Home » kehidupan » minyak..minyak…. antre minyak

minyak..minyak…. antre minyak

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

nyang abis nyahi

  • 83,467 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

antre minyak

Waktu kecil kira2 masih disekolah dasar, emak kadang memintaku untuk belanja ke warung membeli kebutuhan pokok, kalo tidak gula telor atau minyak goreng terkadang sekalian membawa dirijen kecil untuk membeli minyak tanah. Saya heran padahal sudah sejak lama keluarga kami memakai gas untuk memasak. Lama2 gas gak keober yo, ujarnya dengan logat bahasa jawa kulonan ooooo gitu mak, aku pun mengangguk. Iya harga gas makin melambung tinggi, pertama kali kami memakai gak kalo tidak salah harganya 9500/kaleng tidak tahu harganya berapa sekarang, setelah 5 tahun kami beralih ke gas akhirnya kami kembali memakai minyak tanah. Ku bergegas ke warung dan dengan mudahnya aku mendapatkan segala kebutuhan dapur yang diminta emak berikut satu dirigen kecil minyak tanah, sama sekali tidak membayangkan bahwa 18 tahun kemudian segalanya menjadi berubah.

Iya! Jaman sekarang untuk mendapatkan minyak tanah 5 liter saja harus antri dari subuh, bahkan semua anggota keluarga pun dikerahkan. Saat tulisan ini akan dimuat, ada warga yang tewas akibat kelelahan mengantri minyak tanah. Waduh… ada apa gerangan? apakah kita kembali ke nostalgia jaman revolusi kah? pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Lah kenapa gak dijawab, pokoknya repot deh menjawabnya, mau mulai dari mana coba?

Tapi jikalau bisa kita runut ke lembaran sejarah republik ini pasca nasionalisasi perusahaan energi asing oleh pemerintah kala itu dipimpim pemimpin besar revolusi kita Ir. Sukarno, pemerintah telah mengamankan sumber2 energi yang pada akhirnya suatu saat akan dinikmati oleh rakyat. Pemerintahan pun berganti sumber2 energi itupun dilambat laun dikuasai asing. Pemerintah tidak berupaya melakukan inovasi bagaimana mencari sumber energi baru, bahkan BUMN yang ditugasi mengelola sumber energi tersebut menjadi wahana sapi perah oleh keluarga dan kroninya bagaimana ingin melakukan riset dan pengembangan energi baru wong perusahaan saja merugi (padahal direktur dan kroninya kaya gila…).

Jadi andai kata pemerintah tidak lupa mengurusi rakyatnya (ingat loh 230 juta orang saat ini tahun 2030 bisa 300 juta) dan punya keseriusan 1 bidang aja…. please donk 1 bidang aja yang serius, gak muluk2 deh, tentunya kejadian seperti mengantri minyak tanah sudah tidak ada pada kamus indonesia baru. Eh…. sayangnya pemerintah bukannya lupa bahkan sudah buta, tuli bahkan telah membisu sehingga kejadian itu pun berulang.


15 Comments

  1. bener banget mas ario, agaknya pemerintah tidak pernah mau belajar pada sejarah dan pengalaman masa silam. kayaknya memang ada tangan2 kapitalis yang dibiarkan terus bermain di balik antrean minyak itu. alasannya? walah, tahu sendirilah mas ario.

  2. Kang misno says:

    iyo bener boss. inyong biyen yo ngono. tuku lego gampang. beras ora larang…. mulo sampeyan eleng rampung sekolah mulih … mbangun indonesia yo….

  3. terimakasih sudah mampir di blog saya.
    salam kenal

    thk
    http://www.satyasembiring.co.cc

  4. hanggadamai says:

    minyak tanah langka n mahal = menyusahkan rakyat kecil.

  5. Ria says:

    ckckckck…penghasil minya malah warganya ngantri minyak miris bgt ya?yg lebih parah duri kota minyak tapi anehnya minyak tanah and bensin langka….kemana semua minyak2 itu ya????

  6. chic says:

    aaah kok jadi balik kayak jaman tahun 65? dulu sih bokap cerita sempet antre-antre beras jaman segitu… laaah sekarang udah 2008 jeh, masuk mundur seh bukannya kemajuan nih bangsa…
    *sedih*

  7. yherlanti says:

    sudah 63 tahun merdeka masih anti minyak? padahal minyak kita berlimpah loh mas! Bahkan kita anggota OPEC, sebuah organisasi bagi negara-negara penghasil minyak! dikemanakan minyak yang ada di bumi pertiwi ini? ini fakta bukan sekedar gosip…. MINYAK KITA SECARA SUKARELA DIKASIHKAN PADA PERUSAHAAN USA OR EROPA, dan rakyat hanya diberi tetesan-tetesan sisa. WOHH DERMAWAN SEKALI PEJABAT NEGERI INI, MEMBERIKAN BERBAGAI LADANG MINYAK PADA INVESTOR LUAR DEMI PROPOSAL DAN SEDIKIT KEUNTUNGAN YANG MASUK KE KANTONGNYA PRIBADI DAN MEMBIARKAN RAKYAT MENDERITA. Kondisi kita kita ibarat pepatah “anak ayam mati di lumbung padi”…!ayo bangkit rakyat indonesia!berantas kezaliman!

  8. Satu sisi kita antri minyak tanah…tapi sisi lain orang di negeri ini antri berebut tiket masuk ke bioskop…
    Sungguh Fantastik…
    Hik hik hik…
    Ayat-ayat cinta menjadi film fenomental di tahun 2008, baca ulasannya, unduh pula novelnya. di yherlanti.wordprses.com

  9. indra1082 says:

    Prihatin………..

  10. elindasari says:

    Hem…sepertinya makin panjang penderita anak negeri ini. Semoga Allah membukakan mata hati pemimpin2 kita. Amien.

    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

  11. eenx says:

    minyak lagi minyak lagi

  12. Ratna says:

    Ayo kita pakai kayu bakar aja… Aroma nasi jadi lebih enak… (ambil kayu hanyut dari sungai yang kena banjir) Tapi pasti harga sabun colek jadi melangit. Karena perabotan masak pantatnya item-item dipake diatas tungku.
    Hrmph…di Indonesia disubstitusi pake apapun ujung-ujungnya harga naik.

  13. Edratna says:

    Antrean tsb mengingatkanku saat masih kelas 5-6 SD, saat itu tiap keluarga mendapat kupon jatah untuk minyak goreng, minyak tanah, beras (dan beras yang dicampur jagung), gaplek dll. Antri nya ber meter-meter…tapi buat anak kecil, rasanya senang aja.

    Terus saat udah berkeluarga, kompor saya merk “buterfly”…rasanya asyik saja…kelemahannya alat-alat masak(panci, dandang, wajan dsb) pantatnya hitam dan sulit dibersihkan, demikian juga tembok dapur menghitam. Tahun berganti, tukang jual minyak tanah dikompleksku jarang lewat, jadi kalau beli mesti ke pasar, padahal saya kerja dari pagi sampai malam. Setelah di hitung-hitung, biaya yang mahal adalah beli tabung gas (biaya investasinya), tapi biaya operasionalnya lebih murah; harga gas satu tabung besar bisa digunakan untuk 3 minggu, dapur bersih, dan peralatan masak tak ada pantat hitam lagi. Karena tabung gas demikian mahalnya…maka banyak orang yang yang menipu pembantu rumah tangga, agar mendapatkan tabung gas.

    Jangan-jangan awalnya berpikir seperti saya…kalau tabung udah diberi, secara total biaya beli gas lebih murah. Masalahnya kalau beli gas nggak bisa mengecer, harus satu tabung (ini mungkin yang berat bagi rakyat kecil), budayanya juga berubah, karena harus dijaga jangan sampai bocor agar tak mudah meledak dll. Saat membangun rumah di Bandung, saya menyediakan satu kompor gas sederhana untuk masak para tukang. Apa yang terjadi? Tombol tabung gas rusak demikian cepat…usut punya usut, tangan para tukang biasa kerja keras, dan mereka bolak-balik menyalakan kompor, hanya untuk menyalakan rokok. Jadi…jangan lupakan budaya bangsa kita…perubahan kompor ke tabung gas, tak hanya sekedar lebih baik, lebih efisien, tapi juga ada perubahan budaya, yang perlu waktu…..

  14. Ratna says:

    Kebayang kalau suatu hari nanti rakyat pada ngantri gas… Berjam-jam pada nenteng tabung gas.

  15. langitjiwa says:

    itulah cerita negeri ini…
    salam kenal dari aku.
    langitjiwa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: