Home »

antara ya dan tidak

November 2008
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

nyang abis nyahi

  • 83,491 hits

anti kelaparan


Banner by Goenawan Lee

jurnal

nyang abis mampir

Penting untuk diketahui kebiasaan dan kultur masing2 bangsa. Di tanah air budaya untuk mengatakan tidak, rasanya jarang diungkapkan secara langsung, biasanya digunakan bahasa lain guna menguatkan keputusan yang akan diambil, bisa dengan dilakukan mimik, gaya bicara, olah tubuh dan sebagainya, tentunya ini sah2 saja jika memang begitu kaidah masyarakat setempat. Mengapa ini perlu dilakukan? ya budaya timur sangat menganut tepa selira, bagaimana sebuah keputusan dijatuhkan tanpa menyinggung perasaan orang lain. Sehingga jika kita mendapat sebuah keputusan antara ya dan tidak, bisa disimpulkan hasilnya adalah tidak.

Lain halnya jika kita berada di belahan dunia lain khususnya eropa. Mereka akan berkata ya, jika iya, dan tidak jika tidak. Bahkan tanpa memberi alasan dibalik keputusan itu semua. Dan orang pun tidak akan merasa tersinggung dengan keputusan tersebut. Jadi tidak ada basa basi apa lagi muter2 dengan berbagai argumentasi untuk menghasilkan sebuah. Malah jika kita mendapat sebuah pertanyaan atau pilihan dan kita  tidak menjawab langsung atau justru menjawab dengan berbagai macam argumen yang kadang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan tsb, mereka justu akan merasa dilecehkan. Pengalaman penulis seperti itu halnya.

Jadi bila kita berada dalam lingkungan atau grup yang homogen, kenali baik2 kultur dan sifat lingkungan tersebut, jangan sampai karena kekurangpahaman kita tentang kultur sebuah komunitas, semuanya jadi berantakan.


2 Comments

  1. Ria says:

    antara ya dan tidak…akhirnya dirimu memutuskan kembali kedunia percaturan blog😀 apa kabar mas dirimu? jng2 sudah balik ke indonesia?

  2. tridjoko says:

    Ibu saya dulu di Madiun adalah Kepala Sekolah SD. Ibu punya seorang pesuruh (disebut juga “tukang kebon” alias “Pak Bon”). Setiap kali Ibu menyuruhnya, jawabannya adalah “Inggih Bu” (“Ya Bu”), tapi apakah ia selalu menjalankan yang disuruh Ibu saya ?
    Kadang ya, kadang tidak…
    Jadi di tanah Jawa pada umumnya, “Ya” bisa berarti “Ya” atau “Tidak” dan orang tidak merasa bersalah mengatakan ya tapi tidak melaksanakan perintah…
    Itu disebut “Nggih tapi ora kepanggih” (Ya tapi tidak dilaksanakan)..
    Weird ? Ntar dulu. Di Jawa “Besok” juga berarti “Besok pagi”, “Lusa”, “Hari setelah lusa”, “Tahun depan” dsb..
    Jadi hati-hati kalau sedang nagih utang dan dijawab “Besok deh”… !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: