Archive for the 'Keluargaku' Category

You Make Me Feel Brand New

December 18, 2008

Kupersembahkan lagu ini untuk istriku tersayang, i miss u much honey… ich vermiesse Dich sehr…

My love
I’ll never find the words, my love
To tell you how I feel, my love
Mere words could not explain
Precious love
You held my life within your hands
Created everything I am
Taught me how to live again

Only you
Cared when I needed a friend
Believed in me through thick and thin
This song is for you
Filled with gratitude and love

God bless you
You make me feel brand new
For God blessed me with you
You make me feel brand new
I sing this song ’cause you
Make me feel brand new

My love
Whenever I was insecure
You built me up and made me sure
You gave my pride back to me
Precious friend
you I’ll always have a friend
You’re someone who I can depend
To walk a path that sometime ends

Without you
My life has no meaning or rhyme
*)
Like notes to a song out of time
How can I repay
You for having faith in me

*)rada berbau syirik jadi kudu di coret, peace!

mbak ecy

July 24, 2008

Dari kiri ke kanan: Kakak ipar, atikah, aku, istriku, aisyah dan mbak ecy.

Tebak siapa orang lain yang jasanya begitu besar kepada lancarnya proses pernikahan kami? taklain adalah mbakku sendiri. Mbak Elsy Rahajeng, mbak ecy, umi atau ngengeng biasa aku panggil dia, kakakku satu2nya, umurnya 5 tahun lebih tua dariku, tingginya 164cm, lumayan tinggi untuk perempuan seumurannya. Dari menjaga, memomong, ngajarin makan, ngajak jalan2 saat emak dan bapak tak ada dirumah, telah ia lakukan, sampai sekarangpun ia sangat tulus membantuku dalam segala hal.

Mbak ecy yang sangat mobile, enerjik dan seneng keluyuran membuat kami, orang rumah, menyebutnya raja jalanan :) . Walau berbalut jilbab rapat kerudung sampai kebawah dada, dulu malah pake gamis, yg gombrong2, sekarang lumayan modis, bukan berarti mobilitasnya terbatasi, malah semenjak punya 2 anak dan ada motor dirumah mungkin hampir separuh jalanan jakarta sudah ia taklukkan. Orangnya lumayan rame, kadang kalo lagi bicara aku males dengerinnya, soalnya ceritanya ituuu melulu. Saat aku pulang kerumah setelah kami 5 tahun tidak bersua, ia menangis terisak2 menanyakan kamu kemana aja sih yo.. kok gak pernah pulang2. Sorry sis, tapi aku khan udah pulang kemaren menjenguk dikau. Ia bilang padaku bahwa semenjak aku pergi, ia suka teringat padaku, terutama tentang makanan2 kesukaanku.

Dia yang telah menjembatani hububungan dengan seorang gadis yang sekarang menjadi istriku, mulai dari mengontaknya, bertemu dengannnya membawa proposalku, bersilaturahim dengan orangtuanya, berperanjuga sebagai penasihat pribadiku tentang masalah2 kewanitaan. Jujur aku bangga punya kakak perempuan yang shalihah, luar biasa andilnya terhadap keluarga, walau dilain hal banyak sekali kekurangan yang dimilikinya, tapi tanpa melalui dia bisa jadi tak ada pernikahan diantara kami.

Selamat untuk mbak yang minggu lalu telah menyelesaikan studi magister di universitas indonesia dalam bidang teknologi informasi, semoga semua ilmu yang telah engkau dapatkan dapat bermanfaat bagi dirimu juga orang lain. Terima kasih mbak ku atas semua pengorbanan yang telah engkau lakukan untukku, hanya Allah SWT yang dapat membalas semua kebaikanmu.

aku dan dia (bagian 1)

July 22, 2008

Tak disangka pertemuan sepuluh tahun itu berlanjut ke sebuah pernikahan atau perjanjian yang sangat berat (Mitsaaqan Ghalizha). Berawal dari sebuah kampus hijau nan asri di kawasan depok, jawa barat, kami pun di pertemukan secara tidak disengaja. Ya, kami adalah kollega, alias teman sekelas. Sesosok perempuan dengan tubuh ramping tinggi semampai berbalut jilbab putih yang menutupi tubuhnya sampai kebawah dadanya kecuali tangan dan muka tentunya, menarik perhatianku. Sosoknya yang sederhana dan agak menjaga jarak dari pria2 yang berusaha mendekatinya membuatku bertanya2 siapa gerangan perempuan ini. Lamunan pendekku segera bunyar takkala Teguh, seorang sahabat teman bertukar pikiran juga teman sekelas kita, menegurku “assalamualaikum… ehhh ente kok bengong sih?” “ahhh.. enggak, cuman.. cuma itu, eh anu.. “, ujarku. ah kok jadi nervous gini seh, dalam hatiku. “Ente ngelihatin dia yach?” ujarnya. “Ah enggak kok, cuma ngelihat doang khan gak apa2 asal jangan kelamaan”:), selorohku.

Aku tidak banyak mengenalnya seperti teman2 wanitaku yang lain, maklum dengan kuliah di dua tempat aku pun harus sering mengejar kereta ke kota untuk menghadiri kelas di kampus lain, ku hanya punya kawan baik, yaitu teguh, ya… seorang yang telah jasanya luar biasa terhadap kami khususnya aku, karena dialah yang memberikan nomor telfon rumah orang yang kelak akan menjadi istriku. Thanks God you are the man.

Singkat cerita gak ada obrolah yang dalem diantara kita, hanya sebatas hai, apa kabar. Hari-hari berlalu begitu cepat sampai suatu saat aku dihadapkan oleh sebuah keputusan bahwa aku harus memilih satu diantara 2 kampus. Akhirnya aku memilih meninggalkan kampus yang asri dan sejuk di kawasan depok tersebut, ku bertahan disana hanya setahun. Akupun berpisah dengannya, namun aku dikejutkan bahwa dia juga memutuskan untuk keluar dari kampus kami. Aku gak ngerti kenapa dia bisa memutuskan untuk mengambil keputusan seperti itu (belakangan setelah kami menikah aku ngerti alasan menagapa ia resign dari kampus di depok itu heheheh :) ).

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, kesendirian itu pun menggelayuti diriku, tepatnya di tahun 2006 takkala akhir2 masa kuliah selesai sebelum thesisku mulai, aku sedang iseng2 membuka buku telfon mini yang aku bawa dari tanah air. Dibuku itu tertera sebuah nama yang asing bagiku, kemudian aku ingat2 ternyata dia kawan sekelasku. “Apa kabar ya dirinya? apakah dia masih sendiri? apakah dia sudah menikah?” pertanyaan itu segera muncul dalam benakku. Saat itu bertepatan dengan bulan ramadhan, ku tengadahkan tanganku sambil berdoa selepas shalat, dan meminta kepada penciptaku agar mengirimkan salamku padanya. Selepas shalat aku telfon mbak dijakarta, ku minta agar menghubunginya, kebetulan no telfon ada diselehah namanya, minta mencari tahu apa dia masih “kosong” apa enggak. Selang beberapa hari aku telfon kerumah dan berita gembira menyerebak, dia masih “kosong”, mbak ecy begitu kakakku disebut, segera memberiku tips agar aku membuat CV, halah…. kyk lamaran kerja aja pake buat CV segala. Ya sudah, segera aku buat. Setelah itu CV pun aku buat, dengan mengubah CV lama, gak banyak yg diubah, maklum soalnya aku punya CV multiguna.

Aku enggak tahu dapet energi dari mana untuk buat CV itu, yang jelas Allah telah memudahkan jalanku untuk berhubungan dengannya melalui CV itu. Taklama kemudian CV siap dan langsung ku kirim via mail ke mbak, dan mbak  menyerahkan lsg kepadanya. Mbakku memberikan tenggat waktu apakah dia setuju apa tidak dengan proposal itu. Setelah menunggu beberapa minggu akhirnya aku dapat jawabannya, tereng..teng teng… Disela2 waktu itu aku terus berdoa kepada Allah dimalam bulan ramadhan agar aku dipertemukannya dalam mimpiku yang indah, dan alhamdulillah aku bertemu dengannya. Diapun ternyata demikian halnya, ia beristikharah dan bertemu denganku dalam mimpinya (“mas! doaku ternyata di ijabah Allah,” ini diutarakan nya padaku setelah kami menikah :) ). Alhamduliilah, dan jawabannya ia menerima niat baikku.

Aku agak bingung setelah menerima kabar itu “what am i gonna do?” was soll ich dann machen?” bingung sendiri. Akhirnya setelah 1,5 tahun aku datang kepadanya menunaikan janji dan niat baik itu. Setelah nikah aku bertanya kepadanya, “kamu kemana aja sih???” “Kamu tuh yang kemana aja… lama banget sih pulangnya” sambil ia bersungut2. Ya udah lah sayang, aku khan udah pulang dan telah ‘menjemputmu’ walau aku harus balik lagi karena urusan yg belum selesai. Yang jelas dan pasti kau sekarang resmi menjadi istriku, there is no distance between us anymore. (bersambung ke artikel 30 hari mencari cinta)

selamat tinggal kampung halaman

July 22, 2008

Alhamdulillah, aku telah mengunjungi hampir semua kerabatku di jakarta khususnya orang tua dan seorang kakak perempuan dan keluarganya. Rasanya luar biasa, tidak bertemu selama 5 tahun, ketika aku memasuki rumah, segera pecah isak tangis dan haru menggelayuti rumah itu, rumah dimana aku telah dibesarkan. Rumah yang tadinya lapang kini terasa sempit dan gelap, ada bagian2 yang sudah rapuh bahkan rusak. Kukecup kening emak dan kupeluk ia erat seakan tak mau berpisah lagi, kemudian kakak perempuanku, ia menangis terisak2,mereka adalah orang2 yang sangat aku sayangi, orang2 yang telah berjasa pada hidupku. Tak berapa lama bapak muncul selepas shalat maghrib di mushalah dekat rumah kami, aku kecup tangannya dan aku cium kedua belah pipinya serta tak lupa aku peluk dia erat2.

Banyak sekali yang telah berubah, generasi pun telah berganti. Kulihat disamping rumah pohon nangka yang tadinya kecil, sekarang telah berbuah lebat siap untuk disantap :) . Got pun yang tadinya menganga sekarang telah ditutup agar jalan terasa lapang dan tentunya menambah bersih lingkungan. Orang2 tua yang dulu ada kni lambat laun telah tiada, beberapa kawan kecilku telah meninggalkan desa, pergi bersama istri pilihannya.

Keesokkan harinya, tetangga2 segera mengenaliku bak seorang pahlawan aku dikerumuni, seolah tak sabar menanti cerita dan petualanganku hidup di negeri orang. Ya, bapak adalah salah tokoh masyarakat di rukun warga 05, hampir semua orang mengenalnya, sehingga tak heran kalo ada anaknya yang ‘tak terlihat’ sekian lama waktu mereka semua akan mengetahuinya. Kumulai bercerita ttg sifat dan watak orang jerman, kebiasaan budaya dan adat mereka, studi dan hidup disana, mereka menyimak dengan sangat antusias. Aku pun pamit karena ada keperluan. Kejadian itu berlanjut setiap kali aku melewati gang, atau jalan yang aku pernah lewati, berulang2 kadang aku tertahan bisa 10-15 menit. Sungguh aku senang bisa besar dan pernah hidup dilingkungan itu.

Setelah menikah, kini aku resmi meninggalkan kampung halaman, mampang prapatan, dimana semua kenangan masa kecil dan remaja menyatu semua dalam kalbu, otak dan pikiranku. Setelah akad nikah aku hidup dengan istriku dikampung lain, kampung yang belum sama sekali aku hidup didalamnya, dimana suatu saat disana kami akan merajut kasih, merealisasikan impian bersama, membentuk keluarga baru, membesarkan anak2 kami yang manis, insyaallah.