seonggok jiwa yang sunyi

December 26, 2008

Waktu berlalu bagaikan aliran debu
menerjang badai menggumpal nan kelabu
andaikan ku bersujud lebih dihadapanMu
Rabbi sungguh betapa beruntungnya diriku

Ingat-ingatlah wahai hamba yang congkak
perangai buruk hendaklah ditindak
coba-cobalah pejam kelopak mata
laksana ajal mendekat menerjang sukma

Wahai seonggok jiwa yang sunyi
ingatlah akan kehidupan yang hakiki
seolah tak kuasa menggendalikan diri
terjerembab akan kemilauan duniawi

Sabar-sabarlah wahai pejuang
niscaya waktumu ‘kan menjelang
berbuat budi amalkan perbuatan
hingga hayat meninggalkan badan

Tags: , ,

5 Responses to “seonggok jiwa yang sunyi”

  1. edratna Says:

    Kangen?
    Sabaar……hanya itu yang penting…

    kalo yangen dah pasti, tante…
    cuma postingan diatas gak ada sangkut pautnya dengan kangen orang rumah…
    ini cuma mengingatkan ttg kehidupan dunia yang tidak kekal.

  2. alfaroby Says:

    sabar dan terus bersyukur dan menyukuri segala apapun yang telah diberikan Tuhan pada kita

    akur deh, juragan…


  3. hmm…..semangat dan sangat bersemangat postinganmu,sahabat. blue suka banget!
    salam hangat selalu

    sukur deh bro kalo ente apresiasi postinganku.. sukses juga yach buat kamu.

  4. Nug Says:

    Memang tak ada kekalan kehidupan sahabatku
    Kecuali jiwa2 yang nantinya juga akan kembali padaNYA

    Sementara wujud fisik ini memang hanya mendapat tugas sementara.. dalam sebuah periode kehidupan yang sempit. Hanya beberapa tahun saja..

    Lalu, akankah kita sia-siakan waktu yang terbatas itu?
    Bulatkan tekatmu sahabat.. Semua energi positifmu yang terbatas itu kita perlukan untuk bekal perjalanan kehidupan abadi kita kelak..

    Teruslah berjuang sahabatku.. :)

  5. agoyyoga Says:

    Hmm… something that bother my self too. Wish a better days in 1430H, bro.


Leave a Reply