Home » macam2 » nasib bangsa tempe

nasib bangsa tempe

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

nyang abis nyahi

  • 83,491 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

crop05-6soybean.jpg

(Foto diambil dari kondor.com)

Begitulah kira2 bangsa kita bisa dijuluki, bukan untuk ‘melaknat’ bangsa sendiri ataupun mencerca ibu pertiwi tapi kenyataan dilapangan yang menyebabkan bangsa ini disebut ‘bangsa tempe’. Baru2 ini ditanah air hingar bingar melonjaknya harga tempe menjadi headline beberapa koran publik bahkan bisa dikategorikan sebagai ‘bencana’ nasional karena makanan ini merupakan makanan pokok rakyat jelata terutama masyarakat dipulau jawa. Bisa dibayangkan akhibat naiknya harga pangan tersebut, puluhan juta orang pasti menjerit, sebab rantai makanan dari produsen, distributor sampai konsumen merupakan orang kebanyakan. Wajar kalo tempe menjadi ikon makanan orang miskin.

Sebenarnya gimana seh tempe diproduksi, saya tidak ingin cerita panjang lebar sebenarnya, cuma siapa tahu dari pembaca ada yang tidak mengetahui. Dari pengalaman saya kurang lebih 3 tahun mondar mandir melalui bantaran kali krukut kecamatan mampang, disitulah terletak salah satu sentra produksi tempe di jakarta selatan. Pertama2 biji kedelai dibersihkan untuk dibuang kulitnya, proses pencucian dilakukan dengan bantuan mesin juga dengan bantuan manusia, antara lain biji kedelai diijak-injak besamaan dengan air, yang jelas air besih tidak mungkin mengambil air langsung dari sungai. Cuma ya itu loh, masa sih diinjak2 pake kaki? ya memang kenyataannya kyk gitu nduk! Kemudian biji kedelai yg sudah bersih tersebut dikeringkan sejenak lalu dibungkus dengan plastik ukuran tertentu kemudian proses fermentasi dilakukan menggunakan bantuan ragi. Setelah beberapa hari spora telah tersebar keseluruh permukaan biji kedelai, nah jadilah yang namanya tempe. Jika kita pikir, jorok yah proses pembuatan tempe? iya emang…. wong tukang cucinya aja tidak pake baju, keringatnya ikut donk bersama biji tempe tadi? pastinya gitu! Kemudian limbah hasil proses peroduksi tempe langsung dibuang kesungai, tanpa melalui proses treatment sebelumnya (sambil urut dada😦, wajar aja kalo sungai jadi kotor)

Setelah kita mengetahi proses pembuatan tempe, kita kembali ke pokok permasalahan utama, yakni kenapa bangsa ini rentan sekali dalm sektor pangan. Saya ingat sewaktu di SD kita hapal betul bahwa bangsa ini pernah berswasembada pangan, khususnya beras. Lain halnya dengan kedelai, dimana saat ini produksi kedelai nasional hanya sekitar 650ribu ton jauh sekali dengan kebutuhan masyarakat sekitar 2 juta ton, selisihnya pemerintah mengimpor dari Amerika serikat. Nah loh ketika harga kedelai Amrik melonjak 2 kali lipat, sudah pasti produsen pun tidak mampu memproduksi tempe dengan tingginya harga kedele impor tadi, bangkrut lah sentra industri rakyat ini karena masyarakat tidak mampu membeli harga tempe yang pasti akan berlipat harganya.

Dimanakah peran pemerintah selama ini? sudahkan pemerintah punya keinginan dan visi pada sektor pangan ini? jawabnya belum! Pemerintah saat ini belum memiliki grand design , visi dan misi bagaimana mensejahterakan rakyat memelalui sektor pertanian, dimana indonesia adalah negara agraris yang 120 juta rakyatnya menopang hidup dari sektor ini, bisa dibayangkan pemerintah yang tidak punya visi apakah masih kita percaya? nyatanya kita masih memilih mereka pada pemilu lalu, entah rakyat yang bodoh atau mereka yang lebih pintar membodohi rakyat. Kedua tumpang tindihnya koordinasi antar departement dan instansi terkait, ini diakibatkan lemahnya birokrasi, jelas akan sangat berdampak pada kenyataan dilapangan. Menurut saya ini lumrah, karena pemerintahan sekarang gagal untuk mereform birokrasi. Ketiga, kartel pada sektor pertanian, enggak heran kalau impor kedelai dikuasai oleh 3-4 importir besar, sudah pasti harga kedelai bisa mereka atur sedemikian rupa jika pemerintah tidak tegas mengatur mereka. Kelemahan2 tersebut menambah derita rakyat dari hari ke hari, pertumbuhan ekonomi yang didengung2kan yang terbaik pasca krimon 1997 sama sekali tidak menyentuh setor ini, bisa dibilang pertumbuhan ekonomi timbangan sayur, alias berat sebelah. Sehingga bangsa ini ibarat tempe, gampang sekali terkoyak, karena lembek (sebenarnya rakyat apa pemerintahnya yah? :D).

Yang perlu dilakukan pemerintah sekarang sebenarnya tidak banyak, karena mereka telah kehilangan momentum dan sudah tidak punya muka lagi dihadapan rakyat. Apa yang terbaik yang bisa kita lakukan, lakukanlah, sesuai bidang kita, keinginan berubah haruslah kita camkan beiringan dengan pengejahwantahannya, karena Tuhan tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya, agar tidak menjadi bangsa tempe.


11 Comments

  1. Insan Fajar says:

    iya. ikut prihatin dengan harga tempe yang melambung. klo mau dilihat siapa yang salah, mungkin 2-2nya. pemerintah dan juga rakyat (saya termasuk golongan ini).

    untuk bagian (kerjaan) pemerintah, ga usah disebut kali ya. lagipula, saya kurang paham sepak-terjang pemerintah. yang ingin saya sampaikan adalah sedikit otokritik kepada diri sendiri.

    selayang-pandang
    sektor pendidikan yang tidak kurang menghasilkan SDM yang mencukupi di sektor pertanian/agraria. – saya tidak mempunyai data yg akurat, hanya menebak-nebak – brp banyak anak-anak muda di Indonesia yang memilih meneruskan pendidikannya bidang pertanian/agraria? sangat sedikit jumlahnya dibanding dengan yang memilih bidang IT atau Ekonomi atau Politik, kan… (saya tidak memperdebatkan alasan atau menyalahkan orang lain karena banyak faktor yang mempengaruhi – ini hanya sekedar untuk pembanding)

    negara kita adalah negara agraris – seperti yang sering didengung2kan oleh guru kita sewaktu SD – gemah ripah loh jinawi. Tanah kita luas sedangkan yang “ngurus” sedikit akhirnya dimanfaatkanlah oleh “orang lain” – bukan hanya hasil pertanian aja yang dikelola orang lain. lihat saja penambang-penambang besar di indonesia. milik siapa itu? –

    toh, pada akhirnya saya setuju dengan yang bos ario bilang “apa yang terbaik yang bisa kita lakukan, lakukanlah, sesuai bidang kita”.

    ada artikel yang menarik dan sedikit berhubungan dengan ini. bisa dibaca di blog ibu Evi

    Kita seharusnya bisa belajar dari bangsa jepang, dimana dengan keterbatasan lahan mereka masih bisa bercocok tanam, dan menghasilkan varietas benih yang unggul dengan bantuan teknologi yang mereka kuasai.

  2. elindasari says:

    Mas Ario,
    Mungkin saya termasuk orang yang melankolis yach…??? Karena ketika saya baca tulisan Mas Ario ini sejuta perasaan jadi satu….Haru rasanya dada ini ! Saya sangat sedih melihat bangsa ini. Rakyatnya didominasi oleh kalangan bawah, yang taraf kehidupannya benar-benar masih memprihatinkan. Sampai-sampai untuk urusan perut saja masih sangat tergantung oleh berbagai faktor yang sangat sensitif.

    Ya saya sangat mendukung yang dikatakan Mas Ario. Sebagai orang Indonesia, yang Alhamdullillah & Insya Allah peduli terhadap nasib bangsa ini…Mari kita benahi bangsa ini…tidak peduli sumbangsih kita itu kecil atau besar yang penting punya Arti …mulai dari diri kita …Gimana Mas… Setujukan kita semua memberikan Karya terbaik & Kemampuan terbaik kita, bagi bangsa & Ibu Pertiwi Indonesia 🙂

    Selamat beraktivitas !

    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com


    setuju mbak bintang, akur aja deh…

  3. Assalamualaikum Boss Ario,

    Tulisan menarik, tp seperti yang bung ario bilang yang kita lakukan hanyalah yang sesuai dengan bidang kita. Sehingga saya juga berfikiri hanya karena masalah tempe banyak educated people sekarang ini tidak bisa menyelesaikan.

    Kok bisa kedelai harus impor? Apakah penemu tempe jaman dulu (jaman Majapahit kali ya?) juga mengimpor?
    Rasanya tidak……

    Sehingga dalam urusan tempe dapat dikatakan orang-orang dulu lebih pinter dr orang sekarang.

    Regards,
    Nova Kurniawan

    Kalo kedele impor padahal dulu kita pernah berswasembada pangan, sangat jelas bahwa pemerintah tidak berpihak terhadap rakyat, ada pihak2 yang diuntungkan dari impor kedele tersebut, seperti kasus impor beras.

  4. Tulisan yang menarik Boss Ario,

    Konon, cerita mengenai kedelai ini sama seperti gandum. kedelai bukan tanaman asli Indonesia. Dia dibawa oleh para penjajah. Kala itu, masyarakat Indonesia mulai “ikut-ikutan” mengkonsumsi roti yang terbuat dari gandum. Tentu saja rakyat Indonesia yang mulai terbiasa dengan roti harus mengimpornya dari negara asal semisal amerika atau australia. Itu katanya sih🙂

    Menariknya di Korea , hampir pada semua menu makanan ada tahu (tofu), yang sama sama dibuat dari kedelai. Tempe malah tidak ada. Uniknya tahu disini bukan hanya sebagai menu untuk masyarakat kalangan bawah, tetapi sudah merakyat. Everywhere, tofu is available. Padahal mereka juga import kedelainya.

    Ada tulisan menarik dari bang Yusril tentang kedelai ini : http://yusril.ihzamahendra.com/2008/01/16/84/

    Makan roti apa mie, nih?
    Wah korea gonjang ganjing tahu juga gak?

  5. Arif Budiman says:

    Iya nih… Kedelai naik, beras naik, nanti bisa-bisa jagung dan ubi serta kentang juga naik… Terus, mau makan apa kita ya???😥
    Tentang bangsa Indonesia, no comment dah… Tahu sendiri kan, semua permasalahan yang ada di dunia serasa tumpleg bleg di sini, di negeri ini…

    tapi masih bisa makan rujak cingur khan?

  6. suandana says:

    Tapi, setidaknya, kita ndak bakal disebut ‘bangsa tempe’ lagi kan? Lha wong dak bisa buat tempe lagi…😐

    jadi bangsa apa donk?

  7. Arsyad Salam says:

    Dulu bangsa kita pernah digelari bangsa yang bermental tempe. Kok kita tidak bisa membantah itu. Sekarang kita malah digelar bangsa yang terkena krisis tempe…. kasian yaaa…. apa kita masih bisa bangga jadi anak bangsa ini???

    Koment sekqaligus kunjungan balasan nih bos.. trims ya udah mampir di blog ku..
    Salam

    Kalo saya seh masih bangga, mas arsyad! sejelek2nya negara ini toh masih tanah air kita. Saya masih optimis bangsa ini bisa lebih baik lagi.

  8. indrapamungkas says:

    Greetings, .
    sedikit tambahan info, Harga kedelai Amerika melonjak karena mereka lebih concern untuk mengalokasikan kedelai2-nya untuk memproduksi bahan bakar alternatif (biofuel,etc), ketimbang mengekspornya. nah disinilah awal dari krisis kedelai yang sedang melanda tanah air saat ini.

    Antara perut manusia dan mesin berlomba2 untuk memenuhi kebutuhan masing2, nah sekarang pandai2nya penentu kebijakan mengelola trend ini. Kita sepakat toh bahwa pemerintah itu terdiri dari orang2 pinter baik dan jujur? apa saya salah? heuheuahuahauhauheua:D

  9. Sir Arthur Moerz says:

    wah saya ndak bisa ngorek tempe lagi donk..

    gpp mas masih ada nasi aking….

  10. lei says:

    mas, today kabarnya pedagang tempe mo pada demo di bandung..yg notabene depan kantor. aku tau dr tukang kupat tahu langganan deket rumah. duh sedih bgt, kl bahan makanan rakyat gini dah ga affordable mo pada makan apa yah rakyat indonesia?

    hehe siapa tau aku bisa meliput live dr tkp demo😀

    gimana yah mbak saja juga sedih nih hiks….😦
    ya udah di liput aja trus di upload di WP

  11. Della says:

    mau makan tempe sekarang kayak mau makan steak😦

    KENAPA MAHAL YACH?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: