Home » kehidupan » kenapa sih harus (selalu) makan beras/nasi?

kenapa sih harus (selalu) makan beras/nasi?

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

nyang abis nyahi

  • 83,491 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

Aku segera menyantap hidangan tersebut sepotong roti dan semangkuk hariroh hidangan sup asal negeri maghribi /marokko, kadang kala roti plus chorba, makanan asli aljazair wah luar biasa deh enak, kenyang dan menyehatkan maklum gratis. Semenjak merantau aku cukup banyak mencoba beragam jenis makanan khas para imigran. Kebanyakan dari makanan khas negara para imigran tersebut saya perhatikan jarang sekali menggunakan beras sebagai makanan pokoknya. Aku pikir hal itu sangat beralasan karena padi tidak dimungkinkan tumbuh di iklim yang ekstrim seperti gurun dan subtropis. Herannya mereka walaupun makanan pokoknya gandum dengan produk turunan roti, mereka tidak selalu makan roti, melainkan mensubstitusi dan meragamkan dengan jenis makanan pokok yang lain, seperti beras/nasi, kentang.

Awalnya memang sulit mengubah kebiasaan harus makan nasi kalo pagi, kalau tidak berarti belum sarapan’, tapi lambat laun aku telah beradaptasi dengan kebiasaan orang di eropa benua ini, yakni mensubstitusi ragamkan pakan pokok, kalau pagi minum susu plus setangkap roti bakar selai coklat atau keju dengan itu aku mampu beraktifitas sampai waktu makan siang tiba, tanpa kelaparan! Sebab di tanah air ketika aku mengkonsumsi nasi pasti jam 9-10 perut sudah lapar lagi, perihnya tak tertahankan. Kemudian untuk makan siang biasanya aku mengkonsumsi kalo tidak pommes friets (kentang goreng) ya kentang rebus plus salad terkadang aku siang hari menjadi sesosok vegetarisch karena aku tidak mengkonsumsi daging BAB I yang biasa disediakan dikantin, itu udah cukup sampe jam 6 petang, malamnya dirumah baru kite makan N.A.S.I. Ketika masih ditanah air suatu waktu emak pernah setiap sore mengukus singkong sebagai menu makan malam kita, cuma itu tidak berlangsung lama karena kita kembali lagi ke kebiasaan lawas kita semua, makan nasi.

Wajar saja jika kebutuhan beras nasional terus meningkat, kekurangan stok pangan diatasi dengan impor beras, karena awalnya masyarakat dipaksakan untuk makan beras, jadi masyarakat ini sudah freaks sama beras! Sempat ketika sedang makan bareng dengan mahasiswa asal libanon, dia menyindir aku. “Saya heran deh dengan orang indonesia, masa pagi makan nasi, siang nasi, malem makan nasi lagi, apa gak bosen!”, ujarnya. Ya saya bilang udah kebiasaan, lagian nasi khan makanan bergengsi (mahal, prestisius) jadi orang indo kaya2, geto… mosok kudu makan singkong, gak level lah! ujarku dengan nada agak kesal. Sepertinya masyarakat sudah harus diubah kebiasaannya dengan berbekal kearifan lokal pemerintah harus memomong membantu rakyatnya untuk menggali kembali potensi pangan setempat. Pemberian kredit lunak pertanian, penyuluhan pra dan pasca panen, pengelolaan dan pemasaran hasil produksi, perbaikan pengairan/irigasi, semua itu adalah upaya yang harus dilakukan pemerintah agar kebutuhan pangan rakyat dapat terpenuhi. Ingat orang papua pernah/masih makan umbi2an, orang maluku makan sagu, orang madura makan jagung. Jadi jangan paksa/biasakan mereka untuk mengkonsumsi beras terus menerus!


23 Comments

  1. Rindu says:

    Selamat makan …

    sama2 rindu makan…. (kyk nama restaurant)😀

  2. suandana says:

    Ujung-ujungnya, permasalahan ini bakal kembali ke birokrasi, bos…😦

    yoi sebagaimana biasanya…. indonesia tidak berubah!

  3. deethalsya says:

    kalo dt sih, srg-a sarapan pagi dgn makan mie instant mas..:mrgreen:

    wah aku juga tuh abis enak sih, cuma gak boleh keseringan, bahaya!

  4. Ria says:

    mas…namanya juga orang indonesia…gak bakalan kenyang klo gak makan nasi😀

    ya, itu khan perasaan dik ria saja bukan?

  5. hanggadamai says:

    saya baru makan nasi:mrgreen:
    *00T mode 0N*

    hahahha saya akan makan spagetti. hehehehe

  6. dewi says:

    kalo menurut saya sih, ‘kewajiban’ untuk selalu makan nasi tak hanya berdasarkan kebiasaan saja, tapi juga kurangnya pengetahuan tentang kesehatan.

    Kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang makanan yang sehat dan kandungannya masih sangat rendah. Pola makan dan jenis makanan yang disantap juga sangat tergantung kondisi geografis dimana masyarakat tinggal.

    Contohnya di tempat saya, Tulungagung. Kami dan masyarakat lain terbiasa dengan segala sayur bersantan (dan biasanya kental). Kenapa? karena pohon kelapa tumbuh subur dan sangat murah. Padahal kandungan santan? waaaaaah, mengerikan untuk penderita kolesterol, darah tinggi de el el.

    Dari pengalaman dan pengamatan saya, kebiasaan tersebut terus berlanjut karena kurangnya pengetahuan tentang kandungan vitamin, kalori, karbohidrat, lemak, dll dari setiap bahan makanan. Asal enak, tancaaaap…..

    Jadi…edukasi kesehatan untuk menekan frekuensi konsumsi nasi, sepertinya memang harus digalakkan loh….🙂

    saya setuju sekali dengan semua pendapat mbak dewi yang telah dikemukakan diatas, pengetahun tentang ilmu gizi didapat dari sekolah, dan bahan bacaan lain. Cuma sangat disayangkan untuk dapat membeli nasi saja tidak mampu😦 hiks bahkan harus makan nasi aking.

  7. Luthfi says:

    Emang suseh ya di Karlshure nyari beras? Aku kalo dsini masi sering makan nasi. Walopun kadang2 nasinya keras kek makan batu. heheheee…
    ABis dari kocik ampe besar dijejalin nasi muluu si..

    boss luthfi, di KA beras banyak… 5 kilo dapet tuh 5 euro ditoko asia tersedia berasnya. saya juga suka makan nasi cuma gak harus 3 kali sehari, karena nasi disini MAHAL. Bagusnya sih di ragamkan, kalo dindo mungkin nasi murah? apa mahal jadi orang makan nasi aking?

  8. Santi says:

    Iya ya? Kok bisa nasi mulu ya?
    Kalo kebiasaan saya tuh sukanya nge-gadoin lauk. Itu pun pasti kena omel sama Ibu, katanya “harus” pake nasi kalo mau makan. Padahal sih kadar kenyang orang kan beda2.

    iyalah namany ajuga mkan harus ada karbohidratnya, kalo cuma lauk bakal lemes badan, you know lah….

  9. edratna says:

    Saya membiasakan anak-anak sejak kecil bisa makan apa saja, bisa nasi, roti, mie dan lain-lain.

    Pemilihan beras mempunyai sejarah yang panjang, dan kemungkinan paling murah, tentunya setelah singkong, sagu, jagung dll. Kalau diganti roti bagaimana? Roti diolah dari gandum, demikian juga mie…dan di Indonesia masih impor….kalau digantinya jagung dan sagu mungkin bisa lebih murah dan tidak terlalu menjadi ketergantungan.

    Memang perlu dipikirkan agar tak tergantung dari beras….tapi kalau tingkat menengah, makannya sudah bervariasi (yang sudah usia senja bahkan cuma makan sayur dan buah, serta makanan yang di rebus)….

    iya donk tante harus demokratis.. anak2 diberi kebebasan untuk makan apa saja. Siapa sangka tante tempe yang kita makan sehari2 sebagian juga import mahal ketika kedelenya mahal tempenya juga jadi mahal.
    Benar tante untuk masyarakan menengah menunya pasti bervariasi karena disesuaikan dengan penghasilan dan gaya hidup keluarga ybs.

  10. mybreakfast says:

    Ini tentang kebiasaan, stomach memory bilang kalau belum makan nasi belum kenyang. Dengan latihan dan sedikit keterpaksaan sebenarnya bisa diubah.

    Ini tentang pembelajaran dan keberanian mengubah pola sehari-hari, pendidikan mengenai gizi dan komposisi makanan yang baik.

    Ini tentang pekerjaan rumah banyak orang.

    It’s a nice blog.

    yup setuju, pengetahuan ttg gizi dan gaya hidup sehat.

  11. Agoy says:

    Banyak lauk di Indonesia yang di-create ngepasin sebagai temannya nasi. Gawatnya saking pasnya, kadang lauk dan sambalnya cuma sedikit tapi nasinya nambah terus😀
    ini lucu banget nich, kalo diindo memang banyakan nasinya, malah nambah, ketimbang lauknya. Kalo orang disini makan lauk contoh ayam, ya setengan ekor, kalo diindo udah dada dibagi dua lagi, bahkan cekernya juga diembat.

    Memang benar usaha memperkenalkan makanan alternatif selain nasi harus digalakkan, usaha memperkenalkan kandungan gizi asupan perlu ditingkatkan, supaya masyarakat umum tidak semata-mata berpatokan kalau sudah kenyang (dibaca memakan karbohidrat yang banyak) sudah cukup. Susahnya untuk sekedar beli nasi, atau singkong masyarakat kita sudah nggak sanggup lagi. Susah. Jika kondisinya begini terus, secara alami orang-orang akan mencari bahan makanan alternatif yang lebih terjangkau. Tapi jika pemerintah lengah dan tidak melakukan kontrol, secara alami bahan pangan alternatif akan naik harganya mengikuti prinsip ekonomi. Ternyata ini bukan persoalan sederhana.
    Masyarakat sudah terlena pada nasi, sehingga ketika tidak lagi mampu membeli beras apa pun dilakukan untuk sekedar beli beras. Mau nanam singkong tidak punya lahan, hidup makin sulit, pemerintah sepertinya membunuh rakyat secara perlahan.

  12. Dimas says:

    mas, daku pernah kok seminggu penuh makan lotek *kayak gado-gado tapi pedes* selama seminggu, masi tetep bisa idup, hihi….

    salam!🙂

    hebat donk, makan gado2nya pake nasi yach ? heuheuehuehuehueueeuh😀

  13. rnazahra says:

    Di madura bukan jagung mas, makannya tetep nasi, tapi nasinya di campur jagung gitu jadi nasi jagung namanya hehe… soalnya aq pernah makan yg kaya gitu…
    tapi aq bukan orang madura lho…:mrgreen:
    Hihi… kaya’nya gak ada yang tanya’ ya.. hehe…
    Katanya tadi bukan jagung, kok disebut lagi nasi dicampur jagung, ya pokokny amasih ada jagung2nya lah…. emang gak ada yang namya :LOL:

    Nasi di ganti roti dan susu ato yang lain??? Sepertinya nunggu Padi ndak bisa tumbuh lagi deh… ato jadi tanaman yang langkah… baru bisa ganti… Secara, Indonesia gitu lho….😉
    Bisa lah diindonesia timur saya yakin bsia ditanami gandum dan jagung sebab iklimnya kalo saya tidak salah cocok untuk tanaman tsb. Buktinya orang maluku dulu makannya sagu. Orang papua makan umbi2an. Cuma memang karena sebagian penduduk bermukim di p. jawa dan kebanyakan makan nasi sehinggga penanaman beras pun digalakkan.

  14. Saat kecil saya tidak suka makan nasi. Tapi sayang ORTU saya ga demokratis. Akhirnya saya dipaksa tuk menyukai nasi sepenih hati.
    Nah sekarang, lambung saya sudah terbiasa dengan takaran karbohidrat yang ada pada nasi. Jadi ketika siang atau malam ga makan nasi. Ada laporan ke otak saya bahwa saya belum makan. Tuh kan, gara2 ibuku.
    *hiks hiks*

    hahahahahah, lucu nich bos achoey, nasi emang uhuy….

  15. Yoenday says:

    malah seringnya orang Indonesia ngomong, “belom makan kalo belum ketemu NASI”. yang lainnya, (baca: kentang goreng, roti, mie instan, dll) cuma cemilan aja.. hehe. namanya juga di Indonesia ya.. (gitu deee)🙂

    jadi makanan utamanya emang nasi donk, gimana kalo belum makan indomie berarti belum kenyang😀

  16. elindasari says:

    Hehehe…Mas Ario…. kulasannya kali ini bisa dijadikan alternatif, tapi makanan alternatifnya itu harus tetap dikalkulasi biayanya Mas, karena di Indo sekarang apa2 serba mahal (just info !) hehehe…🙂

    Selamat beraktivitas !
    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

    ya begitulah indonesia, apa2 jadi makin mahal, karena selalu bergantung kepada orang lain… pokoknya kalo bukan produk impor gak mau make, kalo bukan impor gak keren dsb.

  17. itikkecil says:

    kayaknya soal kebiasaan aja deh.

    yoi setuju aku…. kebiasaan bisa diubah kok.

  18. Arif Budiman says:

    Kata orang Jawa: Kalau tidak makan nasi ya bisa dibilang tidak makan… Hehehe, mungkin sudah ketergantungan orang dari subras Melayu kali ya, soalnya yang melimpah dan paling mudah dibiakkan di tanah Melayu (dulu kala) adalah beras…
    Dan, konklusinya, sangat berat mengubah kebiasaan makan beras masyarakat Melayu… Kecuali dengan mengubah pola pikirnya bahwa sekarang beras sudah semakin langka…

    memang beras makin langka orang makin banyak, lalu?? ada ide gak?

  19. kucingkeren says:

    (Wajar saja jika kebutuhan beras nasional terus meningkat, kekurangan stok pangan diatasi dengan impor beras, karena awalnya masyarakat dipaksakan untuk makan beras, jadi masyarakat ini sudah freaks sama beras! )

    hmmm… saya kira buka gara-gara kita suka makan nasi kmdn indonesia kekurangan stock pangan. Buktinya, masih banyak yang kena busung lapar kok.. jawab yg benar : masih banyak yg menyimpan beras untuk keperluan pribadi, saat harga murah–kmdn dijual saat harga tinggi, shg org kecil tak mampu lagi beli beras… search aja di internet siapa yg nyimpen beras di gudang-gudang itu.
    Inget bos, orang indo makin banyak, lahan menanam padi semakin sempit orang indo memang suka makan nasi! ini fakta dan real stock pangan juga terbatas! gak percaya? kenapa impor? kalo cukup. Busung lapar karena harga pakan meroket melebihi kemampuan masyarakat, apa2 mahal pemasukan tetap, berarti inflasi bener gak? inflasi 15% kenaikan pendapatan 5 persen, gimana kalo yang pendapatannya gak menentu? sudah pasti orang menjadi miskin. Orang yg spekulasi itu memang banyak, cuma bukan oenyebab utama sehingga harga pakan meroket.

    siapa makan apa itu sepertinya tak perlu dipermasalahkan, everyone has personal taste.. biarlah org luar memaki, kita kan juga bisa, kenapa sih sarapan harus pake roti dan keju?… hehe..kok jadi serius ya..
    yup setuju! cuma kalo gak cerdik mensiasati apa jadinya 30 tahun mendatang? pengimpor besar beras sedunia! dan memang sekarang sudah terjadi. Roti enak kok apa lagi pake keju, maknyus trus disiram sele coklat.. buah… mantab!

    anyway, kembali ke beras, si Ammar Jr (my lovely cat) juga gak pernah saya biasakan makan nasi, tidak juga whiskas, cukup ikan segar saja. bukan apa2, pertama dia ga bisa nanak nasi sendiri, kalaupun bisa nanti kalau persediaan habis, masa harus nyuri di gudang Bul… ehhh… truss kedua, kenapa ga whiskas? kalau saya gak ada, siapa nanti yg beliin whiskas ke supermarket. Kalau ikan segar kan bisa dapat di mana2, termasuk di kolam tetangga…hehehe. Tabik-🙂
    Hebat donk si ammar gak makan nasi, si empus almarhum (kucing saya) saya kasih apa aja mau, malah saya gunakan untuk membasmi tikus nying-nying dirumah. Siempus juga gak pernah makan makanan supermarket, mahal bo, Tuannya karang2 ke supermarket apa lagi makan ikan. Paling gak si empus gue suru berburu aja di temapt sampah heuheuehuehuehuehueheuheu😀 becanda bosss! santai aja yah.

  20. kayaknya repot juga kalau banyak orang yang mati di lumbung padi,:mrgreen: sebuah negeri agraris tetapi banyak yang ndak bisa makan nasi. kayaknya bener tuh mas ario, sudah saatnya ada diversifikasi pangan, agar nasi bukan menjadi satu2nya makanan pokok.

    Setuju kang, tanah air ini luas sekali loh masih banyak lahan kosong yg bisa ditanami, semuanya berpulan gkepada bangsa ini apa ingin maju atau sebaliknya.

  21. Poppy says:

    “Saya heran deh dengan orang indonesia, masa pagi makan nasi, siang nasi, malem makan nasi lagi, apa gak bosen!”

    hehehe….bener banget nih. kadang bosen sama nasi, makanya klo lg bosen makan nasi d rmh ya jajan diluar aja…baso, mie ayam, siomay, pizza, batagor, dll biar ga bosen. Tapi jgn anggap jajanan yg saya sebutkan itu buat cemilan klo anda lagi diet ya ;p anggap itu sebagai menu pengganti nasi :))

    yoi apa lagi itu yg barusan disebut, jajanan juga pengganti nasih loh, somay dari tepung, miayam juga pizza apa lagi asik bin enak.

  22. adhy says:

    menyediakan jasa perpajakan,pembukuan
    hub adhy purnama 081584995607.harga nego

  23. […] Source: resibismo.wordpress.com/2008/03/25/kenapa-sih-harus-makan-berasnasi/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: