
Dia memacu mobil anyarnya dengan sigap maklumlah sang istri cantik nan jelita menunggu dirumah, “say sebentar lagi aku sampai rumah” ujarnya, malam itu menunjukkan pukul 9 malam, sudah hampir larut, begitulah kesibukan kesehariannya. Posisinya sebagai seorang project manager disalah satu perusahaan teknologi informasi kelas dunia dituntut melayani client yang membutuhkan konsultasi sehingga mobilitasnya pun sangat tinggi, belum lagi jika ada client dari lain benua ia pun harus siaga walau harus meninggalkan keluarganya berminggu2. Sebut saja bang X usia mendekati 40 tahun semua yang diimpi2kan oleh seorang pekerja telah ia dapat, tak ayal dengan salary lebih dari 60K Euro pertahun bersih belum termasuk tunjangan lain, status sosial tinggi dengan menyandang titel PhD dan sederet kemapanan hidup yang lain, menjadikan ia makin ‘betah’ untuk hidup berlama2 di negerinya Adolf Hitler ini. Ada lagi mas Y, ia bekerja sebagai research engineer di salah satu vendor automotive dunia, dengan titel Doktor in engineering ia pun menjadi salah satu anak bangsa yang menjadi pakar dalam bidangnya, segalanya pun telah ia dapatkan tak banyak berbeda dengan bang X, ‘betah’ juga tinggal di negeri Hitler ini. Keduanya adalah putra2 terbaik bangsa yang dikirm pemerintah di akhir 80-an untuk menuntut ilmu dinegeri ini.
Sebenarnya apa benar kedua orang tersebut ‘betah’ untuk berlama2 diluar negeri (LN)? Ternyata tidak! Sama seperti mereka yang lama tinggal di LN mereka anak2 bangsa itu ingin pulang dan berbakti menyumbangkan keahliannya pada bangsa dan negara, tapi apa lacur alih2 mereka pulang dan berbakti malah kemandegkan yang mereka alami, sebetulnya mereka telah pulang selepas menyelesaikan studinya di LN tapi mereka terbentur oleh kurangnya penghargaan pemerintah terhadap mereka terutama mengenai salary yang sangat kecil untuk seorang pakar seperti mereka. Belum lagi dengan sarana penunjang riset yang mereka butuhkah jauh dari layak. Hal tersebut hanya sebagian penyebab sehingga mereka memutuskan kembali ke LN dimana mereka dapat menemukan kebebasan berkarya dan berkontribusi sesuai dengan kepakaran mereka apalagi gaji yang didapatkan sangatlah layak untuk menunjang kehidupan mereka sekeluarga.
Itulah yang terjadi pada anak bangsa indonesia, anak2 bangsa yang memiliki talenta, kreativitas, inovasi (human capital) yang seharusnya dimanfaatkan sebaik2nya oleh pemerintah republik, disia-siakan oleh bangsanya sendiri. Sebuah kerugian yang teramat besar yang ditanggung bangsa ini mana kala putra2 terbaik bangsa mengabdi untuk kemajuan bangsa lain, meninggalkan bangsa indonesia yang semakin tidak jelas nasib dan masa depannya. Gagalnya transfer teknologi dan ilmu pengetahuan menyebabkan mundurnya kualitas bangsa secara keseluruhan dan ini telah terjadi. Negara harus pula merogoh kocek yang besar untuk mendatangkan ahli2 dan consultan asing dalam proyek2 pembangunan. Sebuah contoh yang dapat kita analisa bersama, ethiopia sebuah negeri miskin di afrika, memilik jumlah doktor di chichago USA lebih banyak ketimbang dinegaranya sendiri, tentunya ini sangat merugikan negara tsb. Dan masih banyak sekali negara lain yang dapat kita ambil contoh.
Sudah saatnya pemerintah RI memanggil pulang para anak2 bangsa yang ‘tercecer’ diberbagai belahan dunia untuk bersama membangun bangsa yang porak poranda ini. Pemerintah harus menyediakan ruang yg cukup kepada mereka, wadah tempat mereka bekerja, keleluasaan serta tunjangan dana dalam pengembangan riset dan pembangunan yg mereka lakukan, membuat strategic planning dalam pemanfaatan human capital yang inovativ, cerdas dan kreatif tsersebut. Pemerintah juga dituntut andil mensinergikan riset2 yang mereka lakukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa diberbagai bidang, mereformasi birokrasi, menegakkan hukum sehingga apa yang telah dicita2kan bangsa ini yakni brain gain dapat tercapai. Tidak usah jauh2 mengambil contoh tentang brain gain ini, malaysia ditahun akhir 60-an sampai medio 80-an mengirim putra2 bangsanya untuk menimba ilmu di tanah air, dan sekarang mereka lebih maju dari kita, karena mereka pandai dan cermat mengelola human capital yang telah mereka investasikan sebelumnya, salut dan selamat untuk malaysia. Dan bagaimana Indonesia? saya masih optimis dan harus selalu optimis didalam kecarutmarutan bangsa ini pasti masih ada secerca harapan agar bangsa ini lebih baik dimasa yang akan datang. Insyaallah.