Home » pendidikan » fenomena “Brain Drain” dan “Brain Gain”

fenomena “Brain Drain” dan “Brain Gain”

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

nyang abis nyahi

  • 83,491 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

brain drain brain gain
Foto diambil disini

Dia memacu mobil anyarnya dengan sigap maklumlah sang istri cantik nan jelita menunggu dirumah, “say sebentar lagi aku sampai rumah” ujarnya, malam itu menunjukkan pukul 9 malam, sudah hampir larut, begitulah kesibukan kesehariannya. Posisinya sebagai seorang project manager disalah satu perusahaan teknologi informasi kelas dunia dituntut melayani client yang membutuhkan konsultasi sehingga mobilitasnya pun sangat tinggi, belum lagi jika ada client dari lain benua ia pun harus siaga walau harus meninggalkan keluarganya berminggu2. Sebut saja bang X usia mendekati 40 tahun semua yang diimpi2kan oleh seorang pekerja telah ia dapat, tak ayal dengan salary lebih dari 60K Euro pertahun bersih belum termasuk tunjangan lain, status sosial tinggi dengan menyandang titel PhD dan sederet kemapanan hidup yang lain, menjadikan ia makin ‘betah’ untuk hidup berlama2 di negerinya Adolf Hitler ini. Ada lagi mas Y, ia bekerja sebagai research engineer di salah satu vendor automotive dunia, dengan titel Doktor in engineering ia pun menjadi salah satu anak bangsa yang menjadi pakar dalam bidangnya, segalanya pun telah ia dapatkan tak banyak berbeda dengan bang X, ‘betah’ juga tinggal di negeri Hitler ini. Keduanya adalah putra2 terbaik bangsa yang dikirm pemerintah di akhir 80-an untuk menuntut ilmu dinegeri ini.

Sebenarnya apa benar kedua orang tersebut ‘betah’ untuk berlama2 diluar negeri (LN)? Ternyata tidak! Sama seperti mereka yang lama tinggal di LN mereka anak2 bangsa itu ingin pulang dan berbakti menyumbangkan keahliannya pada bangsa dan negara, tapi apa lacur alih2 mereka pulang dan berbakti malah kemandegkan yang mereka alami, sebetulnya mereka telah pulang selepas menyelesaikan studinya di LN tapi mereka terbentur oleh kurangnya penghargaan pemerintah terhadap mereka terutama mengenai salary yang sangat kecil untuk seorang pakar seperti mereka. Belum lagi dengan sarana penunjang riset yang mereka butuhkah jauh dari layak. Hal tersebut hanya sebagian penyebab sehingga mereka memutuskan kembali ke LN dimana mereka dapat menemukan kebebasan berkarya dan berkontribusi sesuai dengan kepakaran mereka apalagi gaji yang didapatkan sangatlah layak untuk menunjang kehidupan mereka sekeluarga.

Itulah yang terjadi pada anak bangsa indonesia, anak2 bangsa yang memiliki talenta, kreativitas, inovasi (human capital) yang seharusnya dimanfaatkan sebaik2nya oleh pemerintah republik, disia-siakan oleh bangsanya sendiri. Sebuah kerugian yang teramat besar yang ditanggung bangsa ini mana kala putra2 terbaik bangsa mengabdi untuk kemajuan bangsa lain, meninggalkan bangsa indonesia yang semakin tidak jelas nasib dan masa depannya. Gagalnya transfer teknologi dan ilmu pengetahuan menyebabkan mundurnya kualitas bangsa secara keseluruhan dan ini telah terjadi. Negara harus pula merogoh kocek yang besar untuk mendatangkan ahli2 dan consultan asing dalam proyek2 pembangunan. Sebuah contoh yang dapat kita analisa bersama, ethiopia sebuah negeri miskin di afrika, memilik jumlah doktor di chichago USA lebih banyak ketimbang dinegaranya sendiri, tentunya ini sangat merugikan negara tsb. Dan masih banyak sekali negara lain yang dapat kita ambil contoh.

Sudah saatnya pemerintah RI memanggil pulang para anak2 bangsa yang ‘tercecer’ diberbagai belahan dunia untuk bersama membangun bangsa yang porak poranda ini. Pemerintah harus menyediakan ruang yg cukup kepada mereka, wadah tempat mereka bekerja, keleluasaan serta tunjangan dana dalam pengembangan riset dan pembangunan yg mereka lakukan, membuat strategic planning dalam pemanfaatan human capital yang inovativ, cerdas dan kreatif tsersebut. Pemerintah juga dituntut andil mensinergikan riset2 yang mereka lakukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa diberbagai bidang, mereformasi birokrasi, menegakkan hukum sehingga apa yang telah dicita2kan bangsa ini yakni brain gain dapat tercapai. Tidak usah jauh2 mengambil contoh tentang brain gain ini, malaysia ditahun akhir 60-an sampai medio 80-an mengirim putra2 bangsanya untuk menimba ilmu di tanah air, dan sekarang mereka lebih maju dari kita, karena mereka pandai dan cermat mengelola human capital yang telah mereka investasikan sebelumnya, salut dan selamat untuk malaysia. Dan bagaimana Indonesia? saya masih optimis dan harus selalu optimis didalam kecarutmarutan bangsa ini pasti masih ada secerca harapan agar bangsa ini lebih baik dimasa yang akan datang. Insyaallah.


21 Comments

  1. kayk Pk. Habibie plg ke ngr sdr malh gak nymn trsa. Dia lbh mmlh tggal di ngri Hilter dr pd ngrnya sndri walaupn sbnrnya bliau msh ttp mmbgn ngri trcntA ini..

    yoi man… berbagi ilmu khan tidah harus ditanah air, dimanapun kita berada, walau sebaiknya berbagi ditanah air, agar bangsa ini maju.

  2. Ratna says:

    Miris ya? Hhh…Indonesiaku.
    Salut dengan optimisnya. Mudah-mudahan bukan karena belum menikmati rasanya bekerja disini ya, seperti Bang X dan Mas Y…

    iya mbak, malu juga sama bangsa lain, apa lagi anak2 malay…. tampang sama nasib beda. heuheuheueu😀

  3. Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ says:

    hah…

    wajar..

    ini indonesia…

    nanti tahun 2100 baru berubah..

    hehhe…

    berubah kearah mana nih? jgn sampe berubah kearah kehancuran…😦

  4. sitijenang says:

    lulusan luar sepertinya sementara harus mandiri. bisa juga mencari sponsor untuk biaya riset. tapi, kalo bukan bidang politik kayaknya sih masih susah. sekarang petinggi-petinggi Indonesia dan pemilik modal tampaknya lebih getol membangun citra maya tanpa prestasi nyata. *ah sok tau*:mrgreen:

    setuju bung, emang harusnya gitu sih… tapi masa sih udah pinter2 bukan berbagi ilmu kpd rakyat tapi malah membohongi dgn surver2nya.

  5. tikabanget™ says:

    berdasar beberapa temen yang cerita, di endonesa mereka ndak ngerasa dihargain.
    walopun skill mereka lebih tinggi, pemerintah atau masyarakat sekitar tetep ngerasa konsultan asing ituh lebih bergengsi dan lebih mumpuni.
    padahal ya ndak jago banget.

    yoi, indo banget…! bukti bahwa inferior masih menggelayuti mental orang2 indon. kenapa yach kadang saya juga masih seperti ini.

  6. Arif Budiman says:

    Itulah Indonesia….😥

    gimana nih dik arif ada ide gak?

  7. Nazieb says:

    Money talk too much here…

    rusak donk?

  8. Nazieb says:

    Money talk too much here…

    sudah jadi hamba uang donk?

  9. Mas resi, agaknya pemerintah kita perlu memberikan reward yang sesuai dengan keahlian putra2 bangsa yang kini masih berada di luar negeri. pikiran mereka sangat kita butuhkan untuk membangun negeri ini, kok. semangath!

    iya setuju pak guru, pemerintah yang baik adalah pemerintah yang mengerti kebutuhan rakyat, bukan sebaliknya.

  10. edratna says:

    Kadang kita harus berpikir praktis juga, dan memahami kalau saat ini pemerintah belum bisa memberikan reward yang sesuai. Masalahnya, apakah kalau kerja di luar negeri langsung dianggap nggak nasionalis? Bagaimana seperti India, yang orang2nya tersebar di dunia, bahkan banyak menjadi pejabat di Amrik (al. IMF…saya pernah membayangkan IMF orang bule melulu, ternyata pas ada pertemuan dengan IMF…ehh yang datang cewek India, bahasa Inggrisnya cas cis cus…ngomongnya sambil pake geleng-geleng). Dan setelah mereka berhasil, mereka membangun negerinya, dan ingin membuat semacam “Silicon Valley” di India.

    setuju tante, tapi ibu sri mulyani dulu pernah jadi pejabat IMF juga khan? skrg sudah jd eksekutif, ditunggu kebijakan yg berpihat pd rakyat.

    Bagaimana dengan bule yang kerja di Indonesia? Mereka kan malah mendapatkan uang dari Indonesia, tapi disetor ke rekening Bank nya di luar negeri…berarti devisa masuk juga kenegaranya kan?
    kita harus mengeluarkan uang banyak donk tante untuk membayar devisa tsb?

    Cerita ini yang awalnya menyebabkan anakku putus dengan pacarnya…tapi setelah rekan2nya dari UI banyak melanjutkan kuliah dan kerja di Amrik, dengan menggunakan loan system, dan bisa memimpikan kerja di Silicon Valley….membuat anakku berpikir ulang …makanya akhirnya baikan lagi dan menikah…6 bulan kemudian dia akan menyusul ke Amrik (kemungkinan melanjutkan kuliah sambil kerja paruh waktu). Jadi seperti Resi Bismo bisa saja mencari pengalaman di Jerman, nanti dengan teman2 sesama orang Indonesia, jika telah ada modal, bisa kembali membangun Indonesia dengan pengalaman dan ilmu yang diperolehnya. Jika generasi Resi Bismo belum berhasil, mudah2sn generasi berikutnya bisa berhasil….

    iya terima kasih atas inputnya tante.

    Salam manis

  11. Alin_FG says:

    Wah, udah lama ga berkunjung ke blognya ternyata udah rame yah… mohon dilanjutkan…

    Komen ttg brain drain, kayanya bisa aja tuh dihindari, asal kitanya pinter… klo misalnya kita kerja di LN dulu untuk cari duit dan setelahnya balik untuk menjadi expert yang menciptakan lapangan kerja, kan bisa kebalikannya, brain gain gituh… Seidelah ma Edratna

    Kita akan bisa melakukan itu asalkan ada kemauan… karena banyak kok fund yang bisa kita usahakan untuk masuk ke indo dari negara2 maju asalkan kita terpercaya dan punya networking… Jadi mungkin bagi temen2 yang sdg di LN, cobalah banyak-banyak cari network, siapa tau bisa dapat dana bantuan untuk mengembalikan devisa yang telah dibawa ke LN untuk alasan kuliah, so gimana caranya uang itu kemabli 2 kali lipat atau bahkan lebih… :))

    So, berani menerima tantangan ga?? saya sedang menantang diri saya sendiri nih… sedang berusaha mengambil uang saya kembali biar saya untung dan indonesia juga kebagian untungnya :))

    nice ide! hebat donk alin menantang diri sendiri, bisa donk share dengan kita.

  12. Si Mbah cuma ngelus dada….

    sambil nyeruput kopi hanyat ya mbah?

  13. alfaroby says:

    benar sekali.. gov masih sangat tidak memperdulikan terhadap para orang “cerdas” .. gov lebih menghormati dan mangagung agungkan para orang “kaya” dari pada ilmuwan

    thats the point.

  14. Ria says:

    Terlalu banyak politik dan kepentingan pribadi yang di suplay mas…makanya jatah yg lain pada hilang…semangat ya mas…membangun negeri itu adalah amanat kalo dah dapet ilmu…

    iya makasih ria atas semangatnya.

  15. dillah says:

    Mungkin benar keadaan negara saya(btw, anda WNI juga kan??) yang anda sampaikan tersebut diatas, saya juga sudah muak dengan berita di media yang menampilkan penyambutan idol2an yang sampai dilakukan oleh kepala negara…arrggghhh .

    Kalau dilihat dari alasan lulusan2 luar itu malas balik kampung karena standard gaji yang terlalu rendah saya suka bingung…kenapa mereka ga buka usaha saja disini sesuai dengan keahlian mereka, tidak usah mengharapkan orang atau pemerintah untuk menggaji mereka.

    Saya belum pernah mencicipi pendidikan diluar negeri, tapi saya mendengar kalau kuliah disana diajarkan juga mengenai kewirausahaan…apa mungkin mata kuliah ini tidak begitu populer yah bagi pelajar indonesia di luar negeri, jadinya cita2 mereka ketika lulus ingin bekerja di perusahaan besar seperti Microsoft,Apple, Google dan lain sebagainya…apakah di kepala mereka tidak pernah terbesit untuk ingin mempunyai usaha besar seperti itu??

    iya mas, banyak sekali orang2 lulusan luar yg mendirikan start up company, itu ide briliant. saya pengen juga belajar ttg itu. Nah sudah mestinya kurikulum kewirausahawan dimasukkan di matakuliah atau pelajaran di sekolah yang mengasah soft skill anak2 didik shg mereka siap untuk menjadi wira swasta.

  16. Guh says:

    sebenernya mau cari duit atau mau berbagi ilmu membangun negeri?

    bos, 2 2 nya saling bekaitan, sperti mata uang koin. gak bisa dipisahkan, kalo mau membangun negeri tapi gak dikasih duit yg cukup akhirnya, nyambi ada yang mampu fodus di 2 2nya, tapi kebanyakan ya menelantarkan anak didik, masih ingat ada guru yang nyambi jadi tukang sampah! hanya diindo mungkin seperti itu. Dan pada akhirnya kualitas pendidikan menurun! kalo sudah gitu ini masalah yang kompleks.

    Bagaimanapun tubuh kita memang perlu kenyamanan, rasa kita perlu ketengangan dan keamanan. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini bikin kita bisa lebih semangat dan kreatif dalam berkarya.

    Kalau memang memulangkan tubuh fisik anda kesini hasilnya nggak nyaman, akhirnya penuh keluhan dan menghalangi anda berkarya, ya ngapain pulang? Ga usah cari susah deh. Kalo emang niat anda-anda berbagi ilmu, transfer teknologi, dari situ kan bisa dilakukan juga?

    manusia indonesia lain mas! unik, selalu kangen dengan tanah air!

    Internet disini mulai ada kok, silahkan mulai menyisihkan waktu untuk berbagi dan memajukan kami-kami yang disini, tanpa harus kehilangan kenyamanan anda.

    Kembali ke pertanyaan awal, mau cari duit atau mau berbagi? karena disini fisik (bahkan juga pikiran anda) jelas belum dihargai oleh pemerintah, kalau mau berkarya membangun negeri, ya pintar-pintar anda yang sudah pintar lah.

    mohon maaf kalau kurang pintar dan terlalu menyederhanakan masalah😉
    its O.K. gak apa2 mas, namanya juga berbagi memang sudah seharusnya begitu.

  17. suandana says:

    saya masih percaya, kalau ada banyak orang yang punya itikad baik untuk membangun bangsa dan negara ini… SEMANGAT, mas!!!

    terima kasih atas dukungannya

  18. brahmastagi says:

    Brain (Orang pintar) biasanya mengikuti kemana penawar tertinggi, wajar. Di dalam negeripun orang dengan mudah berpindah tempat kerja ketika mendapat tawaran lebih baik. Jadi manusiawi.
    Iya setuju bung brahma

    Namun kecintaan terhadap tanah air menurut saya bisa diwujudkan melalui: Membawa poryek ke Indonesia sehingga mendatangkan devisa dan membuka lapangan kerja. atau membawa uang dari luar dan di invest di Indonesia.
    Bagusnya sih gitu jadi ada yang bisa dibagi ke kawan2 ditanah air.

    Seperti India, kabarnya pesatnya perkembangan outsourcing di India ya di fasilitasi banyaknya orang india yang tinggal di US.
    Salut juga dengan temen2 india, ememang semangat juang mereka saya akui sangat tinggi.
    Begitulah…

  19. Ah….Indonesia,
    saat sepertinya lagi menerima WARISAN KARMA dari masa lalu.
    Banyaknya HUTANG menjadikan Putra-putra bangsa yg memiliki kelebihan Ilmu ini, menjadi TERABAIKAN. Setiap ada lomba FISIKA, Matematika, Kimia, Biologi sesalu mendapat tempat terbaik. Namun apa REAKSI Pemerintah…?? Hanya BAngga sambil menepuk dada dan palin-paling kata pesan yg bergulir dari bibirnya Teruskan…teruskan Perjuanganmu Nak…!!. Coba klu ada pilihan Pejabat POLITIK di daerah terlebih-lebih di Pusat..halah…halah…Milyaran rupiah diambur-ambur hanya sekedar untuk merebut KURSI KEKUASAAN…

    Bangsa ini sudah dihuni oleh banyak Pejabat yang sudah LUPA dan bahkan telah INGKAR kepada AMANAH Rakyatnya…

    Ngeloyor sambil NGELUS DADA…..

    bagaimana ya pak santri.. apa perlu kita ‘angkat senjata lagi nih’ heheheh

  20. Ah….Indonesia,
    saat sepertinya lagi menerima WARISAN KARMA dari masa lalu.
    Banyaknya HUTANG menjadikan Putra-putra bangsa yg memiliki kelebihan Ilmu ini, menjadi TERABAIKAN. Setiap ada lomba FISIKA, Matematika, Kimia, Biologi sesalu mendapat tempat terbaik. Namun apa REAKSI Pemerintah…?? Hanya BAngga sambil menepuk dada dan palin-paling kata pesan yg bergulir dari bibirnya Teruskan…teruskan Perjuanganmu Nak…!!. Coba klu ada pilihan Pejabat POLITIK di daerah terlebih-lebih di Pusat..halah…halah…Milyaran rupiah diambur-ambur hanya sekedar untuk merebut KURSI KEKUASAAN…

    Bangsa ini sudah dihuni oleh banyak Pejabat yang sudah LUPA dan bahkan telah INGKAR kepada AMANAH Rakyatnya…

    Yah..tapi kita harus OPTIMIS kan…? dan percayalah kini sudah tiba masanya Bangsa ini untuk segera mulai menggeliat dan bangkit dari Carut marutnya MORAL….

    Ayoh…kita berlomba-lomba untuk menjadi SATRIO PANINGIT dan memulainya dari diri-ku, diri-mu dan diri-kita untuk segera ” Cancut Tali Wondo ” ngelokor sabuk Gembolo Geni dengan semangat Rawe-rawe rantas malang-malang putung….

    Ngeloyor sambil NGELUS DADA…..
    ditunggu om wejangan selanjutnya huehuehuehueheu

  21. elindasari says:

    Wah…komentar2 disini panjang2 ya Mas Ario… (Macem2 lagi hehehe).

    “Sesunguhnya dalam kesulitan itu ada Kemudahan ”

    Insya Allah dengan itikad yang baik dan tetap berusaha, Tuhan memberikan jalan kemudahan bagi kita. Amien.

    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: