Home » pendidikan » fenomena “Brain Drain” dan “Brain Gain” bagian 2 [habis]

fenomena “Brain Drain” dan “Brain Gain” bagian 2 [habis]

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

nyang abis nyahi

  • 83,467 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

Ternyata dari tulisan saya minggu lalu, banyak sekali masukan2 yang tertuang di kolom komentar atas tulisan tsb. Semuanya tergolong masukan yang sangat positif, dari ide membangun networking sampai cuma hanya mengelus dada tanda pasrah. Tentunya masukan2 tersebut harus diambil langkah konkrit agar apa yang telah didapatkan selama menuntut ilmu di LN dapat dibagi dengan khalayak banyak.

Belum lama ini ketua program pasca sarjana salah satu universitas negeri yang terpandang di Yogyakarta berkunjung kesini, kebetulan beliau merupakan alumnus universitas di kota ini, maksud kunjungan beliau adalah membangun jejaring antara uni di jogja tempat ia mengajar dan almamaternya dimana ia mendapatkan gelar doktor. Dalam kesepakatan tersebut beliau meng-gol-kan kesepakatan kerjasama yaitu penambahan jumlah mahasiswa program sanwich dari kuota untuk orang indonesia yang tadinya hanya 5 orang menjadi 20 orang. Tentunya keberhasilan ini patut kita acungi jempol karena beliau telah membuka peluang yang lebih besar untuk anak bangsa dalam menuntut ilmu di LN.

Salah satu dosen politeknik negeri dibandung yang sedang studi doktoral disini juga mengajak saya untuk mebangun kerjasama antara instansinya dengan politeknik dikota ini dimana saya sekolah, “wah mas bagus juga Idenya”, ujarku, tapi khan saya bukan dosen disana mas?. “Gak apa2 mas ario, mas ario nanti masuk kedalam proyek kerjasama ini sebagai representatif!” “Ooo gitu ya mas! iya…, mas menjadi mediator yang menjembatani kedua belah pihak, disitu mas ario dapat berperan banyak”. Dalam benakku boleh juga nih, membangun jaringan sekaligus belajar banyak dari proyek tsb. Insyaallah itu akan menjadi agendaku kedepan, apapun akan kita lakukan walaupun itu sedikit bahkan baru sebatas ide-ide. Mudah2an ini semua dapat menjadi kenyataan, karena sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil butuh proses dan kesabaran untuk menuai hasilnya kelak.

 


7 Comments

  1. Anastasiarta says:

    saya juga herman kenapa banyak orang-orang pinter dari negeri kita ini setelah dapet ilmu di luar sana malah ke-enakan … apa karna dr awalnya ga bermaksud ngedapetin ilmu seluas-luas /sedalam-dalamnya untuk ningkatin standard kualitas bangsa ato memang di sana udah nyaman…
    harus ada yang nge-galang. goodluck on that…=)

    memang harus ada kesadaran dan komitmen dari diri sendiri untuk berbagi, apa lagi kalo pemerintah mau membantu memfasilitasi yang sudah jelas keharusan pemerintah memfasilitasi mereka.

  2. realylife says:

    bangunlah negeri dengan sumbangsih sekecil apapun.
    hujan batu di negeri sendiri lebih enak ketimbang hujan emas di negeri orang .
    saya cuma bisa mendoakan demi terwujudnya cita – cita itu , yang penting tuntutlah ilmu dengan sepenuh hati .
    jadi ingin mengundang lagi untuk baca tulisan ini
    makasih
    http://realylife.wordpress.com/2008/02/21/ilmu-hati/

    terima kasih atas masukannnya. sukses selalu.

  3. Santi says:

    disatu sisi, saya prihatin berat dengan putra2 bangsa yang kecewa dengan perlakuan pemerintah. tapi saya setuju dengan komentar diatas saya, dan juga turut mendoakan hal-hal yang baik untuk putra2 bangsa yg sedang menuntut ilmu di LN agar bisa memberikan sumbangsihnya untuk negara kita ini.

    sumbangsih kan bisa darimana aja toh mas? engga juga mesti berdiri di Indonesia rasanya. yang penting bisa terus berkarya dan ikut memberi utk memajukan bangsa, walopun dengan hal “kecil”.. insya Allah manfaatnya besar. Amin.

    setuju mbak santi.

  4. suandana says:

    Ide jejaring ini sangat menarik bos… Terima saja tawaran sebagai representatif itu. Hitung-hitung melakukan peletakan ‘batu pertama’😀

    SEMANGAT!!!

    iya nich, pengen juga segera berbagi dengan yang lain.

  5. Arif Budiman says:

    Wih… Nadzubillah… Mudah-mudahan nanti saya tidak jadi seperti itu…
    BTW, pendapat ya? Mungkin dengan “berkomitmen pada diri sendiri untuk kembali ke Tanah Air”, sambil mengingat-ingat kalau Tanah Air kita masih menunggu uluran tangan kita, serta orang tua kita yang masih menunggu di rumah (atau barangkali di kuburan?😆 )… Mungkin itu, soalnya itu yang saya praktikkan di sini, dan lumayan efektif…

    ayo dik arif saya tunggu disini, ambil sekolah lanjutan dimari. jadi bisa merasakan apa yang saya rasakan heuheueuheueuheue😀

  6. sakuralady says:

    Halo, dah lama ga mampir..
    Memang miris ngeliat minimnya apresiasi terhadap anak bangsa yg berpotensi sampe harus lari ke LN. Jadi dirimu bakal komit untuk plan project itukah?
    Have a nice weekend..

    baru rencana dan harus dipikirkan strateginya bagaimana…. sukses juga buat kamu.

  7. elindasari says:

    Mas Ario,
    Senang sekali membaca tulisan2nya. Semoga tidak hanya Mas Ario yang punya keinginan mulia seperti ini. Kalau ada info yang bermanfaat buat teman-teman di Indo jangan sungkan2 untuk dibagi. Agar kita di sini tidak buta informasi !

    Sekali lagi terima kasih atas info2nya yang bermanfaat selama ini !

    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: