Home » macam2 » siapa yang individualis…???

siapa yang individualis…???

November 2007
M T W T F S S
« Aug   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

nyang abis nyahi

  • 83,491 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

Pagi kemarin saya berangkat kekantor, seperti biasa, datang taro tas dan buka jaket, maklum musim dingin sekarang, sommer Zeit ist offiziel vorbei!!!. Trus ku nyalakan compie dan segera nge-print out beberapa lembar laporan, karena ada hal yang ingin kudiskusikan dengan kollega dikantor.

Segera ku turun ke lantai bawah untuk ambil hasil print out. Seperti biasa disana ada Sacha, ingineur asal moldova (Ex-USSR), dia menyapa, seperti biasanya, lalu dia mulai dengan sebuah informasi yang cukup mengagetkanku. ‘Hei, Ario weisst du dass unser Chef schon gestorben ist?’ ujarnya dengan suara dan datar seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ah was, loegst du dich oder was?’ ujarku. ‘Nein, uberhaupt nicht, ich erzahle dir die Wahrheit.’, lanjutnya. Begitulah kurang lebih percakapan kita jum’at kemarin.

Gak nyangka Mr. Goschnick pergi begitu cepat, karena serangan jantung, perasaan baru minggu kemarin dia sapa aku, bahwa dia akan pergi ke NY selama seminggu, dan dia menunggu report thesisku. God bye Mr. Goschnick.

Kembali ke pembicaraan ku dengan Sacha, aku bertanya padanya apakah dia akan menghadiri pemakaman beliau. Lalu dia berkata, ‘Ich weiss nocht nicht, ario, ob ich zum Begraben vorbeikommen kann’. Aku timpali kemudian, bahwa aku mau datang, pengen lihat gimana sih orang jerman dikuburr, sebab sudah 4 tahun gak pernah aku melihat penguburan. Sacha berkata: ‘weisst du ario, brauche ich nicht traurig zu sein, warum muss ich traurig, ich habe eigene Problemm, eigene Job und eigene Leben, ujarnya. Wah, gila juga nih orang, pikirku. Ternyata begini yah orang eropa, individualis, apa iya? apa ini hanya sekedar subjektiitasku saja ato bagaimana?. Menurutku tergantung kita melihat dari sudut pandang mana? Dari ucapan kollega Sacha tadi, jelas sekali ke-individualisme-an mereka. Bagaimana dengan sisi yang lain? seperti tunjangan sosial yang diberikan kepada para pengangguran? sekolah murah bahkan gratis? sarana transportasi yang nyaman, tingkat kriminalitas yang tinggi sangat rendah.

Bagaimana dengan di tanah air? jelas sekali jika tetangga kita meninggal tentu saja kita datang dan mengucapkan bela sungkawa, mendatangi penguburan, bahkan ikut tahlilan. Dari situ bisa dilihat sifat kekeluargaan bangsa kita. Tapi apakah itu mencerminkan kehidupan bangsa ini secara keseluruhan? jawabnya may be, yes may be no! Rasanya belum lepas dari ingatan kita tentang seorang bocah yang meninggal dirumah sakit, lalu karena tidak ada biaya, sang ayah menggendong anaknya yang sudah tidak bernyawa menaikin KRL jabotabek untuk dikuburkan di kampung halaman, maklum biaya penguburan di jakarta mahal, boss! Ternyata uang telah menumpulkan sensor hati nurani kita, sehingga dalam bahasa ilmiahnya, mungkin sensor hati dan kepedualian kita perlu di kalibrasi, bahkan harus di upgrade.

lalu siapa yang individualis, baratkah?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: