itulah, saya mendorong si sulung agar menyusul isterinya. Agar mereka bisa benar-benar merasakan kehidupan berkeluarga…..jika tak ada aral melintang akan berangkat tanggal 27 Agustus ini. Dan kemungkinan juga berkumpulnya cuma sebentar karena bulan Oktober, kalau tak ada aral melintang akan mulai kuliah lagi…dan jaraknya cukup jauh, tapi masih di Amerika, jadi tetap lebih dekat dibanding jika di Indonesia.
August 13, 2008 at 10:40 am
Teringat saat aku masih di rantau….
Hidup sendiri….
Tapi itulah proses kemandirian…..
Belajar berjuang dengan tangan sendiri….
October 23, 2008 at 8:37 pm
mas…
aku setengah tahun disini antara belum homseick sihh..
cuman ada tiket murah yang menggiurkan ntar, cuman 500an euro pp..
jadi bingung, libur akhir tahun di jakarta gak yaaaa
hahahha
November 3, 2008 at 4:19 pm
merantau itu menydihkann
March 11, 2009 at 6:49 am
Merantau..enjoy aja lagi. Coz aq udah terbiasa cih hidup ga sama ortu n saudara