Awalnya, ketika menginjakkan kaki di bumi tempat kelahiran Einstein ini, saya pikir hidup di eropa sama dengan tinggal di amerika serikat, seperti yang dulu kita lihat di filem2 hollywood, hidup dengan bergemilangan kekayaan, mobil yang bagus berseliweran di highway, gedung2 pencakar langit bertebaran disetiap kota. Namun ketika tinggal dijerman, saya kaget bin terheran2. Boro2 gedung pencakar langit, yang ada cuma satu gedung tinggi, kantor dinas soasial dan kependudukan-nya wilayah karlsruhe. Ternyata rakyat disini juga sangatlah berbeda, mereka hidup normal2 saja, tidak bermewah2, kemana2 naik sepeda, hampir setiap keluarga memiliki mobil pribadi tapi dengan kapasitas mesin yang kecil, kalaupun naik mobil pribadi untuk bekerja mereka berhenti di stasiun kereta lalu memarkirkan mobil/sepeda disitu dan kemudian naik kereta/trem, pas sekali untuk program penghematan energi, sehingga gak perlu mengiklankan jargon2 apalagi pake acara ceremony, gerakan ini lah itulah, hehehhe no offense!.
Karena tidak memiliki sumber alam yang melimpah bahkan bisa dikatakan miskin sumber energi, negara ini memusatkan pembangunannya pada SDM. Gaji yang diterima seorang pekerja akan dipotong kisaran 35-50 persen dan dikelola untuk biaya pembangunan, olehkarenanya bisa ditemukan sekolah, rumah sakit gratis, juga layanan umum seperti tram, kereta api dan bus semua infrastruktur terbangun dengan rapih dan penuh perencanaan. Jadi tak heran kalau jalan raya diisi oleh tram, bus, mobil sepeda dan pejalan kaki, semua ada jalu2nya, bahkan kadang jalan raya terdapat juga jalur tram, seingga bisa dipakai bersamaan.
Kesederhanaan hidup orang jerman juga saya acungi jempol, sering saya perhatikan anak2 indo di Karlsruhe ini suka gonta ganti telefon genggam, dari yang 3G, 2G ataupun bisa nge-bros di HP atau sekelas PDA rata2 hampir punya semua sorry to say, kecuali gua, yang beli HP baru karena HP yang lama rusak, itu juga milih2 yang paling murah dengan fasilitas paling minimum dan kalo bisa ada tarif gratis 3 bulan
, orang jerman saya lihat HPnya kuno bin standar, malah kalo dilihat ada ringtone ya masih yang mono jama2n HP diindo tahun 90-an, masih jadul punya. Untuk soal pakaian dan mode lumayan bergaya, walau kalo dibandingkan sama orang prancis gaya orang jerman culun punya banget. Secara gw lebih suka modenya orang2 prancis. Gak jarang mereka beli pakaian bekas, atau alat2, perkakas bekas asal fungsinya masih baik, nah barang2 bekas ini terkadang kita jumpai di pasar loak (Flohmarkt), jangan di samakan dengan pasar loak di indo, pasar loak disini barangnya sangat berkualitas apalagi kalo pasarnya deket rumah2 orang kaya pasti barangnya bermerek. Gue juga sesekali beli baju sama celana 3/4 disini selain murah banget juga kualitasnya masih bagus, pernah beli kalkulator, harga ditoko 20 Euro, trus gw cuma beli 2 euro dapet hadiah radio kecil, hemat khan?
Tapi gak semua lini hidup mereka bisa dikatakan hemat, untuk urusan hang out atau minum2 kopi/nge-bir di cafe atau kedai/Kneipe orang jerman bisa dikatakan boros, juga urusan rokok, hampir saya amati dan temukan perempuan jerman yang merokok, apa lagi rokok disini mahalnya minta ampun.
Jadi ada banyak hal2 positif yang kita bisa pelajari dari luar ttg gaya hidup, kebiasaan, kualitas kerja, semua bisa kita pilah dan ambil serta dijadikan bahan rujukan ketika nanti pulang ketanah air, sehingga bermanfaat untuk kemajuan indonesia, jadi anggota DPR sebenarnya gak perlu tuh mengadakan studi banding ke LN segala, ujung2nya pasti jalan2, belanja dan tamasya, udah banyak student yang lihat kok, itu pemborosan anggaran namanya, kasihan rakyat semakin menderita.