Semakin parah saja, begitulah bisa dibilang. Pemadaman listrik bergilir tidak hanya terjadi di daerah di seluruh indonesia, tapi telah menyentuh wilayah yang sangat vital yakni jakarta dan sekitarnya. Kota dimana nadi perekonomian bangsa berdenyut. Tak ayal pemadaman ini membuat warga kesal, salah seorang warga berang pasalnya ketika ia telat sehari saja membayar listrik, langsung kena denda bahkan yang ekstrimnya sambungan listrik dari PLN bisa diputus. “eh gilirah udha bayar, PLNnya yang matiin lampu, lah pan bijimane kalo kite lagi kerja”.
Itulah sekelumit kisah sebuah negeri yang kaya akan sumber energi, dengan presiden baru, kabinet baru tetapi masih mengusung semangat lama, tak terlihat perubahan mendasar yang berarti, namun kita lihat dalam 100 hari. Apakah proyek 2 energi akan terus berjalan walaupun sang penggagasnya telah lengser? atau sebaliknya, proyek2 bagus akan mati seiring dengan lengsernya pejabat yg berwenang. Kita nantikan saja…
Tags: listrik


November 12, 2009 at 5:58 am
begitulah keadaannya mas Ario, saya juga ngga menyangka Jakarta bakalan terkena pemadaman bergilir dari PLN. Jakarta gitu loh.. ibukota negara.
Di Manado lebih parah udah sejak sebelum bulan ramadhan lalu sampe skr makin kesini makin parah, nyaris tiap hari mati lampu, ga tanggung2 bisa 8 jam sehari atau lebih. ga hanya kerjaan orang kantoran yg terganggu tp ibu rumah tangga juga. parah pokonya.
kalau di tempat saya (Kotamobagu, 3 jam dari kota Manado, Sulut) alhamdulillah sangat jarang listrik dari PLN mati, sangat jarang.
kecuali untuk permintaan penambahan daya tidak diijinkan oleh PLN (lah iya, wong pasokan aja kurang), tapi kalo sampei tiap hari mati alhamdulillah ngga terjadi.
kita berharap pemerintah lanjutan ini bisa sangat-sangat memberi tindakan real segera kpd masyarakat yang sangat terganggu dengan keadaan ini. masyarakat ngga nuntut yang aneh-aneh dulu, sumber energi listrik kembali normal itu saja dulu, demi kelancaran kehidupan sehari-hari..
November 12, 2009 at 6:26 am
sepertinya untuk mengharapkan Indonesia bebas dari pemadaman listrik membutuhkan waktu yang amat lama…
November 12, 2009 at 10:03 am
Mas iyo…hihihihi alik lagi dirimu…sering2lah update blog
mengenai mati listri…kayaknya aku kenyang disini mas…masih mending dijakarta memang sumber energinya jauh nahhh di Duri Kota minya, kenapa ya gas buangan fler2 itu gak di manfaatin aja jadi tenanga listrik? dan gas yg di Jambi malah gak mampir ke riau langsung ke singapore? hehehe..
dan ketika disini mati lampu di camp CPI akan terang bederang karena mereka punya pembangkit listrik sendiri di field minyak
November 13, 2009 at 1:12 am
Hehehe…sabaar mas…
Kayaknya kesabaran harus menjadi menu sehari-hari kita, daripada stres, sakit jantung, stroke dsb nya.
Berangkat dan pulang kantor terjebak macet, mati lampu menambah parah keadaan, tapi kalau kita uring2an, kita sendiri yang sakit.
Saya jadi rajin, cepet2 mandi jika lampu masih nyala, keburu mati lampu. Hal2 yang biasanya ditunda, segera dikerjakan mumpung lampu hidup…..jadi, ada juga faedahnya, berarti selama ini saya kurang produksif atau kurang efektif. Tapi kasihan dengan industri yang sangat tergantung pada listrik, pasti mengalami kerugian yang besar sekali