Home »

bangga berbahasa

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

nyang abis nyahi

  • 83,491 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

Pada akhir-akhir ini saya jarang sekali bertemu seseorang secara langsung yang baik dan benar dalam ber-bahasa (baca: bahasa indonesia), mungkin bisa dihitung dengan jari walaupun sebenarnya berbahasa yang baik dan benar itu tidaklah sulit, hanya kadang orang lebih suka menggunakan bahasa tidak resmi (baca: gaul), bahkan saat ini sangat trendi dikalangan anak muda, bahasa di campur aduk dengan kosa kata asing, sehinga kelihatan gaul, keren dan moderen, sedihnya bahkan bahasa tidak resmi tersebut telah digunakan dalam forum-forum resmi😦. Makin rusaklah keaslian bahasa nasional kita ini.

Saya sendiri dilahirkan oleh sebuah keluarga jawa, sehingga bahasa ibu saya adalah basa jawa. Namun dalam praktiknya kemampuan bahasa jawa saya tidaklah baik karena saya dibesarkan dilingkungan betawi. Sebagai jalan tengah dalam berkomunikasi akhirnya saya pun lebih suka menggunakan bahasa sebagai percakapan sehari-hari, baik dirumah maupun disekolah, sedang di sekitar lingkungan bermain saya cukup banyak menggunakan dialek betawi. Setelah melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi saya mempelajari beberapa bahasa asing, bahasa inggris adalah bahasa asing kedua saya, setelah bahasa arab yang saya telah pelajari diwaktu kanak-kanak. Kemudian saya mencoba peruntungan😀 dengan mempelajari bahasa perancis, dan gagal, sekarang tidak tersisa sedikit kosa kata dalam bahasa tersebut. Sayapun mencoba mengulang kembali pelajaran bahasa arab dengan mengikuti kursus bahasa arab, 2 tahun saya mendalaminya, namun dikarenakan naik turunnya semangat, akhirnya program tersebut tidak pernah saya ikuti sampai selesai, sempat sedih dan menyesal tetapi sudahlah semua sudah berlalu. Sebenarnya sampai saat ini saya belum tahu apakan saya punya bakat berbahasa asing, karena sekarang saya sedang belajar bahasa jerman, lebih lagi sampai bisa tinggal dinegara asli dimana bahasa tersebut diucapkan, tentunya sangat membantu kelancaran belajar bahasa tersebut. Dari berbagai macam bahasa telah pelajari dalam bertuturkata seringkali saya mencampuradukkan segala kosa kata yang ada, dari bahasa, bahasa inggris, arab, jerman, ditambah bahasa betawi dan gaul semuanya jadi satu, sehingga saya bisa dikategorikan warga negara yang kurang baik dalam berbahasa😀.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut saya dapat sedikit menyimpulkan bahwa, alangkah baiknya jika kita sebagai orang indonesia sudah sepatutnya bangga berbahasa. Bahasa yang telah kita pelajari semenjak bangku sekolah dasar hingga pendidikan lanjut tentunya menjadi modal kita untuk dapat berbahasa dengan baik dan benar. Berbahasa yang baik dan benar menunjukkan kearifan seseorang, bukti bahwa ia seorang warga negara yang paham dan menghargai bangsanya. Berbahasa baik dan benar merupakan salah satu bukti kecintaan kita pada tanah air.


28 Comments

  1. Arif Budiman says:

    Iya… Dan, tahu tidak, kalau hampir separuh lebih bahasa di dunia berada di ambang kepunahan karena tidak mempunyai penutur? Dan separuh dari bahasa yang hampit punah itu ada di Indonesia???
    Jadi, galakkan bahasa ibu Anda masing-masing, supaya selamat dari kepunahan… Tetap semangat…:mrgreen:
    Arif Budiman

    Memang saya baca juga begitu, bahasa indonesia lebih banyak digunakan oleh generasi muda sekarang, apa lagi mereka yang merantau ke kota2 besar, lalu beranak pinak dan keturunannya semakin sulit memakai bahasa ibu mereka.

  2. Yoga says:

    Pertamax boss??

    kedua nich….

  3. Yoga says:

    Aku jadi semangat berbahasa baku, biarpun kalau dipakai dalam pergaulan terasa kaku dan bikin aku disangka “geek”… anyway who cares! Lho katanya Bahasa Baku kok dicampur English?😀

    iya, itu lebih baik, cuma harus hati2 dalam penggunaannya biar tidak disindir kawan. Memang jaman sekarang sulit sekali menemukan orang yang fasih berbahasa secara baik dan benar, orang yg baik dalam bertutur kata salah satunya presiden SBY.

  4. Koko says:

    Ya, tapi harus juga diingat bahwa bahasa itu berkembang..contoh jelas bahasa Inggris di Merriam Dictionary mencantumkan kata w00t dan facebook sebagai kata dasar. Maka kenapa tidak memasukkan kata-kata bahasa inggris yang memang umum dipakai sebagai kata serapan? Dulu di SD diajarkan tentang banyak kata serapan. Bukannya sudah saatnya menyerap kata baru?
    Apakah tidak bisa dilihat bahwa pencampuradukan bahasa asing dengan bahasa indonesia memperkaya bahasa indonesia?😀

    hanya pemikiran semata.

    Alangkah baiknya kata2 serapan bahasa asing tidak serta merta dimasukkan dalam kosa kata bahasa indonesia, sebab kita masih kaya akan bahasa daerah masing2 yang memiliki potensi untuk digali dan dikembangkan serta dimasukkan ke tutur kata bahasa indoneisa.

    Yang saya tahu justru bahasa daerah yang memperkaya bahasa nasional, bahaya sekali kalau kita terlalu sering menyerap bahasa asing, saya sendiri kadang terlambau banyak menyerap bahasa asing tidak mengerti bahasa dasar dalam indonesia, padahal ada kata dasarnya.

  5. wah, sepakat banget, mas ario. sebagai bahasa nasional dan sekaligus juga bahasa resmi, bahasa indonesia idealnya selalu menjadi bagian jatidiri bangsa di mana pun berada. bahasa indonesia fleksibel juga kok. pengertian idiom “marilah berbahasa indonesia yang baik dan benar” itu artinya sesuai dengan konteks tuturnya. baik, artinya sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat kita bertutur, sedangkan benar mengandung arti sesuai dg kaidah yang belaku. *halah kok jadi sok tahu* nah, simpulannya, dalam situasi nonformal, kita tdk dilarang kok menggunakan bahasa gaul supaya lebih interaktif dan komunikatif dg mitra tutur. yang repot kalau bahasa gaul digunakan dalam situasi formal. nah, itu berarti tdk lagi berbahasa indonesia dg baik dan benar.

    Sesuai dengan situasi dan kondisi, itu kata yang saya cari2 kang!! maksud saya begicu, cuma susah banget ya nemuin kata kyk begitu. Berbahasa sesuai situasi dan kondisi sudah selayaknya dilakukan sehingga tidak terjadi pencampur adukkan.

  6. chatoer says:

    Jangan lupakan bahasa ibu, karena kalo enggak dibiasakan akan tenggelam oleh jaman, contoh kecilnya, bahasa sunda saya, pas pasan, cm bisa dipake ke teman2 ajah, soalnya agakkasar

    iya saya juga ingin sekali berbahasa ibu, namun agak sulit karena saya dibesarkan dijakarta, saya mengerti apa yang mereka ucapkan. Kalaupun dipaksa untuk berbicara ya memang rada kasar jadinya. peace🙂

  7. Ratna says:

    Memang enak dan mengasyikkan ya kalau bisa mengerti dan bicara berbagai macam bahasa. Termasuk bahasa binatang seperti Nabi Sulaiman AS🙂

    Setuju dengan Pak Sawali. ngga apa-apa pakai bahasa gaul supaya lebih interaktif dan komunikatif dengan mitra tutur. Yang penting tahu tempat dimana kita bicara, dengan siapa, event apa…Tapi jangan sampai asimilasi itu membuat kita lupa dan memunahkan bahasa Indonesia baku.

    Kalau bahasa daerah, kayaknya saat ini kita harus lebih perhatian ya. Sebab sepertinya orang-orang (terutama orang-orang yang tinggal di perkotaan) sudah mulai ogah berbahasa daerah yang sebenarnya harus kita jaga kelestariannya.

    Wah kalau sudah bisa sampe tahap bahasa nabi, cekcekcekcke gawat kuping bisa meledak, karena burung2 kalo pagi mengoceh terus, semut juga bakal gosipin aku donk heheheheheh😀.

    Barusa saya mau bilang gitu, teh. Eh keburu kang sawali yang sebut, tapi setuju khan bahasa formal digunakan.

    Memang begitu keadaannya dikota2 besar, karena terdapat berbagaimacam suku orang berkomunikasi satu sama suku lain tidak dimungkinkan memakai bahasa daerahnya, itulah gunanya bahasa sebagai pemersatu.

  8. myviolet says:

    yupz…
    setuju…..
    sekarang banyak nak daerah yang malu menggunakan
    bahasa daerahnya ktika berada di rantau
    tapi dikomunitas roy, komunitas orang minang…
    selalu dibiasakan untuk mengguanakan bahasa minang dimanapun bertemunya..

    kalo sesama orang minang diperantauan sih gak masalah, cuma kalo ada orang minang jawa, dan sunda orang harus memakai bahasa indonesia.

  9. myviolet says:

    eh ketinggalan…
    ayo SELAMAT kan budaya bangsa dan daerah….
    SEMANGAT….!!!!

    mudah aja sih, berbahasalah bahasa yang baik dan benar. heheheheh🙂

  10. ven says:

    Tapi klo dlm pergaulan sehari2 pake bahasa baku, yg ada jd kaku bgt dong, gag terasa akrab gitu.
    setuju ama mba ratna yg penting bisa menempatkan, kapan bahasa baku sebaiknya dipake en kapan bahasa gaul perlu dikeluarin

    iya memang, saya tadiny amau nuli sgitu… cuma udah keburu ditangapi kang sawali dan teh ratna.

  11. edratna says:

    Saya termasuk gagal dalam mengajarkan “bahasa” ke anak-anak saya. Anak saya, walau bapak ibunya Jawa, tak mengerti bahasa Jawa. Kalau yang sulung sempat kuliah di UGM jadi masih bisa memahami bahasa Jawa. Yang bungsu malah nggak ngerti, setelah kuliah di ITB, sering dikerjai temen2nya, karena dia nggak ngerti bahasa Jawa maupun Sunda, yang merupakan bahasa sehari-hari di lingkungan ITB.

    Tapi keduanya memahami bahasa Inggris lebih baik dibanding ibunya.
    Saya sendiri ayah guru bahasa, tapi saya sendiri rasanya tak terlalu mampu dibidang tata bahasa Indonesia, yang nyantol malah sastranya.

    Seperti yang saya tulis diatas, tante. Lingkungan sekitar mempengaruhi bahasa dan kebiasaan anak2, walaupun dirumah menggunakan bahasa jawa, kalau ortu tidak benar2 memaksakan untuk berbahasa ibu dirumah maka anak akan terbawa lingkungan sekitar.

    Kalu paham bahasa inggris sangat baik jika hidup di LN (UK, USA) namun jika akan hidup di daerah (priangan dan jawa) akan menemui banyak kesulitan.

  12. yoenday says:

    Kalau saya pikir Indonesia ini begitu luas dan indah beragam bahasa yang ada seperti warna-warna di pelangi, saya akan ajari anak-anak saya berbagai bahasa agar dia mengerti dia hidup di dunia yang penuh warna-warni

    waw hebat donk… hidup dengan dunia penuh pelangi yang bercorak dan beraneka ragam, sungguh indah ya tanah air kita.

  13. itikkecil says:

    sayangnya, bahasa gaul itu juga masuk ke tulisan. jujur saja, saya paling males baca tulisan yang tulisannya dibuat model SMS sekarang. bikin pusing.

    males banget kalo bahasa gaul masuk tulisan, apa lagi kalo terlalu gaul.. pengin nabok rasanya.:(

  14. theloebizz says:

    jd inget guru sy terdahulu bu ratih sanggarwati yg menekankan pentingnya berbahasa indonesia yg baik dan benar, bahkan mengancam tdk akan membalas sms bila tdk menggunakan EYD yg benar…

    klo gitu komen ini jg ga bakalan ditanggapin yak hehehe:mrgreen:

    hampir aza gw apus, cm gw biarin deh sayang dapet komen satu susah bgt, jadi kudu gw simpen. wakakakakka🙂

  15. realylife says:

    bener banget mas , saya setuju , kita harus bangga dengan bahasa kita sendiri
    sekarang saya lagi belajar bahasa Aceh, doakan saya ya mas , semoga bisa dengan cepat berbicara dalam bahasa Aceh , ya setidaknya sebagai bentuk menghargai kebudayaan negeri sendiri

    iya donk, begitu…. saya juga akan berupaya berbahasa jawa dirumah kelak ketika nanti saya berkeluarga, agar anak2 tidak lupa akan bahasa ibunya.

  16. memang benar sobat
    sudah selayaknya kita mencintai bahasa sendiri
    agar besar di dunia

    bro, saya malah memimpikan bahasa indonesia dijadikan minimal bahasanya PBB, soalnya yang make khan 250 juta orang lebih.

  17. alhamdulillah, karena dilahirkan dari 2 budaya dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda2, bahasa indonesia saya bisa tergolong fasih… *narsis.com😆 *
    bahasa ibu? okeh.. bahasa bapak? sekarang jadi tambah medhog.. bahasa lain? tinggal logat doang…
    bahasa indonesia? yuuux….😉

    Yoi gitu donk, harus yakin kita bisa berbahasa baik dan benar.

    Keren donk bisa beberapa bahasa, ibu bapak bahasa apa lagi? bahasa tubuh juga bisa kamu yach🙂 wakakakakka

  18. franya says:

    yuk balik ke sd lagi.. kita belajar bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai dengan ejaan baru dan jangan lupa kamusnya di baca dan di hafal juga di mengerti…

    malah saya sendiri gak punya kamus bahasa besar indonesia, padahal itu sangat penting. wah ketahuan dech….

  19. Ternyata berbahasa Indonesia yang baik itu sulit sekali apalagi dicampur dengan logat dari berbagai daerah…bisa lain bunyinya lho…
    Terima kasih selalu inget dengan aku…sekarang aku punya blog yang lain… datang ya…
    Listiana Advokat

  20. Zulmasri says:

    Salah satu alasan saya masuk jurusan Sastra Indonesia, dan sekarang mengajar Bahasa Indonesia berawal dari kesukaan saya terhadap Bahasa Indonesia, dan saya pede menggunakannya

  21. Zulmasri says:

    Salah satu alasan saya masuk jurusan Sastra Indonesia, dan sekarang mengajar Bahasa Indonesia berawal dari kesukaan saya terhadap Bahasa Indonesia, dan saya pede menggunakannya.

  22. hanggadamai says:

    iya nih mas bismo skarang malah mulai beredar bahasa indoenglish… jadi sedih😦

  23. kucingkeren says:

    jadi ingat satu email yg masuk di email kantor : petikan wawancara dg Chinta Laura

    Wartawan: “Terus Cinta ada rencana nyanyi gak?”
    CL: “Akyu penghen jadi penyanyih seperci Mulan. Cinta kemaryin syudah
    nyanyi di dephan Ahmad Dhani, he had listen my voice. Katanya Ahmad
    Dhani, Cinta tinggal naik panggung aja.”
    Wartawan:”Boleh dong penonton liat Cinta nyanyi… Siap kan ?”
    CL: “Boleh… Dengerin ya…” *tarik nafas* ” So why or a jump you…
    Jump you go down tell a…. So why or a cat em you… Cat em you
    peace and ga why gell a…”
    Wartawan: *bingung* “Lagu apa itu Cinta?!”
    CL: “Suwe ora jamu… Bagus kan ?” *tersenyum sumringah

    😦

  24. Ria says:

    hehehehe….iya juga ya mas…jadi malu nyh karena kadang2 aku juga suka keceplosan…kalo bahasa indonesia di jerman2in gmn ya?

  25. sandy eggi says:

    saya lebih suka berbahasa indonesia daripada berbahasa jawa…. lama2 bahasa indonesia sendiri punah karena bahasa jawa … :))

  26. elindasari says:

    Wow… kupasan Mas Ario kali ini menarik sekali, tentang “bahasa”.

    Kalau cerita saya lain lagi Mas Ario,

    Karena saya sekarang tinggal di Jakarta, mau tidak mau, saya harus belajar dan bhs yang saya pakai bhs macam2, krn pddk di Jkt beragam, meski terkadang masih terdengar lucu & kaku utk sebagian orang yang mendengarnya (maklum dari ibu saya masih ada campuran Melayu & sedikit Arab, jadi kadang logat, dllnya masih ada).

    Kalau di kantor, malah macam2 juga, tergantung situasi dan lawan bicaranya.

    Jika dirumah dgn anak & suami, macam2 juga. Kadang pakai B.Jawa, Sunda, Betawi, Melayu, B. Inggis, kadang sedikit2 Arab. Nah ini sangat tergantung dengan siapa lawan bicaranya, hehehe…

    Tapi yang jelas saya suka sekali keragaman berbhs. Berarti kita negara yang kayakan ???

    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

  27. ayaelectro says:

    sejujurnya saya lebih sering memakai bahasa gaul dibandingkan bahasa indonesia yang baik dan benar. hehe. sejauh ini saya sudah belajar tiga bahasa, bahasa indonesia, inggris, dan sunda(waktu sd dan sudah lupa sama sekali). hyaha! saya sedang merencanakan belajar bahasa mandarin dan arab. smoga terealisasikan. Insya Allah study saya di ILP tahun depan sudah selesai, kalau tanpa repeat(hehe). Kalau tidak ada hambatan akan mengambil kelas TOEFL.

  28. I would like to thank you for the efforts you have put in writing this blog. I am hoping the same high-grade site post from you in the upcoming as well. In fact your creative writing skills has inspired me to get my own web site now. Really the blogging is spreading its wings fast. Your write up is a great example of it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: