Archive for November, 2008

PEMILU ‘09 antara ya, abstain dan secerca harapan

November 15, 2008

Sebentar lagi pemilu, gonjang ganjing dunia politik semakin meninggi intensitasnya. Masing2 partai politik berusaha sedemikian rupa menarik simpati rakyat dengan berbagai macam cara agar rakyat memilih salah satu diantara mereka. Dari presiden, wapres, mentri anggota DPR pun tidak ketinggalan kaum independen turut serta. Tak ayal muncur pertanyaan, kemana aja mereka selama ini? “kemaren kemane aje bang! ” orang betawi bilang.

Ada yang mengusung dirinya lewat iklan2 bermiliyar ongkosnya, ada yang menjual ideologi bahwa harapan itu masih ada, yang mengaku peduli pada wong cilik pada hal kita tahu mereka adalah orang2 licik juga tidak ketinggalan. Lain lagi dengan incumbent yang gemar tebar pesona, wakilnya yang gemar tuduh sana tuduh sini, komentar sana-komentar sini, beberapa mantan petinggi angkatan  yang bermetaformosis menjadi politikus mengklaim dirinya peduli pada petani, orang miskin di pesisir pantai atau bahkan membuat partai baru karena kendarakan politiknya dimasa lalu sudah penuh “sewa”.

Hohohoh kasihan benar rakyat indonesia ini hidupnya selalu diombangambingkan dan diperdagangkan…… :( . Para cendikia sibuk akan urusan kampus, proyek dan nyambi sebagai konsultan, “biar dapur tetep ngebul”, katanya. Pelajar makin gemar tawuran, anehnya kakaknya yang mahasiswa gak mau kalah. Para pekerja professional sibuk cari2 lowongan di LN biar cepat2 minggat dari kapal negeri yang hampir karam ini, yang sudah di LN ogah pulang. Apa lagi yang sedang belajar, berusaha agar setelah lulus tidak segera pulang. Yang lagi thesis makin stress karena tak jelas masa depan setelah lulus dan pulang nanti. TKW tanpa skill memadahi makin banyak di ekspor guna mempergemuk devisa negara. dan lain2. Yang tersisa hanya mbok2 penjual daun pisang dipasar yang hanya  berusaha agar bisa makan hari ini, anak2 kecil yang putus sekolah, gadis2 ingusan yang dijual dan diperdagangkan, bocah2 di perempatan lampu lalin. Dan saya tak ketinggalan…siapa yang peduli!

Akankah pemilu 09 menyimpan secerca harapan, atau hanya pengulangan pesta demokrasi lima tahunan?

Akankah pemilu 09 menghasilkan anggota dewan bijak atau semakin bejat?

Akankah pemilu 09 saya nyoblos atau bolos?

Saya yakin secerca harapan itu masih ada, tapi biarlah rakyat yang menentukan akan masa depannya, sedangkan saya masih ada mengembara, berkutat dengan keseharian yang biasa saja dan sepertinya akan alpa.

antara ya dan tidak

November 15, 2008

Penting untuk diketahui kebiasaan dan kultur masing2 bangsa. Di tanah air budaya untuk mengatakan tidak, rasanya jarang diungkapkan secara langsung, biasanya digunakan bahasa lain guna menguatkan keputusan yang akan diambil, bisa dengan dilakukan mimik, gaya bicara, olah tubuh dan sebagainya, tentunya ini sah2 saja jika memang begitu kaidah masyarakat setempat. Mengapa ini perlu dilakukan? ya budaya timur sangat menganut tepa selira, bagaimana sebuah keputusan dijatuhkan tanpa menyinggung perasaan orang lain. Sehingga jika kita mendapat sebuah keputusan antara ya dan tidak, bisa disimpulkan hasilnya adalah tidak.

Lain halnya jika kita berada di belahan dunia lain khususnya eropa. Mereka akan berkata ya, jika iya, dan tidak jika tidak. Bahkan tanpa memberi alasan dibalik keputusan itu semua. Dan orang pun tidak akan merasa tersinggung dengan keputusan tersebut. Jadi tidak ada basa basi apa lagi muter2 dengan berbagai argumentasi untuk menghasilkan sebuah. Malah jika kita mendapat sebuah pertanyaan atau pilihan dan kita  tidak menjawab langsung atau justru menjawab dengan berbagai macam argumen yang kadang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan tsb, mereka justu akan merasa dilecehkan. Pengalaman penulis seperti itu halnya.

Jadi bila kita berada dalam lingkungan atau grup yang homogen, kenali baik2 kultur dan sifat lingkungan tersebut, jangan sampai karena kekurangpahaman kita tentang kultur sebuah komunitas, semuanya jadi berantakan.