Home » kehidupan » peran keluarga, seberapa pentingkah?

peran keluarga, seberapa pentingkah?

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

nyang abis nyahi

  • 83,491 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

happy-family.jpg

Melihat kenyataan bahwa indonesia adalah salah satu negara produsen terbesar psikotropika (baca:narkotik dan obat terlarang, narkoba), negara dimana laju pengerusakan hutan tercepat didunia dan the last but not the least adalah negara dimana koruptor baik kroco maupun kakap dengan mudahnya melahap uang negara. Tentunya sebagai anak yang dilahirkan bangsa ini saya sangat sedih menerima kenyataan tersebut. Bagaimana tidak, mengaku sebagai bangsa yang terbesar populasi muslim didunia, yang hampir setiap tahun mengirimkan delegasi haji mencapai ratusan ribu jemaah, tentu saja hal sangat bertolak belakang, bagaimana itu semua bisa terjadi.

pot_girl.jpgillegal-deforestation-and-landa.jpghandcuffed_to_moneyaaa.jpg

Jadi teringat 12 tahun yang lalu ketika masih dibangku SMU, dengan mudahnya kawan-kawan mendapatkan daun chimenk (baca: ganja) malah ada salah satu sahabat saya saking seringnya menghisap ganja, dinamakan memenk oleh teman ybs, bahkan tidak kalah gilanya ada yang membakar dan menghisap ganja di dalam kelas, sebuah tempat belajar-mengajar. (please god forgive us). Bisa dibayangkan satu dua dekade kemudian apa yang akan terjadi. Anak2 yang biasa nge-linting bisa jadi beralih keputau, bahkan mungkin menjadi pengedar dan lebih rusaknya menjadi produsen. Sudah berapa besar kerugian dari segi moral (keluarga menanggung malu), material(biaya pengobatan), struktur masyarakat (mengingkatnya tingkat kriminalitas, gaya hidup bebas) akibat barang terlarang itu? tentu saja bangsa ini akan kehilangan generasi muda yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dimasa depan. Herannya saat ini perang terhadap narkoba terkesan terkubur oleh hangatnya pemberitaan yang meliput tertangkapnya artis-artis pemakai narkoba, tak sedikit dari masyarakat menjadi fans mereka, bisa jadi mengikuti gaya hidup mereka. Tentu kita semua harus sepakat bahwa hal ini sama sekali tidak dibenarkan dan semua komponen masyarakat harus memeranginya, tentunya dengan cara2 yang bijak dan tepat.

Dari sepenggal pemaparan pendek diatas, tentunya harus ada solusi dan tindakan preventif. Upaya hukum tentu saja tidak akan menekan bahkan memutus rantai dari jaring narkoba internasional, yang memang bukan isapan jempol belaka, bahwa jaringan ini sengaja diciptakan untuk merusak masa depan generasi muda bangsa ini. Dari pengalaman penulis, keluarga menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun jati diri seseorang. Keluarga yang baik akan mendidik anak mengenal siapa dirinya, siapa tuhannya, keluarga yang baik akan mendidik anak menjadi seseorang yang tahu akan tujuan hidup manusia. Sang anak akan memiliki karakter bahkan imunitas sehingga dimanapun anak tersebut berinteraksi, ia tak akan lupa akan jati dirinya. Uraian tersebut hanya salah satu faktor dari upaya preventif kita, sebagai individu dan anggota masyarakat, dalam menciptakan suasana kondusif di keluarga yang pada nantinya keluarga yang baik akan membentuk masyarakat yang berkepribadian serta bangsa yang bermartabat.


5 Comments

  1. Mas, apa pantas sesuatu yang seharusnya menjadi urusan negara (penegakan hukum dan efektifitas penegak hukum) dibebankan kembali kepada keluarga/masyarakat. Toh masyarakat sudah membayar pajak atau retribusi kepada negara untuk membiayai aparat dan ongkos penegakan hukum, kok dikembalikan lagi menjadi tanggungjawab keluarga.
    Bahwa pendidikan didalam keluarga mengenai hal tersebut memang perlu dilakukan, iya. Tapi inti persoalannya adalah bagaimana negara/pemerintah menegakkan hukum secara tegas, dan bisa menimbulkan efek jera. Tidak seperti layaknya konsumsi selebriti saja, keluar masuk penjara, para pemakai dan pengedar tidak pernah kapok.
    Pemakai mungkin masih dapat dimaafkan, tetapi produsen atau pengedar tidak dong….

  2. lei says:

    aku sih setuju ko kl smua pada dasarnya kembali ke keluarga😀 alasanku dalam milih bnyk hal, misal salah satunya ga narkoba, bukan krn pemerintah hukumnya tegak atau ga..tp lebi ke kesadaran kl itu ga bener. kesadaran macam gitu kan ga dtng dr pemerintah..tapi berakar dr pendidikan dlm keluarga bukan?

    ga pernah survei sih..tp sejauh pengamatan sederhana bukankah kl yg narkoba biasanya memiliki latar belakang keluarga yang ga sebaik mereka yang non pemakai?

    hihihi..IMHO loh yah..

  3. Yoga says:

    Yup, setuju. Keluarga adalah sumber benteng utama dan pertama menghadapi lika liku kehidupan di luar. Jika di tinjau lagi, pertahanan yang kuat bermuara dari Ibu yang “kuat”. Itulah pentingnya mendidik kaum Ibu agar keluarga sukses dunia akhirat.

  4. guruh putra mahardhika, A1 student says:

    4. Santika

    Pada dasarnya saya setuju dengan statement anda bahawa keluarga sebagai inti dalam membentuk karakter anak terutama dalam menciptakan lingkungan baik keluarga maupun masyarakat bebas dari penggunaan narkoba.

    Tapi yang perlu saya garis bawahi adalah peran aparat penegak hukum yang sudah mulai ada kemajuan walaupun memang diakui belum maksimal karena dipengaruhi oleh banyak faktor terutama ekonomi dan moral.

    Faktor ekonomi memang sangat vital karena perlu kita sadari bahwa hampir seluruh tindakan dalam menanggulangi kejahatan atau pelanggaran dipengaruhi oleh kondisi ekonomi individu dan institusi. Coba anda bayangkan, mengatasi suatu kasus narkoba bukankah membutuhkan anggaran yang cukup apalagi ditambah dengan tersangka yang masih buron, lain halnya denang penanganan kasus yang berskala kecil. Selain itu, bukankah aparat itu punya beban keluarga?pendidikan? bagaimana aparat bisa bekerja secara maksimal kalau mereka masih jungkir balik memikirkan bagaiman caranya mencari pendidikan anak yang layak, memenuhi kebutuhan keluarga, atau mungkin mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan si bayi dimana 1 kaleng susu tidak cukup buat seminggu.

    Faktor moral, moral…moral…dan moral…itulah yang harus dibutuhkan oleh aparat atau superior kita. Belakangan ini kita memang mengalami defisit moral, itulah yang menjadi masalah, saya pun tidak tahu apa obatnya? mungkin ada solusi?

    Ini hanya gambaran, oleh karena itu peran orang tua dalam keluarga adalah sangat penting sebagai benteng buat anak agar tidak menjadi individu yang defisit moral.

    So, let’s go to cut off the defisit morality of our generation.
    ya iya lah, masa iya dong….mula aja jami lah…..

  5. keluarga says:

    There is some really great information at this site. I spent quite a bit of time reading these tidbits of knowledge and came away enlightened.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: